Syiahindonesia.com - Persatuan umat Islam merupakan dambaan setiap Mukmin yang menginginkan kejayaan agama Allah di muka bumi. Namun, sejarah dan kenyataan sosiopolitik menunjukkan bahwa kemunculan dan penyebaran ajaran Syiah selalu menjadi faktor utama pemicu disintegrasi dan benih permusuhan di tengah kaum Muslimin. Kebencian yang tercipta bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari konstruksi teologis yang secara sistematis memisahkan pengikutnya dari arus utama umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah). Melalui doktrin-doktrin yang provokatif, Syiah telah menciptakan jurang pemisah yang dalam, yang sering kali berujung pada konflik horizontal yang mematikan.
1. Menanamkan Dendam Sejarah melalui Ritual Karbala
Salah satu instrumen paling efektif yang digunakan Syiah untuk memelihara kebencian adalah eksploitasi tragedi Karbala. Meskipun peristiwa terbunuhnya Husain bin Ali radhiyallahu 'anhu adalah duka bagi seluruh umat Islam, Syiah mengubahnya menjadi narasi dendam abadi.
Setiap tahun, dalam peringatan Asyura, mereka membangun opini bahwa penganut Ahlus Sunnah hari ini adalah representasi dari pengikut Yazid bin Muawiyah yang harus dibenci. Melalui ritual ratapan, caci maki terhadap para Sahabat, dan drama-drama teatrikal yang penuh distorsi, mereka mencuci otak para pengikutnya untuk merasa sebagai korban (victim mentality) yang dizalimi oleh mayoritas umat Islam. Rasa dendam yang dipupuk setiap tahun ini menjadi bom waktu yang siap meledak dalam bentuk permusuhan nyata.
2. Doktrin Pencelaan terhadap Sahabat Nabi (Sabb al-Shahabah)
Kebencian antar umat Islam mustahil diredam selama Syiah masih menjadikan penghinaan terhadap para Sahabat Nabi sebagai bagian dari ibadah. Mereka meyakini bahwa mencela Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Bagi umat Islam Sunni, Sahabat Nabi adalah kehormatan dan harga diri. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon..." (QS. Al-Fath: 18).
Ketika Syiah melaknat orang-orang yang telah diridhai Allah, mereka secara langsung menantang akidah Ahlus Sunnah. Provokasi ini secara otomatis memicu reaksi kemarahan dan perlawanan, yang kemudian dikomodifikasi oleh tokoh-tokoh Syiah sebagai bukti bahwa "Ahlus Sunnah memusuhi keluarga Nabi". Inilah siklus kebencian yang mereka ciptakan.
3. Eksklusivisme dalam Konsep "Al-Wala' wal Bara'"
Syiah telah membelokkan konsep loyalitas (Wala') dan berlepas diri (Bara') dari makna syar'inya yang murni. Dalam teologi mereka, seorang Muslim tidak dianggap beriman jika tidak berlepas diri (membenci) dari Abu Bakar dan Umar serta para pengikutnya (Sunni).
Hal ini menciptakan masyarakat yang eksklusif dan anti-sosial terhadap penganut Sunni. Pengikut Syiah dididik untuk memandang penganut Ahlus Sunnah sebagai Nawashib (musuh) yang najis dan halal hartanya dalam kondisi tertentu. Perasaan merasa lebih suci dan memandang rendah kelompok lain ini adalah akar dari segala bentuk radikalisme dan perpecahan sosial. Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dan Muslim).
Ajaran Syiah justru memerintahkan pengikutnya untuk Tabarra (berlepas diri/membenci) dari mayoritas umat Islam, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap perintah Nabi untuk bersaudara.
4. Penggunaan Taqiyyah untuk Memanipulasi Kepercayaan
Ketidakjujuran adalah penghancur persatuan. Dengan doktrin Taqiyyah, Syiah sering kali menyusup ke dalam organisasi atau komunitas Sunni dengan menyembunyikan identitas asli mereka. Mereka berpura-pura mengajak dialog dan persatuan, namun di saat yang sama, mereka menyebarkan buku-buku yang isinya menghina Sahabat dan merusak akidah masyarakat awam.
Ketika kedok ini terbongkar, masyarakat merasa dikhianati dan ditipu. Ketidakpercayaan (distrust) yang mendalam inilah yang kemudian melahirkan ketegangan antar umat. Umat Islam menjadi sulit untuk bersatu karena adanya "penumpang gelap" yang memiliki agenda tersembunyi untuk menghancurkan pilar-pilar akidah Ahlus Sunnah dari dalam.
5. Politik Transnasional dan Wilayatul Faqih
Di tingkat global, Syiah menciptakan perpecahan melalui agenda politik Wilayatul Faqih. Doktrin ini menuntut setiap penganut Syiah di seluruh dunia untuk memiliki loyalitas mutlak kepada kepemimpinan di Iran. Akibatnya, banyak pengikut Syiah di berbagai negara (termasuk Indonesia) yang lebih loyal kepada agenda politik luar negeri pusat Syiah dunia daripada kepada kepentingan bangsa dan umat Islam di negaranya sendiri.
Fenomena ini sering kali menciptakan gesekan politik dan keamanan. Di beberapa negara Timur Tengah, instruksi dari pusat kekuasaan Syiah telah memicu perang saudara yang menghancurkan persaudaraan Islam yang telah terjalin selama berabad-abad. Indonesia harus waspada terhadap pola ini, di mana sentimen agama digunakan untuk menggalang kekuatan politik yang berpotensi memecah belah bangsa.
Kesimpulan: Mewaspadai Racun Perpecahan
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa Syiah menciptakan kebencian antar umat Islam melalui kombinasi doktrin teologis yang provokatif, manipulasi sejarah, dan agenda politik transnasional. Mereka tidak akan pernah bisa benar-benar menyatu dengan Ahlus Sunnah selama fondasi ajaran mereka masih tegak di atas penghinaan terhadap para Sahabat dan pengkafiran terhadap mayoritas umat Islam.
Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga persatuan berarti harus tegas dalam menolak penyebaran ajaran Syiah. Persatuan yang hakiki hanya bisa tegak di atas kejujuran dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip akidah yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau. Membiarkan ajaran Syiah berkembang berarti membiarkan racun kebencian dan bibit perpecahan tumbuh subur di tengah-tengah kita.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: