Breaking News
Loading...

Benarkah Syiah Menganut Paham yang Berbeda dari Islam?

Syiahindonesia.com - Pertanyaan mengenai posisi Syiah dalam lanskap agama Islam sering kali memicu diskusi panjang. Di satu sisi, secara sosiologis dan politik dunia, Syiah sering dikelompokkan sebagai salah satu mazhab dalam Islam. Namun, jika dibedah dari kacamata akidah, ushuluddin (pokok-pokok agama), dan bangunan syariatnya, Syiah Itsna Asyariyyah (Imam Dua Belas)—yang merupakan sekte mayoritas Syiah saat ini—menganut fondasi dan paham yang berbeda secara fundamental dari Islam yang murni (Ahlus Sunnah wal Jamaah).

Perbedaan ini bukan sekadar masalah furu'iyyah (cabang hukum seperti tata cara salat), melainkan keretakan mendasar pada rukun iman dan pilar-pilar teologis.

1. Perbedaan Utama pada Rukun Iman (Akaid)

Dalam Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, rukun iman terdiri dari enam pilar (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Kitab, Rasul-Rasul, Hari Kiamat, dan Qadha-Qadar). Syiah merombak struktur ini dan menetapkan lima pokok keagamaan versi mereka sendiri (Ushulul Madzhab), yaitu:

  • Tauhid

  • Adalah (Keadilan Allah)

  • Nubuwwah (Kenabian)

  • Imamah (Kepemimpinan 12 Imam)

  • Ma'ad (Hari Kebangkitan)

Dimasukannya Imamah sebagai pilar utama setingkat dengan Tauhid dan Kenabian mengubah parameter keislaman itu sendiri. Dalam teologi Syiah, siapa saja yang tidak mengimani 12 Imam mereka—termasuk mayoritas umat Islam di dunia saat ini—dianggap cacat imannya, bahkan dinilai keluar dari wilayah iman, meskipun orang tersebut bersaksi atas keesaan Allah dan kenabian Muhammad SAW.

2. Memiliki Sumber Hukum (Rujukan) yang Berbeda

Islam yang murni tegak di atas dua pilar utama: Al-Quran dan Sunnah Nabi yang sahih. Sunnah tersebut dijaga dan diwariskan secara ilmiah oleh generasi para Sahabat Nabi melalui rantai sanad yang ketat.

Syiah memutus jalur transmisi ini. Karena mereka mengafirkan dan menuduh mayoritas Sahabat Nabi telah murtad setelah wafatnya Rasulullah SAW, mereka secara otomatis menolak kitab-kitab hadits otoritatif umat Islam (seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Sebagai gantinya, mereka membuat kitab rujukan sendiri (seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini) yang berisi riwayat-riwayat dari para Imam mereka. Dengan kata lain, sumber otoritas keagamaan antara Sunni dan Syiah sudah berbeda total.

3. Pergeseran Konsep Otoritas Suci

Dalam Islam, otoritas penetapan syariat (tasyri') yang maksum (suci dari dosa dan salah) telah berakhir seiring dengan wafatnya Rasulullah SAW. Agama telah sempurna dan tidak ada manusia yang perkataannya wajib ditaati secara mutlak setelah beliau.

Syiah menolak konsep finalitas ini secara praktis melalui doktrin Kema'suman Imam. Mereka meyakini bahwa 12 Imam mereka memiliki sifat maksum, menerima ilham/ilmu langit, dan perkataannya berstatus hukum setara dengan sabda Nabi SAW. Keyakinan ini menciptakan konsep "wahyu berjalan" yang terus berlanjut hingga abad ke-3 Hijriah, yang secara tidak langsung menafikan bahwa Islam telah selesai di masa Nabi Muhammad SAW.

4. Doktrin Teologis yang Menabrak Asas Tauhid

Beberapa doktrin inti Syiah dinilai sangat asing dan bertentangan dengan fitrah ajaran Islam yang murni, di antaranya:

  • Bada': Keyakinan bahwa Allah bisa "berubah pikiran" atau baru mengetahui sesuatu setelah peristiwa terjadi. Ini menisbatkan sifat jahil (bodoh) kepada Allah SWT.

  • Ghaibah: Keyakinan bahwa Imam ke-12 mereka bersembunyi di dalam lubang sejak seribu tahun lalu dan akan keluar di akhir zaman untuk membalas dendam.

  • Taqiyyah: Menjadikan tindakan menyembunyikan keyakinan atau berpura-pura (berbohong) demi kepentingan mazhab sebagai sembilan persepuluh dari bagian agama.

5. Dampak bagi Karakteristik Ibadah dan Sosial

Perbedaan fondasi ini melahirkan praktik ibadah dan tatanan sosial yang berbeda jauh dari ajaran Islam:

  • Membisikkan nama para Imam dalam doa dan meminta syafaat langsung ke makam-makam mereka (Ya Ali Madad, Ya Husain).

  • Menghidupkan kembali Nikah Mut'ah (kawin kontrak) yang legalitasnya telah dihapus dan diharamkan oleh Rasulullah SAW hingga hari kiamat.

  • Menjadikan ritual ratapan dan penyiksaan diri pada hari Ashura (10 Muharram) sebagai ritual tahunan yang dipenuhi caci maki terhadap para Sahabat dan istri Nabi.

Kesimpulan: Sebuah Sistem Kepercayaan yang Terpisah

Secara sosiologis, kelompok Syiah memang lahir dari rahim sejarah dunia Islam. Namun secara teologis dan akidah, Syiah telah membangun sebuah paham dan sistem kepercayaan yang berbeda dari Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Islam adalah agama yang jernih, berbasis pada ketundukan penuh kepada Allah melalui petunjuk Al-Quran dan keteladanan Sunnah yang dibawa oleh generasi Sahabat. Sementara itu, Syiah adalah ideologi yang berporos pada pengkultusan individu (Imamah) dan dendam sejarah. Bagi umat Islam di Indonesia, memahami garis demarkasi yang jelas antara Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Syiah adalah kunci krusial untuk menjaga kemurnian akidah dan keselamatan umat dari penyimpangan teologis.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: