Breaking News
Loading...

Mengapa Ulama Sunni Tidak Mengakui Imamah Syiah?

Syiahindonesia.com - Dalam diskursus teologi Islam, perbedaan yang paling tajam dan mendasar antara Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni) dan Syiah bukanlah terletak pada masalah tata cara shalat atau perkara fikih lainnya. Titik pisah yang paling krusial berada pada konsep Imamah (kepemimpinan religius dan politik pasca-wafatnya Nabi).

Bagi sekte Syi'ah Imamiyyah Atsna 'Asyariyyah (Dua Belas Imam), Imamah bukan sekadar masalah wilayah politik, melainkan salah satu pilar utama akidah (Usuluddin) yang setara dengan kenabian. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam harus dipegang oleh 12 imam dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib yang ditunjuk langsung oleh Allah secara tekstual (Nash).

Para ulama Sunni dari zaman ke zaman secara konsensus (ijma') menolak mutlak konsep Imamah versi Syiah ini. Penolakan tersebut didasarkan pada argumen-argumen teologis dan historis yang sangat kuat. Berikut adalah alasan utamanya:

1. Konsep Imamah Syiah Menabrak Doktrin "Khatamun Nabiyyin"

Umat Islam sepakat bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah yang terakhir, dan setelah wafatnya beliau, wahyu langit telah terputus. Namun, para ulama Sunni melihat bahwa konsep Imamah yang dirumuskan oleh teolog Syiah pada hakikatnya adalah upaya "menghidupkan kembali" fungsi kenabian di bawah baju baru bernama Imam.

Di dalam kitab-kitab induk Syiah, para imam digambarkan memiliki karakteristik yang melampaui batas manusia biasa:

  • Ismah: Mereka diyakini maksum, yaitu suci dari segala dosa, lupa, dan kesalahan, persis seperti para Nabi.

  • Menerima Ilham/Wahyu: Para imam diklaim didatangi malaikat, menerima petunjuk gaib, bahkan memiliki kitab-kitab rahasia (seperti Mushaf Fatimah) yang tidak diketahui oleh umat Islam lainnya.

  • Otoritas Mutlak: Perkataan imam dinilai sebagai syariat baru yang wajib ditaati layaknya sabda Nabi.

Bagi ulama Sunni, memberikan atribut-atribut kenabian ini kepada manusia biasa setelah wafatnya Rasulullah SAW adalah bentuk penyimpangan akidah yang sangat berbahaya dan menodai kesempurnaan syariat Islam.

2. Ketiadaan Dalil yang Sharih (Jelas) dalam Al-Qur'an

Jika Imamah adalah rukun iman yang menentukan selamat atau tidaknya seseorang di akhirat (sebagaimana klaim Syiah), maka logikanya konsep ini harus dijelaskan secara gamblang di dalam Al-Qur'an, sebagaimana Al-Qur'an menjelaskan tentang tauhid, salat, zakat, dan hari kiamat.

Namun, kenyataannya:

  • Tidak ada satu pun ayat Al-Qur'an yang menyebutkan nama 12 imam Syiah secara eksplisit.

  • Tidak ada perintah tekstual yang mewajibkan umat Islam untuk mengimani Imamah sebagai pilar agama.

Untuk menyiasati kekosongan dalil ini, para mullah Syiah terpaksa menggunakan metode takwil (pencocokan paksa) terhadap ayat-ayat umum. Sebagai contoh, kata "Pemimpin" atau "Cahaya" dalam Al-Qur'an selalu ditafsirkan secara sepihak sebagai "Imam Syiah." Ulama Sunni menolak metodologi tafsir yang serampangan ini karena tidak didukung oleh kaidah bahasa Arab yang lurus maupun penjelasan asli dari Rasulullah SAW.

3. Konsekuensi Pengafiran Terhadap Generasi Sahabat

Ini adalah alasan yang paling membuat para ulama Sunni berdiri teguh menolak Syiah. Doktrin Imamah mengharuskan pengikutnya untuk meyakini bahwa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA telah ditetapkan oleh Allah sejak awal.

Konsekuensi logis dari doktrin tersebut sangat mengerikan:

  • Abu Bakar, Umar, dan Utsman dituduh sebagai perampas kekuasaan yang zalim.

  • Mayoritas Sahabat Nabi yang ikut membaiat ketiga khalifah tersebut dicap telah murtad, berkhianat, dan kafir karena dianggap menentang perintah Allah.

Bagi ulama Sunni, menolak Imamah Syiah adalah bentuk pembelaan terhadap kehormatan para sahabat Nabi yang telah dipuji oleh Allah di dalam Al-Qur'an (seperti dalam QS. At-Taubah: 100). Sunni memandang para sahabat sebagai generasi terbaik yang mengorbankan harta dan jiwa demi tegaknya Islam, bukan kelompok pengkhianat sebagaimana yang digambarkan dalam narasi Syiah.

4. Perbedaan Paradigma: Masalah Ijtihadi vs Rukun Iman

Ahlussunnah wal Jama'ah bukan tidak mencintai Ali bin Abi Thalib RA atau keturunan Nabi (Ahlul Bait). Sebaliknya, ulama Sunni sangat menghormati posisi Ali RA sebagai salah satu dari Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.

Namun, Sunni meletakkan urusan kepemimpinan politik (Imamah/Khilafah) dalam ranah Furu'iyyah (cabang/ijtihad politik), bukan urusan akidah inti.

  • Menurut Sunni, Nabi SAW sengaja tidak menunjuk nama penggantinya secara tertulis agar umat Islam belajar bermusyawarah (Syura) sesuai tuntutan zaman.

  • Terpilihnya Abu Bakar, Umar, Utsman, baru kemudian Ali RA, adalah sah secara hukum Islam karena didasarkan pada kerelaan dan konsensus mayoritas kaum muslimin saat itu. Ali bin Abi Thalib sendiri pun pada akhirnya membaiat para khalifah sebelumnya dan hidup berdampingan secara damai.

Kesimpulan

Ulama Sunni tidak mengakui konsep Imamah Syiah karena konsep tersebut tidak memiliki fondasi ilmiah di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, merusak tatanan finalitas kenabian, serta dibangun di atas pondasi kebencian terhadap para sahabat Rasulullah SAW. Bagi Sunni, kepemimpinan umat adalah amanah duniawi yang diatur melalui musyawarah, sedangkan hubungan dengan Allah didasarkan pada ketakwaan individu, bukan pada pengultusan garis keturunan tertentu.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: