Syiahindonesia.com - Tragedi Karbala yang menyebabkan gugurnya Husain bin Ali RA adalah duka mendalam bagi seluruh umat Islam. Namun, di tangan kelompok Syiah, peristiwa sejarah ini telah mengalami distorsi besar-besaran. Mereka membangun narasi yang penuh dengan kebohongan, dongeng yang tidak masuk akal, serta manipulasi emosional untuk menyudutkan Ahlussunnah dan memelihara dendam sejarah. Penting bagi kita untuk meluruskan fakta sejarah dari debu-debu kebohongan Syiah agar tidak terjebak dalam kesesatan berpikir yang merusak akidah.
1. Kebohongan Tentang Siapa Pembunuh Sebenarnya
Kebohongan paling fundamental yang disebarkan Syiah adalah menimpakan seluruh kesalahan kepada kaum Muslimin (Ahlussunnah). Padahal, sejarah membuktikan bahwa pengkhianat utama adalah penduduk Kufah yang saat itu mengaku sebagai "Syiah Ali".
Fakta Sejarah: Penduduk Kufah-lah yang mengirimkan ribuan surat undangan dan membaiat Husain untuk datang ke Irak. Namun, ketika pasukan Ubaidillah bin Ziyad datang, mereka yang tadinya berjanji setia justru bersembunyi di balik pintu-pintu rumah mereka dan membiarkan Husain beserta keluarganya dibantai sendirian. Sejarawan Syiah sendiri, seperti Baqir Syarif al-Qurasyi, mengakui pengkhianatan ini.
Allah SWT berfirman mengenai sifat pengkhianatan:
وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِن قَوْمٍ خِيَانَةً فَٱنبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَآءٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْخَآئِنِينَ
"Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat." (QS. Al-Anfal: 58)
2. Dongeng Metafisika yang Tidak Masuk Akal
Syiah membumbui kisah Karbala dengan berbagai cerita khurafat untuk memancing emosi massa. Mereka mengklaim bahwa saat Husain gugur, langit menurunkan hujan darah, setiap batu yang diangkat di seluruh dunia mengeluarkan darah segar, hingga klaim bahwa seluruh malaikat di langit terus meratap hingga hari ini.
Klaim-klaim ini tidak memiliki sanad yang shahih dan bertentangan dengan akidah Islam. Wafatnya para Nabi yang derajatnya jauh lebih tinggi dari Husain—seperti Nabi Zakaria yang digergaji atau Nabi Yahya yang disembelih—tidak menyebabkan fenomena alam yang sedemikian rupa. Menyamakan peristiwa sejarah dengan dongeng fiktif adalah upaya merusak kewarasan akidah umat Islam.
3. Manipulasi Motivasi Kepergian Husain RA
Syiah sering menggambarkan kepergian Husain ke Kufah sebagai upaya sadar untuk "bunuh diri suci" atau pengorbanan demi menebus dosa umat manusia (mirip doktrin agama lain). Mereka menyebut Husain mengetahui akan dibantai tetapi tetap pergi demi syahid.
Koreksi: Pandangan ini menghina kecerdasan dan tanggung jawab Husain bin Ali RA. Beliau pergi ke Kufah berdasarkan ijtihad untuk memenuhi undangan rakyatnya yang mengaku tertindas dan ingin dibimbing. Husain tidak pergi untuk bunuh diri, melainkan untuk melakukan perbaikan (ishlah). Menganggap beliau sengaja menjemput kematian berarti menuduh beliau melanggar larangan Allah untuk menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan.
4. Ritual Ratapan yang Bertentangan dengan Sunnah
Puncak dari kebohongan Syiah tentang Karbala adalah legalisasi ritual Asyura yang melibatkan tindakan menyiksa diri, memukul dada, hingga melukai kepala dengan pedang (Tatbir). Mereka mengklaim ritual ini adalah bentuk kesetiaan.
Padahal, Rasulullah SAW melarang keras segala bentuk ratapan (Niyahah) yang berlebihan. Beliau bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
"Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap)." (HR. Bukhari & Muslim)
Syiah mengabaikan hadits ini dan menciptakan syariat baru yang mengerikan demi memelihara emosi pengikutnya agar tetap terikat pada doktrin kebencian.
5. Menjadikan Tragedi Sebagai Alat "Takfir" (Pengafiran)
Kebohongan paling berbahaya adalah Syiah menggunakan tragedi Karbala untuk mengafirkan mayoritas Sahabat Nabi dan umat Islam setelahnya. Mereka membangun narasi bahwa siapa pun yang tidak ikut meratapi Karbala versi mereka, maka ia termasuk dalam barisan pembunuh Husain atau musuh Ahlul Bait.
Ini adalah bentuk manipulasi sejarah untuk memutus persaudaraan Islam. Karbala yang seharusnya menjadi pelajaran tentang keteguhan, diubah oleh Syiah menjadi alat untuk memecah belah dan menanamkan kebencian abadi di hati umat.
Kesimpulan
Tragedi Karbala adalah sejarah kelam yang disebabkan oleh fitnah dan pengkhianatan orang-orang yang mengaku Syiah di masa itu. Kebohongan-kebohongan yang dibangun di atas tragedi ini bertujuan untuk merusak akidah, menghalalkan ritual jahiliyah, dan memelihara dendam sektarian.
Sebagai umat Islam di Indonesia, kita wajib mencintai Husain bin Ali RA sebagai Ahlul Bait Nabi yang mulia, namun kita menolak segala bentuk dongeng dan ritual sesat yang menyertainya. Kebenaran sejarah harus ditegakkan di atas dalil yang shahih, bukan di atas kucuran darah dari kepala yang dilukai sendiri atau tangisan palsu yang didasari kebohongan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: