Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Tidak Bisa Disebut Bagian dari Islam yang Hakiki?

Syiahindonesia.com - Di era kontemporer ini, sering kali digaungkan narasi bahwa perbedaan antara Ahlussunnah wal Jama’ah dan Syiah Rafidhah hanyalah sebatas perbedaan mazhab fiqih, sebagaimana perbedaan antara mazhab Syafi'i dan Maliki. Namun, jika kita membedah bangunan teologi kedua belah pihak secara mendalam, akan terlihat jelas bahwa perbedaan tersebut tidak berada pada ranah cabang hukum (furu'iyyah), melainkan pada ranah fondasi akidah (ushuliyyah). Syiah tidak bisa disebut sebagai bagian dari Islam yang hakiki karena mereka telah meruntuhkan dan mengganti pilar-pilar dasar agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Berikut adalah alasan-alasan fundamental mengapa aliran ini keluar dari hakikat Islam yang murni.

1. Merusak Rukun Iman dan Islam yang Baku

Dalam Islam yang hakiki—sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW dalam Hadits Jibril yang masyhur—pilar agama telah baku, terdiri dari 5 Rukun Islam dan 6 Rukun Iman. Syiah Rafidhah merombak total struktur ini demi kepentingan ideologi mereka.

Mereka memasukkan Imamah (keyakinan terhadap kepemimpinan 12 Imam maksum) sebagai rukun iman yang paling utama. Bagi mereka, tauhid, kenabian, dan hari akhir tidak akan bernilai tanpa adanya pengakuan terhadap Imamah. Mengubah pilar-pilar dasar agama yang telah disempurnakan oleh Allah SWT adalah bentuk pensyariatan baru yang memisahkan diri dari hakikat Islam itu sendiri.

2. Menggugat Otentisitas dan Kesempurnaan Al-Qur'an

Islam yang hakiki berdiri di atas keyakinan mutlak bahwa Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam hari ini adalah mushaf yang utuh, sempurna, dan dijamin keasliannya oleh Allah SWT dari segala bentuk distorsi (tahrif).

Sebaliknya, kitab-kitab induk teologi Syiah (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini atau Fashlul Khitab karya An-Nuri Ath-Thabarsi) sarat dengan riwayat yang menuduh para sahabat telah membuang atau mengubah ayat-ayat Al-Qur'an, terutama yang berkaitan dengan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Meskipun saat ini mereka menggunakan mushaf yang sama dengan Sunni demi strategi taqiyyah, akar teologi mereka tetap menyimpan keraguan besar terhadap orisinalitas Al-Qur'an yang dikumpulkan oleh Khalifah Utsman bin Affan RA.

3. Meruntuhkan Jalur Sanad Agama (Mengafrkan Para Sahabat)

Islam adalah agama yang bersandar pada sistem sanad (mata rantai riwayat). Wahyu Al-Qur'an dan Sunnah sampai kepada generasi hari ini melalui jalur riwayat para sahabat Nabi yang adil dan jujur.

Syiah menghancurkan jembatan emas ini dengan mendoktrinkan bahwa mayoritas sahabat Nabi telah murtad dan berkhianat setelah Rasulullah SAW wafat, kecuali hanya segelintir orang. Logikanya, jika para pembawa risalah (sahabat) divonis sebagai pengkhianat, maka secara otomatis seluruh ajaran Islam, hadits, dan hukum yang mereka bawa menjadi runtuh dan tidak bisa dipercaya. Islam yang hakiki tidak mungkin berdiri di atas pondasi sejarah yang mengafirkan generasi terbaik umatnya sendiri.

4. Menodai Tauhid dengan Pengultusan Makhluk (Ghuluw)

Inti dari ajaran Islam adalah memurnikan penghambaan hanya kepada Allah SWT (Tauhidullah). Namun, dalam konsep kepemimpinan spiritual Syiah, para Imam diberikan sifat-sifat kedewaan yang melampaui batas:

  • Meyakini para Imam bersifat Ma'shum (suci dari salah, dosa, dan lupa) setara atau bahkan melebihi para Nabi.

  • Meyakini para Imam menguasai dan mengetahui seluruh perkara ghaib serta mengendalikan atom-atom di alam semesta.

  • Melegalkan ritual berdoa, beristighatsah, dan memohon hajat langsung kepada kuburan para Imam (seperti kalimat "Ya Ali Madad").

Praktik-praktik ini jelas mengaburkan batasan antara hak Pencipta (Khaliq) dan sifat makhluk, yang merupakan bentuk penyimpangan nyata dari kemurnian tauhid.

Perbedaan Prinsipil Antara Islam yang Hakiki dan Syiah

Fondasi AgamaIslam yang Hakiki (Ahlussunnah)Syiah Rafidhah
Sumber HukumAl-Qur'an & Sunnah Shahihah via Sahabat.Perkataan 12 Imam (dianggap setara wahyu).
Status Sahabat NabiGenerasi terbaik, adil, wajib dihormati.Mayoritas dianggap murtad dan khianat.
Konsep MaksumHanya milik para Nabi dalam hal wahyu.Milik 12 Imam secara mutlak sejak lahir.
Rukun Iman/IslamBaku berdasarkan Hadits Jibril.Dirombak dengan memasukkan unsur Imamah.

Dampak Fatal Menganggap Syiah sebagai Bagian dari Islam

Menerima klaim bahwa Syiah adalah bagian sah dari Islam membawa konsekuensi berbahaya bagi umat:

  1. Pengaburan Kebenaran: Umat awam akan menganggap pencacian terhadap istri dan sahabat Nabi sebagai hal yang lumrah dan boleh ditoleransi.

  2. Imunitas Terhadap Syubhat: Benteng akidah umat akan melemah, sehingga paham-paham khurafat (seperti konsep Raj'ah dan Nikah Mut'ah) mudah menyusup ke tengah masyarakat.

  3. Legitimitasi Gerakan Sektarian: Memberikan ruang bagi ideologi transnasional yang radikal untuk berkembang dan menciptakan polarisasi di tengah NKRI yang aman.

Kesimpulan

Syiah tidak bisa disebut sebagai bagian dari Islam yang hakiki karena mereka telah keluar dari jalur Manhaj Salaf yang lurus. Mereka bukan sekadar berbeda pendapat dalam tata cara shalat atau berwudhu, melainkan telah mengubah esensi tauhid, menggugat kesucian wahyu, dan memutus mata rantai sejarah Islam dengan mencaci generasi sahabat. Islam adalah agama yang bersih, jujur, dan berlandaskan kasih sayang; bukan agama yang dibangun di atas dasar dendam sejarah dan pengultusan individu. Untuk menjaga keselamatan akidah, umat Islam di Indonesia harus berani bersikap tegas dan kembali kepada ajaran yang murni sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: