Syiahindonesia.com - Di dalam panggung sejarah Islam, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA memegang posisi yang amat agung. Beliau adalah manusia terbaik setelah para Nabi dan Rasul, sahabat paling setia yang menemani Nabi SAW di dalam Gua Tsur saat hijrah, serta Khalifah Rasyid pertama yang menyelamatkan umat dari gelombang kemurtadan pasca-wafatnya Rasulullah SAW. Kemuliaan sifat, ketulusan pengorbanan harta, dan keteguhan iman Abu Bakar telah diakui secara mutlak melalui konsensus (ijma') umat Islam serta diabadikan langsung dalam teks-teks Al-Qur'an dan Hadis yang mutawatir.
Namun, sekte Syi'ah Rafidhah mengambil sikap yang berbalik 180 derajat. Dalam bangunan teologi mereka, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA justru diposisikan sebagai musuh utama nomor satu. Mengaburkan seluruh jasa besar beliau, para mullah Syiah membangun doktrin kebencian, pelaknatan, hingga pengafiran terhadap sang Shiddiq. Sikap ekstrem ini bukan sekadar kekeliruan interpretasi politik, melainkan sebuah kesalahan fatal yang menabrak dalil-dalil syariat dan akal sehat. Artikel ini akan membedah secara ilmiah letak kesesatan Syiah dalam menyikapi Khalifah Abu Bakar.
1. Mendustakan Kesaksian Al-Qur'an tentang Sahabat di Dalam Gua
Sikap Syiah yang mengafirkan dan mencaci Abu Bakar RA merupakan bentuk pembangkangan langsung terhadap teks Al-Qur'an. Allah SWT secara khusus merekam kesetiaan Abu Bakar dan menyebutnya sebagai "sahabat" Nabi SAW dalam momen paling kritis sejarah Islam melalui Surah At-Taubah ayat 40:
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللهَ مَعَنَا
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrik Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: 'Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita'..."
Dalam ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa Allah beserta Nabi SAW dan Abu Bakar (InnaLlaha ma'ana). Ketika Syiah mengeklaim Abu Bakar adalah seorang munafik atau kafir yang merampas hak kekuasaan, mereka secara tidak langsung menuduh Allah SWT telah keliru dalam memilihkan sahabat bagi nabi-Nya dan keliru dalam memberikan jaminan ketenangan-Nya. Sungguh, menolak kesaksian langit ini adalah sebuah kesesatan akidah yang sangat nyata.
2. Mengarang Mitos "Kudeta" dan Manipulasi Peristiwa Saqifah
Propaganda Syiah selalu menarasikan bahwa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah di Saqifah Bani Sa'idah adalah sebuah konspirasi gelap dan ilegal yang merampas hak Ali bin Abi Thalib RA. Mereka mengaburkan fakta objektif bahwa Abu Bakar dipilih secara mufakat oleh kaum Muhajirin dan Anshar karena kapasitas, senioritas, dan perintah implisit dari Nabi SAW sendiri.
Sebelum wafat, ketika Rasulullah SAW sedang sakit keras, beliau menunjuk Abu Bakar secara eksklusif untuk menggantikan posisi beliau sebagai imam salat berjamaah. Para sahabat menangkap sinyal sosiologis ini dengan sangat cerdas: jika Rasulullah SAW rida Abu Bakar memimpin urusan agama mereka (salat), maka tentu mereka lebih rida Abu Bakar memimpin urusan dunia mereka (pemerintahan).
Ali bin Abi Thalib RA sendiri pada akhirnya membaiat Abu Bakar secara sukarela dan bersaksi atas keutamaan beliau, sebuah fakta sejarah yang sengaja disensor oleh para mullah demi memelihara narasi konflik di benak pengikutnya.
3. Inkonsistensi Doktrin Syiah: Sikap Ali bin Abi Thalib yang Harmonis
Sikap bermusuhan yang ditunjukkan oleh kaum Syiah terhadap Abu Bakar sangat kontradiktif dengan rekam jejak hubungan antara Ali bin Abi Thalib RA dengan Abu Bakar RA. Jika benar Abu Bakar adalah musuh yang zalim sebagaimana klaim Syiah, tentu Ali bin Abi Thalib tidak akan sudi melakukan hal-hal berikut:
Menamai Anak dengan Nama Abu Bakar: Sebagai bentuk penghormatan dan cinta yang mendalam, Ali bin Abi Thalib menamai salah satu anak kandungnya dengan nama Abu Bakar bin Ali. Anak Ali yang bernama Abu Bakar ini bahkan ikut gugur syahid di Karbala bersama Husain bin Ali.
Menikah dengan Janda Abu Bakar: Setelah Abu Bakar wafat, Ali bin Abi Thalib menikahi janda Abu Bakar yang bernama Asma binti Umais. Ali kemudian mengasuh dan mendidik anak kandung Abu Bakar yang masih kecil, yaitu Muhammad bin Abu Bakar, di dalam rumahnya sendiri hingga tumbuh dewasa.
Realita historis yang penuh kasih sayang dan ikatan kekeluargaan ini menghancurkan total seluruh bangunan dongeng kebencian yang diproduksi oleh sekte Syiah. Bagaimana mungkin para pengikut Syiah zaman sekarang berani melaknat Abu Bakar, sementara Imam mereka (Ali bin Abi Thalib) justru mengabadikan nama Abu Bakar pada nama anaknya sendiri?
4. Manipulasi Kasus "Tanah Fadak" untuk Membunuh Karakter
Untuk merusak citra kesalehan Abu Bakar, misionaris Syiah sering menggoreng isu perselisihan mengenai Tanah Fadak antara Fatimah az-Zahra dengan Abu Bakar. Syiah menuduh Abu Bakar berbuat zalim karena menolak memberikan tanah tersebut sebagai harta warisan kepada Fatimah.
Padahal, Abu Bakar menolak memberikan tanah tersebut bukan karena sentimen pribadi, melainkan karena kepatuhan mutlak beliau pada sabda Rasulullah SAW yang berbunyi:
لَا نُورَثُ، مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ
"Kami (para nabi) tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah sedekah." (HR. Bukhari)
Sebagai kepala negara yang jujur, Abu Bakar wajib mengelola tanah tersebut sebagai aset publik (baitul mal) sesuai amanah Nabi, bukan sebagai harta pribadi. Ali bin Abi Thalib sendiri, ketika menjabat sebagai khalifah di kemudian hari, tetap mempertahankan kebijakan Abu Bakar ini dan tidak mengubah status tanah Fadak menjadi harta warisan keluarganya. Hal ini membuktikan bahwa tindakan Abu Bakar adalah murni penegakan syariat yang disetujui oleh Ali.
Kesimpulan
Kesalahan sekte Syiah dalam menyikapi Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA adalah hulu dari penyimpangan teologis mereka yang berujung pada radikalisme pemikiran. Demi melanggengkan doktrin Imamah buatan, mereka rela mendustakan ayat Al-Qur'an, mendistorsi keharmonisan sejarah Ahlul Bait, dan memelihara ritual pelaknatan terhadap manusia yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW setelah ketetapan langit.
Bagi umat Islam di Indonesia, membentengi akidah dari syubhat pengafiran Abu Bakar ini adalah hal yang krusial. Mengenal keutamaan Abu Bakar secara jernih melalui kacamata Ahlussunnah wal Jama'ah adalah kunci untuk menjaga orisinalitas Islam dan menolak setiap infiltrasi ideologi Rafidhah yang merusak persaudaraan umat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: