Syiahindonesia.com - Tauhid adalah inti dari seluruh risalah para nabi dan rasul. Ia adalah fondasi paling utama yang menentukan sah atau tidaknya iman seorang hamba di hadapan Allah SWT. Dalam Islam yang murni, Tauhid menuntut pemurnian ibadah, pengakuan mutlak atas hak prerogatif Allah dalam mengatur alam semesta, serta penetapan nama dan sifat Allah sesuai dengan apa yang tertuang dalam Al-Quran dan Sunnah tanpa adanya distorsi. Namun, jika kita membedah teologi Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas), kita akan menemukan kesalahan-kesalahan fatal yang meruntuhkan pilar-pilar Tauhid tersebut akibat pengkultusan ekstrem (ghuluw) terhadap para Imam mereka.
1. Syirik dalam Tauhid Rububiyyah (Mengatur Alam Semesta)
Tauhid Rububiyyah adalah keyakinan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Zat yang menciptakan, memiliki, dan mengatur alam semesta. Namun, Syiah menyimpangkan konsep ini dengan memberikan atribut-atribut Rububiyyah kepada 12 Imam mereka melalui doktrin Wilayah Takwiniyyah (kekuasaan terhadap alam semesta).
Dalam kitab-kitab otoritatif mereka seperti Al-Kafi dan Biharul Anwar, disebutkan bahwa para Imam mengatur perputaran bumi, mengendalikan tetesan hujan, dan mengetahui kapan ajal mereka menjemput. Tokoh Syiah, Ayatullah Khomeini, menegaskan dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyyah bahwa para Imam memiliki kedudukan yang menguasai setiap partikel di alam semesta ini. Meyakini ada makhluk yang ikut mengatur jalannya alam semesta adalah bentuk kesyirikan yang nyata dalam aspek Rububiyyah.
2. Cedera pada Tauhid Uluhiyyah (Pengabdian dan Doa)
Tauhid Uluhiyyah menuntut agar seluruh bentuk ibadah—khususnya doa, penyembelihan, nazar, dan istighatsah (memohon bantuan di kala sempit)—hanya ditujukan kepada Allah SWT semata. Syiah merusak pilar ini dengan menjadikan makam-makam para Imam sebagai pusat peribadatan yang menyaingi Masjidil Haram.
Praktik ibadah Syiah dipenuhi dengan seruan-seruan kepada selain Allah. Ungkapan seperti "Ya Ali Madad" (Wahai Ali tolonglah aku) atau "Ya Husain" dikumandangkan dalam ritual-ritual mereka sebagai bentuk permohonan hajat secara langsung kepada orang yang sudah wafat. Mereka memosisikan para Imam sebagai perantara (wasilah) mutlak antara hamba dan Pencipta, sebuah pola yang sangat mirip dengan alasan kaum musyrikin Quraisy zaman jahiliyah yang ditegur Allah dalam Al-Quran:
"... 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya'..." (QS. Az-Zumar: 3).
3. Penyimpangan Tauhid Asma' was Sifat (Nama dan Sifat Allah)
Dalam hal memahami nama dan sifat Allah, Syiah terjebak dalam dua ekstrem yang saling bertolak belakang:
Ta'thil (Menafikan Sifat Allah): Di satu sisi, mereka mengadopsi paham Mu'tazilah yang menolak sifat-sifat Allah (seperti mendengar, melihat, atau bersemayam di atas Arsy) dengan dalih rasionalitas, sehingga memosisikan Allah sebagai Zat yang abstrak dan tak bermakna.
Tasybih (Menyerupakan Allah dengan Makhluk): Di sisi lain, mereka justru menyematkan sifat-sifat khusus Allah kepada para Imam mereka. Sifat seperti Al-Alim (Maha Mengetahui segala yang ghaib) dipindahkan kepada para Imam yang mereka klaim mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi tanpa batas.
Allah SWT berfirman mengenai kesucian sifat-Nya:
"...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11).
4. Doktrin Bada': Menisbatkan Sifat Jahil (Bodoh) kepada Allah
Salah satu kesalahan paling fatal dan aneh dalam teologi Tauhid versi Syiah adalah doktrin Bada'. Doktrin ini menyatakan bahwa Allah bisa mengubah keputusan atau takdir-Nya karena baru mengetahui adanya maslahat atau fakta baru yang sebelumnya tidak Allah ketahui.
Umat Islam meyakini ilmu Allah meliputi segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang ghaib, yang lalu maupun yang akan datang, secara azali dan abadi. Menetapkan konsep Bada' sama saja dengan menuduh bahwa Allah mengalami proses dari tidak tahu menjadi tahu (jahil). Paham ini jelas merusak kesempurnaan sifat ilmu Allah SWT dan meruntuhkan fondasi Tauhid yang lurus.
5. Bahaya bagi Akidah Umat di Indonesia
Penyusupan paham Syiah yang merusak Tauhid ini sering kali masuk ke tengah masyarakat Indonesia secara samar. Mereka membungkus ritual-ritual yang mengandung unsur syirik dengan dalih "seni kebudayaan", "bacaan selawat", atau "ekspresi cinta murni kepada cucu Nabi".
Jika dibiarkan, dampaknya sangat mengerikan bagi kelangsungan iman umat Islam di tanah air:
Pengikisan Nilai Ikhlas: Fokus ketergantungan hati umat dialihkan dari Allah SWT kepada kuburan-kuburan dan tokoh-tokoh spiritual yang dikultuskan.
Kekacauan Epistemologi Ibadah: Umat digiring untuk merasa bahwa ibadah tidak akan diterima tanpa menyisipkan nama-nama Imam, yang secara sistematis merusak kemurnian kalimat syahadat.
Kesimpulan: Kembali pada Tauhid yang Murni
Berdasarkan analisis teologis di atas, jelaslah bahwa konsep Tauhid dalam ajaran Syiah telah mengalami distorsi yang sangat berat. Pengkultusan individu terhadap 12 Imam telah menyeret ajaran mereka ke dalam kubangan syirik Rububiyyah, Uluhiyyah, maupun Asma' was Sifat.
Bagi kita Ahlus Sunnah wal Jamaah, Tauhid adalah pemurnian mutlak hanya untuk Allah SWT. Kita mencintai Nabi Muhammad SAW, keluarganya (Ahlul Bait), dan para Sahabatnya, namun kita tidak pernah mengangkat mereka ke derajat ketuhanan atau meminta doa kepada mereka. Menjaga kemurnian Tauhid dari noda-noda akidah Syiah adalah perjuangan paling mendasar demi meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: