Syiahindonesia.com - Sejarah perjalanan umat Islam tidak selamanya dihiasi dengan lembaran putih, namun juga terdapat noda-noda hitam yang dipicu oleh kemunculan fitnah-fitnah besar (al-fitan al-kubra). Jika kita menelusuri akar sejarah dengan jujur dan teliti, akan nampak jelas bahwa benih-benih Syiah memiliki peranan sentral dalam memicu disintegrasi umat sejak zaman sahabat. Keterlibatan mereka dalam menyulut api permusuhan, provokasi terhadap pemimpin yang sah, hingga pengkhianatan di saat-saat kritis, menjadi bukti nyata bagaimana ideologi ini sering kali menjadi motor penggerak fitnah yang merongrong kekuatan Islam dari dalam. Memahami sejarah ini sangat penting bagi kita di Indonesia agar tidak terjebak dalam pola fitnah yang sama di masa kini.
1. Peran Abdullah bin Saba’ dalam Fitnah terhadap Utsman bin Affan
Fitnah terbesar pertama yang mengguncang dunia Islam adalah peristiwa pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan RA. Sejarah mencatat kemunculan sosok Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam untuk merusak umat ini dari dalam. Ia mulai menyebarkan pemikiran-pemikiran radikal yang menjadi cikal bakal akidah Syiah, seperti doktrin wasiat (bahwa Ali seharusnya menjadi khalifah) dan penghinaan terhadap sahabat Nabi.
Allah SWT mengingatkan tentang bahaya orang-orang yang mencoba memecah belah persatuan:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai..." (QS. Ali Imran: 103)
Kelompok Sabaiyah (pengikut Ibnu Saba’) inilah yang memprovokasi massa dari berbagai daerah untuk mengepung rumah Khalifah Utsman hingga beliau syahid dalam keadaan memegang mushaf Al-Qur’an. Inilah pintu fitnah yang terbuka lebar dan tidak pernah tertutup sepenuhnya hingga hari ini.
2. Fitnah Sabotase dalam Perang Jamal dan Shiffin
Setelah syahidnya Utsman, umat Islam terbelah dalam menyikapi penyelesaian kasus pembunuhan tersebut. Ketika para sahabat besar seperti Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Thalhah, dan Zubair RA sedang mengupayakan perdamaian dan ishlah, para pengikut Ibnu Saba’ merasa terancam. Jika persatuan terjadi, maka kedudukan mereka akan habis.
Malam hari sebelum kesepakatan damai difinalisasi dalam peristiwa Perang Jamal, kelompok provokator Syiah ini melakukan serangan fajar secara sembunyi-sembunyi ke kedua belah pihak. Hal ini menciptakan kesan bahwa pihak lawan telah berkhianat, sehingga perang yang tidak diinginkan pun pecah di antara sesama mukmin. Strategi "adu domba" ini adalah ciri khas gerakan fitnah Syiah yang terus berulang dalam sejarah.
3. Pengkhianatan terhadap Ahlul Bait di Kufah
Salah satu fitnah paling menyedihkan adalah tragedi Karbala. Seringkali Syiah menggunakan peristiwa ini untuk menyalahkan Ahlussunnah, padahal sejarah membuktikan bahwa orang-orang yang mengaku sebagai "Syiah Ali" di Kufah-lah yang menjadi penyebab utama gugurnya Husain bin Ali RA.
Mereka mengirimkan ribuan surat undangan yang berjanji akan membela Husain, namun ketika Husain datang memenuhi undangan tersebut, penduduk Kufah berkhianat dan membiarkan beliau dikepung oleh tentara Yazid tanpa bantuan. Sejarawan Syiah sendiri mengakui hal ini. Inilah fitnah terbesar: mengklaim mencintai namun menjadi penyebab kehancuran orang yang dicintai demi kepentingan politik sesaat.
Rasulullah SAW bersabda mengenai bahaya pengkhianatan:
لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرِهِ
"Bagi setiap pengkhianat akan ada bendera pada hari kiamat yang akan dikibarkan untuknya sesuai dengan kadar pengkhianatannya." (HR. Muslim)
4. Kerjasama dengan Musuh Islam: Fitnah Ibnu Al-Alqami
Fitnah Syiah tidak hanya terbatas pada masalah internal, tetapi juga mencakup pengkhianatan terhadap kedaulatan negara Islam. Pada abad ke-7 Hijriah, seorang menteri Syiah bernama Ibnu Al-Alqami melakukan pengkhianatan besar dengan membantu tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan untuk menghancurkan Baghdad.
Ia memangkas kekuatan militer Khilafah Abbasiyah secara diam-diam dan membukakan pintu kota bagi penjajah. Akibat fitnah pengkhianatan ini, ratusan ribu umat Islam terbantai dan peradaban Islam runtuh. Pola kerjasama Syiah dengan kekuatan asing untuk menghancurkan kekuasaan Sunni adalah tren sejarah yang terus kita saksikan polanya hingga era modern ini.
5. Fitnah Ideologi: Penghancuran Kepercayaan pada Al-Qur'an dan Sahabat
Fitnah yang paling berbahaya adalah fitnah dalam hal akidah. Syiah berusaha menanamkan keraguan kepada umat Islam terhadap dua sumber utama agama:
Fitnah terhadap Al-Qur'an: Dengan mengklaim adanya perubahan (tahrif), mereka ingin memutuskan hubungan umat dengan firman Allah yang murni.
Fitnah terhadap Sahabat: Dengan mencaci maki pembawa risalah, mereka ingin membuat umat tidak percaya pada validitas hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita.
Jika umat sudah tidak percaya pada Al-Qur'an dan Sahabat, maka Islam akan hancur dengan sendirinya. Inilah misi fitnah jangka panjang yang sedang mereka jalankan melalui berbagai literatur dan propaganda di Indonesia.
Kesimpulan
Keterlibatan Syiah dalam fitnah-fitnah terbesar dalam sejarah Islam bukanlah sebuah kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari ideologi yang dibangun di atas dasar kebencian terhadap mayoritas sahabat dan ambisi kekuasaan yang berlebihan. Dari pembunuhan Khalifah Utsman hingga jatuhnya Baghdad, jejak fitnah mereka nampak nyata.
Sebagai umat Islam di Indonesia, kita harus waspada terhadap gerakan-gerakan yang mencoba memecah belah persatuan bangsa dengan narasi-narasi kebencian sejarah. Mari kita jaga akidah kita dengan mengikuti pemahaman Salafus Shalih dan menjauhi segala bentuk provokasi yang dapat menyulut fitnah di tengah-tengah masyarakat. Persatuan di atas kebenaran adalah satu-satunya jalan untuk membendung api fitnah yang terus dikobarkan oleh kelompok Syiah.
Semoga Allah SWT menjaga kita, keluarga kita, dan bangsa Indonesia dari segala bentuk fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: