Syiahindonesia.com - Sunnah Rasulullah SAW adalah sumber hukum kedua dalam Islam yang berfungsi sebagai penjelas, pembatas, dan penguat isi Al-Qur’an. Kesucian Sunnah terjaga berkat dedikasi para sahabat yang jujur dan metodologi ilmu hadits yang sangat ketat dari para ulama Salaf. Namun, kelompok Syiah Rafidhah melakukan upaya sistematis untuk mengaburkan makna Sunnah yang murni dengan cara mengganti otoritas Nabi kepada otoritas para Imam mereka. Di Indonesia, upaya pengaburan ini sering kali masuk melalui diskusi-diskusi bertajuk "Kembali ke Keluarga Nabi", yang sebenarnya bertujuan untuk menjauhkan umat dari Sunnah yang shahih. Membongkar strategi pengaburan ini sangat penting agar umat tetap berpegang teguh pada warisan asli Rasulullah SAW.
1. Mengganti Sunnah Nabi dengan "Sunnah Imam"
Salah satu titik paling krusial dalam pengaburan makna Sunnah adalah klaim Syiah bahwa perkataan, perbuatan, dan ketetapan 12 Imam mereka memiliki kedudukan yang sama dengan Sunnah Rasulullah SAW. Dalam akidah Syiah, Imam adalah pemegang otoritas syariat yang maksum, sehingga apa pun yang keluar dari lisan Imam dianggap sebagai wahyu yang setara dengan sabda Nabi.
Secara fundamental, ini adalah penyelewengan. Islam menegaskan bahwa wahyu telah sempurna dan terputus setelah wafatnya Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu..." (QS. Al-Ma'idah: 3).
Dengan menyamakan perkataan Imam dengan Sunnah Nabi, Syiah sebenarnya sedang menciptakan syariat baru di atas nama "keluarga Nabi" dan meminggirkan Sunnah asli yang telah disepakati oleh ijma' ulama.
2. Memutus Sanad Sunnah dengan Menolak Otoritas Sahabat
Sunnah Rasulullah SAW sampai kepada kita melalui jalur para sahabat yang adil dan terpercaya. Strategi Syiah untuk mengaburkan Sunnah adalah dengan menyerang para pembawanya. Mereka mengklaim bahwa mayoritas sahabat telah murtad atau berkhianat setelah Nabi wafat.
Dengan menolak riwayat dari Abu Hurairah, Aisyah, Umar bin Khattab, dan sahabat besar lainnya, Syiah secara otomatis membuang ribuan hadits shahih yang menjadi fondasi ibadah umat Islam. Sebagai gantinya, mereka hanya menerima riwayat yang lewat jalur internal kelompok mereka. Akibatnya, "Sunnah" versi Syiah sangat berbeda dengan Sunnah yang diajarkan Nabi kepada para sahabatnya secara umum. Ini adalah upaya untuk meruntuhkan bangunan Islam dengan cara menghancurkan pondasi informasinya (sahabat).
3. Redefinisi Makna "Ahlul Bait" untuk Mempersempit Sunnah
Syiah mengaburkan makna Sunnah dengan membatasi definisi Ahlul Bait hanya pada segelintir orang dari garis keturunan tertentu. Mereka menyingkirkan istri-istri Nabi, termasuk Aisyah dan Hafshah radhiyallahu 'anhuma, dari definisi tersebut. Padahal, istri-istri Nabi adalah orang-orang yang paling tahu tentang Sunnah Rasulullah di dalam rumah tangga.
Dengan membuang peran istri Nabi dalam periwayatan, Syiah kehilangan banyak sekali detail Sunnah terkait masalah pribadi, ibadah di rumah, dan akhlak berkeluarga. Pengaburan ini bertujuan agar umat hanya merujuk pada doktrin-doktrin politis para Imam, bukan pada keseluruhan pribadi Rasulullah SAW yang utuh.
4. Penggunaan Hadits Palsu sebagai "Sunnah"
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Syiah sangat masif menggunakan riwayat palsu untuk mengaburkan Sunnah yang asli. Mereka sering kali menggunakan potongan hadits shahih namun memberinya tafsir yang menyimpang, atau menciptakan hadits baru yang memberikan keutamaan berlebihan kepada Ali bin Abi Thalib hingga derajat ketuhanan.
Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras:
"Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari & Muslim).
Dampak Pengaburan Sunnah bagi Umat Islam
Upaya Syiah mengaburkan Sunnah membawa konsekuensi yang merusak:
Kekacauan Ibadah: Munculnya tata cara shalat, puasa, dan haji yang berbeda dari yang dicontohkan Nabi karena bersandar pada "riwayat imam" yang tidak valid.
Hilangnya Kepercayaan pada Ulama: Dengan meragukan sanad hadits Ahlussunnah, Syiah mencoba membuat umat tidak lagi percaya pada ijtihad para imam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali).
Ekstremisme Berbasis Emosi: Sunnah yang seharusnya mendidik akhlak digantikan dengan narasi dendam sejarah dan pengkultusan individu.
Langkah Membentengi Sunnah di Indonesia
Pelajari Ilmu Mushthalahul Hadits: Umat perlu memahami bagaimana para ulama menyaring hadits shahih dan dhaif agar tidak mudah tertipu oleh kutipan "sabda Nabi" yang sebenarnya palsu.
Rujuk Kitab Hadits yang Mu'tabar: Fokuslah pada kajian Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab hadits utama lainnya yang telah teruji secara ilmiah selama lebih dari seribu tahun.
Hormati Seluruh Sahabat: Sadarilah bahwa mencintai Nabi berarti mencintai orang-orang yang dipilih Allah untuk mendampingi beliau. Membela kehormatan sahabat adalah bagian dari membela Sunnah itu sendiri.
Kesimpulan
Sunnah Rasulullah SAW adalah cahaya yang terang benderang. Upaya Syiah untuk mengaburkannya dengan kabut doktrin Imamah dan kebencian terhadap sahabat adalah sebuah kegagalan ilmiah sekaligus kesesatan akidah. Sebagai Muslim Indonesia yang cerdas, kita harus mampu membedakan mana Sunnah yang murni dari Nabi dan mana riwayat palsu yang sengaja dibuat untuk merusak agama. Mari kita jaga kemurnian Sunnah agar tetap menjadi kompas yang menuntun kita menuju ridha Allah SWT.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: