Syiahindonesia.com - Setiap bulan Muharram, dunia menyaksikan pemandangan yang tak lazim dilakukan oleh mayoritas umat Islam: ritual ratapan massal, tangisan yang histeris, hingga aksi melukai diri sendiri yang dilakukan oleh pengikut Syiah. Ritual ini berpusat pada peringatan tragedi Karbala, tempat gugurnya Husain bin Ali RA. Bagi Ahlussunnah wal Jama'ah, wafatnya Husain adalah musibah besar yang disikapi dengan doa dan kesabaran. Namun, bagi Syiah, Karbala bukan sekadar sejarah, melainkan ritual tahunan yang dipaksakan menjadi poros agama. Mengapa mereka melakukannya secara ekstrem? Terdapat motif teologis, emosional, dan politis di balik fenomena ini.
1. Memelihara Rasa Bersalah dan Penebusan Dosa
Akar dari ritual ratapan (Asyura) dalam Syiah adalah gerakan Tawwabun (orang-orang yang bertaubat). Secara historis, penduduk Kufah yang mengklaim sebagai "Syiah" (pengikut) Ali adalah pihak yang mengundang Husain bin Ali ke Irak, namun mereka berkhianat dan membiarkan beliau dibantai di Karbala tanpa bantuan.
Untuk menutupi rasa malu dan pengkhianatan leluhur mereka, Syiah menciptakan ritual tangisan dan penyiksaan diri sebagai bentuk "penebusan dosa" abadi. Mereka merasa bahwa dengan menyakiti diri sendiri setiap tahun, mereka sedang menunjukkan kesetiaan yang terlambat kepada Ahlul Bait. Dalam Islam, menebus dosa dilakukan dengan taubat nasuha kepada Allah, bukan dengan melakukan ritual yang menyalahi fitrah kemanusiaan.
2. Membangun Narasi Kebencian terhadap Sahabat
Ritual Karbala dijadikan panggung tahunan untuk memanipulasi emosi massa. Dalam prosesi tersebut, para orator Syiah tidak hanya menceritakan kesedihan, tetapi juga menyisipkan laknat dan cercaan kepada para Sahabat Nabi dan para Khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib.
Mereka membangun narasi bahwa gugurnya Husain adalah kelanjutan dari "perampasan" hak Ali oleh Abu Bakar dan Umar. Dengan demikian, ritual Karbala adalah alat doktrinasi untuk memastikan bahwa setiap generasi baru Syiah tetap membenci mayoritas Sahabat Nabi SAW.
3. Menjadikan Karbala sebagai "Saingan" bagi Makkah
Salah satu penyimpangan paling fatal adalah upaya Syiah mengangkat derajat Karbala hingga setara atau bahkan lebih mulia dari Makkah Al-Mukarramah. Dalam kitab-kitab rujukan mereka, terdapat riwayat palsu yang menyatakan bahwa: "Barangsiapa mengunjungi makam Husain, pahalanya sama dengan melakukan haji dan umrah sebanyak seratus kali."
Allah SWT telah menetapkan Makkah sebagai tanah suci dan kiblat bagi umat Islam:
جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ
"Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia..." (QS. Al-Ma'idah: 97)
Syiah berusaha mengalihkan perhatian dan loyalitas umat dari Ka'bah menuju Karbala. Ritual tahunan ini berfungsi sebagai "haji tandingan" untuk memperkuat identitas kelompok mereka agar terpisah dari arus utama umat Islam.
4. Eksploitasi Emosi untuk Kepentingan Politik
Secara politis, ritual tahunan Karbala adalah alat mobilisasi massa yang sangat efektif. Dengan mengobarkan semangat "balas dendam" atas darah Husain yang tertumpah, para pemimpin Syiah (para Mullah dan Ayatullah) dapat dengan mudah menggerakkan pengikutnya untuk kepentingan politik tertentu.
Ritual ini menciptakan mentalitas "korban" (victim mentality) yang membuat pengikut Syiah merasa selalu dizalimi oleh kaum Sunni. Perasaan terzalimi ini kemudian dikelola menjadi loyalitas buta kepada pimpinan agama mereka. Karbala menjadi bahan bakar emosional yang tidak pernah habis untuk memelihara konflik sektarian.
5. Pelanggaran Syariat dalam Ritual Penyiksaan Diri
Islam secara tegas mengharamkan perbuatan melukai diri sendiri dan meratapi kematian secara berlebihan (Niyahah). Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
"Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap)." (HR. Bukhari & Muslim)
Ritual Syiah yang melibatkan pemukulan dada, penggunaan rantai, hingga pedang untuk melukai kepala (Tatbir) adalah bentuk nyata pengingkaran terhadap hadits Nabi di atas. Perbuatan ini tidak hanya sesat secara akidah, tetapi juga memberikan citra buruk bagi Islam di mata dunia, seolah-olah Islam adalah agama yang haus darah dan tidak logis.
Kesimpulan
Menjadikan Karbala sebagai ritual tahunan dengan cara-cara yang ekstrem adalah bentuk penyimpangan akidah dan sejarah. Bagi Ahlussunnah, Husain bin Ali RA adalah pemimpin pemuda di surga yang kita cintai, namun kematian beliau adalah takdir Allah yang dihadapi dengan kesabaran, bukan dengan kebencian abadi dan ritual yang melanggar syariat.
Umat Islam di Indonesia harus waspada terhadap upaya penyusupan ritual ini ke tanah air. Karbala harus dipandang sebagai pelajaran sejarah tentang keteguhan prinsip, bukan sebagai alasan untuk memecah belah umat dan mencaci maki para Sahabat Nabi yang mulia. Kembalilah kepada Sunnah yang mengajarkan kedamaian dan kemurnian ibadah hanya kepada Allah SWT.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: