Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan dalam Memahami Konsep Bid'ah

Syiahindonesia.com - Dalam ajaran Islam, penjagaan terhadap kemurnian akidah dan ibadah dari segala bentuk penambahan atau pengurangan merupakan prinsip utama. Rasulullah SAW secara tegas memperingatkan bahaya bid'ah (perkara baru yang diada-adakan dalam agama) melalui sabdanya yang mutawatir: "Setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah kesesatan." (HR. Muslim).

Namun, dalam tradisi teologi dan fikih Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), terjadi pergeseran dan kerancuan metodologis yang fatal dalam memahami serta menerapkan konsep bid'ah. Di satu sisi, mereka kerap menuduh amalan-amalan sunnah yang shahih sebagai bid'ah. Di sisi lain, mereka justru menciptakan ritual-ritual baru yang tidak pernah disyariatkan oleh Rasulullah SAW maupun para Imam Ahlul Bait sendiri.

1. Standar Ganda dalam Mengidentifikasi Bid'ah

Penyimpangan mendasar Syiah dalam memandang bid'ah terletak pada tolok ukur yang mereka gunakan. Bukannya menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah otentik sebagai filter utama, mereka menggunakan sikap penerimaan atau penolakan terhadap Khalifah sebelum Sayyidina Ali sebagai tolok ukur kebenaran.

Contoh Tuduhan Bid'ah terhadap Amalan Sunnah:

  • Shalat Tarawih Berjamaah: Syiah menuduh amalan shalat Tarawih secara berjamaah di masjid sebagai bid'ah yang diciptakan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Padahal, Rasulullah SAW sendiri pernah memimpin shalat Tarawih secara berjamaah beberapa malam di masjid sebelum beliau menghentikannya semata-mata karena khawatir amalan tersebut diwajibkan atas umatnya.

  • Mengusap Sepatu (Al-Mashu 'alal Khuffain) dan Menyedekapkan Tangan: Amalan-amalan fikih yang dituntunkan dalam hadis-hadis shahih acap kali ditolak dan dituduh sebagai penyimpangan hanya karena amalan tersebut diamalkan oleh mayoritas sahabat Nabi.

2. Legitimasi dan Kebiasaan Menciptakan Ibadah Baru

Di saat kelompok Syiah begitu kritis terhadap amalan Ahlus Sunnah, mereka justru melahirkan dan melestarikan berbagai amalan serta ritual baru yang sama sekali tidak memiliki pijakan dari Al-Qur'an maupun riwayat yang shahih.

Amalan Baru yang Diberi Stempel Agama:

  • Ritual Pelukaan Diri (Tatbir dan Latom): Penyiksaan dan pelukaan diri dengan rantai atau pedang pada hari Asyura (10 Muharram) atas nama duka cita Karbala merupakan amalan yang jelas-jelas bertentangan dengan larangan Rasulullah SAW terkait meratapi kematian secara berlebihan (Niyahah).

  • Penambahan Lafazh Azan: Menambahkan kalimat "Asyhadu anna 'Aliyan Waliyullah" (Aku bersaksi bahwa Ali adalah kekasih Allah) dalam adzan dan iqamah. Penambahan kalimat ini diakui oleh para ulama Syiah klasik sendiri sebagai hal yang tidak ada pada masa Nabi SAW, namun tetap dilegitimasi dalam praktik harian mereka.

  • Pengagungan Tanah Karbala (Turbah): Mewajibkan atau mengutamakan sujud di atas lempengan tanah Karbala (Turbah) dengan mengklaim adanya keutamaan mistis di dalamnya, sebuah pengkhususan ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW.

3. Otomasi Hak Otoritas Imam untuk Mengubah Hukum

Penyebab utama suburnya amalan bid'ah dalam doktrin Syiah adalah keyakinan mereka terhadap otoritas para Imam yang dianggap maksum (Ismah). Dalam teologi Syiah, perkataan, perbuatan, dan penetapan para Imam berkedudukan setara dengan hukum yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

  • Penyetaraan Perkataan Imam dengan Wahyu: Karena menganggap Imam memiliki wewenang menetapkan syariat baru atau menghapus hukum (naskh), pengikut Syiah menerima berbagai amalan baru yang bersumber dari riwayat-riwayat palsu yang dinisbatkan kepada para Imam tanpa menguji keotentikan sanadnya.

  • Penciptaan Shalat dan Doa-Doa Khusus: Munculnya ratusan tata cara shalat sunnah rekaan dan doa-doa bertema khusus yang tidak dikenal pada generasi awal Islam, namun diwajibkan secara kultural dalam kitab-kitab amalan Syiah (seperti Mafatih al-Jinan).

Kesimpulan

Konsep bid'ah dalam pandangan Syiah telah mengalami distorsi parah. Tolok ukur kebenaran tidak lagi disandarkan pada keotentikan petunjuk Rasulullah SAW, melainkan pada sentimen doktrinal dan fanatisme sektarian.

Bagi umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah), kemurnian syariat adalah harga mati. Mencegah bid'ah berarti menjaga Islam agar tetap murni sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada para Sahabatnya—tanpa adanya penambahan ritual ekstrim maupun pengurangan terhadap ketetapan agama yang telah sempurna.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: