Syiahindonesia.com - Mencintai keluarga Rasulullah SAW atau yang dikenal dengan istilah Ahli Bait merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang beriman. Ahlus Sunnah wal Jamaah menempatkan Ahli Bait pada kedudukan yang sangat terhormat, mencintai mereka, dan mendoakan keberkahan bagi mereka dalam setiap tasyahud shalat. Namun, dalam perkembangan teologi Syiah, konsep kecintaan ini telah mengalami penyimpangan akidah yang sangat jauh dan fatal. Mereka menarik garis batas yang ekstrem dengan mengkultuskan Ahli Bait hingga derajat yang melampaui batas kemanusiaan, sembari di saat yang sama mencaci maki para Sahabat Nabi yang juga merupakan orang-orang terdekat beliau. Penyimpangan ini bukan sekadar masalah rasa cinta, melainkan perusakan terhadap konsep Tauhid dan tatanan syariat Islam.
1. Pengkultusan Ahli Bait hingga Derajat Ketuhanan
Penyimpangan paling mencolok dalam akidah Syiah adalah pemberian sifat-sifat ketuhanan (rububiyyah) kepada para Imam dari kalangan Ahli Bait. Mereka meyakini bahwa para Imam memiliki pengetahuan tentang hal-hal ghaib secara mutlak, menguasai atom-atom di alam semesta, dan bahwa dunia ini diciptakan demi mereka.
Dalam kitab Al-Kafi, salah satu riwayat yang mereka agungkan menyatakan bahwa para Imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi mereka. Keyakinan ini jelas bertentangan dengan firman Allah SWT:
"Katakanlah: 'Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah'..." (QS. An-Naml: 65).
Menyematkan pengetahuan ghaib mutlak kepada manusia, betapapun mulianya garis keturunan mereka, adalah bentuk kesyirikan yang nyata karena menyamakan makhluk dengan Sang Khaliq.
2. Konsep Maksum yang Melampaui Batas
Syiah meyakini bahwa para Imam Ahli Bait adalah sosok yang maksum (suci dari dosa dan kesalahan) dalam derajat yang sama atau bahkan lebih tinggi dari para Nabi. Mereka menganggap setiap perkataan Imam adalah wahyu dan setiap perbuatannya adalah syariat yang tidak boleh dibantah.
Padahal, dalam Islam, kemaksuman hanya diberikan kepada para Nabi dan Rasul dalam kapasitas mereka menyampaikan risalah Allah. Memberikan sifat maksum kepada individu selain Nabi membuka pintu bagi penambahan dan pengurangan syariat sesuai dengan keinginan tokoh-tokoh tersebut. Allah SWT berfirman:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu..." (QS. Al-Ma'idah: 3).
Jika agama telah sempurna saat Nabi SAW wafat, maka keberadaan "manusia maksum" setelah beliau yang berfungsi sebagai sumber hukum baru adalah sebuah kemustahilan teologis yang hanya bertujuan untuk melegitimasi kekuasaan kelompok tertentu.
3. Mendistorsi Definisi Ahli Bait
Syiah melakukan penyimpangan dengan menyempitkan definisi Ahli Bait hanya pada keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra melalui jalur tertentu saja. Mereka secara sistematis mengeluarkan istri-istri Nabi SAW dari kategori Ahli Bait, padahal Al-Quran secara eksplisit menyebut istri-istri Nabi sebagai bagian dari Ahli Bait dalam surat Al-Ahzab.
Penyempitan ini bertujuan untuk:
Mendelegitimasi Istri Nabi: Khususnya Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Hafshah, agar mereka dapat mencaci maki keduanya tanpa dianggap menghina Ahli Bait.
Membangun Dinasti Keagamaan: Memfokuskan otoritas hanya pada garis keturunan yang mereka setujui untuk kepentingan politik dan doktrinal.
Ahlus Sunnah memiliki pandangan yang jauh lebih adil dan sesuai Al-Quran, yaitu mencakup istri-istri Nabi, keturunan Ali, keturunan Aqil, keturunan Ja'far, dan keturunan Abbas bin Abdul Muthalib.
4. Menjadikan Ahli Bait sebagai Perantara Ibadah
Penyimpangan akidah lainnya adalah menjadikan Ahli Bait sebagai perantara (wasilah) dalam berdoa yang menjerumus pada kesyirikan. Banyak penganut Syiah yang berdoa langsung kepada para Imam dengan seruan "Ya Ali Madad" atau "Ya Husain", memohon rezeki dan kesembuhan langsung kepada mereka yang telah wafat.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
"Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah." (HR. Tirmidzi).
Ibadah adalah hak murni Allah SWT. Menjadikan Ahli Bait sebagai objek seruan dalam doa adalah bentuk pengkhianatan terhadap ajaran Tauhid yang dibawa oleh kakek mereka sendiri, yakni Rasulullah SAW.
5. Dampak bagi Umat Islam di Indonesia
Penyebaran penyimpangan akidah ini di Indonesia sering dibungkus dengan kegiatan-kegiatan budaya dan peringatan hari-hari besar yang tampak agamis. Tujuannya adalah untuk menarik simpati umat Islam yang secara fitrah memang mencintai keluarga Nabi.
Bahaya yang mengancam adalah:
Rusaknya Tauhid: Umat perlahan mulai bergantung pada sosok manusia (Imam) daripada bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Kebencian kepada Sahabat: Cinta kepada Ahli Bait versi Syiah selalu sepaket dengan kebencian kepada para Sahabat. Ini akan menciptakan masyarakat yang gemar mencaci maki generasi terbaik Islam.
Kultus Individu: Menciptakan kepatuhan buta kepada para tokoh agama Syiah yang diklaim sebagai wakil Imam, yang dapat dimanfaatkan untuk agenda politik transnasional.
Kesimpulan: Mencintai Ahli Bait Sesuai Tuntunan Sunnah
Mencintai Ahli Bait adalah bagian dari iman, namun cinta tersebut harus diletakkan dalam koridor syariat. Kita mencintai mereka karena kecintaan Rasulullah kepada mereka, namun kita tidak menyembah mereka, tidak menganggap mereka maksum, dan tidak menjadikan mereka tandingan bagi Allah SWT.
Penyimpangan akidah Syiah tentang Ahli Bait sebenarnya merupakan bentuk penghinaan terselubung kepada keluarga Nabi, karena mereka menisbatkan hal-hal yang tidak pernah diajarkan oleh para Imam Ahli Bait itu sendiri. Para Imam Ahli Bait seperti Ali bin Abi Thalib, Hasan, dan Husain adalah pejuang Tauhid yang sangat benci terhadap pengkultusan manusia. Oleh karena itu, membentengi umat dari ajaran sesat Syiah adalah bentuk pembelaan nyata terhadap kehormatan Ahli Bait yang sesungguhnya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: