Syiahindonesia.com - Sejarah perjalanan umat Islam sering kali diuji oleh kemunculan kelompok-kelompok yang bergerak dari dalam namun memiliki agenda yang sejalan dengan musuh-musuh Islam dari luar. Salah satu fenomena yang paling konsisten dalam sejarah adalah adanya kolaborasi terselubung maupun terang-terangan antara sekte Syiah dengan kelompok-kelompok anti-Islam. Hubungan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari kesamaan kepentingan dalam merongrong otoritas kepemimpinan kaum muslimin (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Memahami rekam jejak kedekatan ini sangat penting bagi kita di Indonesia agar tidak terpedaya oleh narasi Syiah yang sering kali mengeklaim sebagai garda terdepan "perlawanan terhadap imperialisme," padahal dalam banyak catatan hitam sejarah, mereka justru menjadi pintu masuk bagi kehancuran kedaulatan umat Islam.
1. Aliansi dengan Pasukan Mongol: Pengkhianatan Terbesar
Salah satu bukti sejarah yang tidak terbantahkan mengenai kedekatan Syiah dengan musuh Islam adalah jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M. Saat itu, kekhilafahan Abbasiyah yang menjadi pusat peradaban Islam dihancurkan oleh tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Kehancuran ini tidak mungkin terjadi tanpa peran internal dari tokoh-tokoh Syiah.
Ibnu Al-Alqami, seorang menteri beraliran Syiah di pemerintahan Khalifah Al-Musta'shim, secara rahasia berkorespondensi dengan Mongol. Ia meyakinkan Khalifah untuk mengurangi jumlah militer dengan dalih penghematan, padahal tujuannya adalah memperlemah pertahanan Baghdad. Di sisi lain, tokoh besar Syiah lainnya, Nashiruddin Ath-Thusi, menjadi penasihat langsung Hulagu Khan dan mendorong penghancuran perpustakaan serta pembantaian ratusan ribu umat Islam. Kerjasama ini membuktikan bahwa bagi Syiah, kehancuran "Musuh Sunni" lebih diprioritaskan daripada keselamatan umat Islam secara keseluruhan.
2. Kesamaan Pola dengan Gerakan Kebatinan dan Majusi
Para ulama sejarah mencatat bahwa Syiah memiliki akar yang sangat dekat dengan sisa-sisa peradaban Majusi (Persia Kuno) yang menyimpan dendam terhadap penaklukan Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab. Banyak doktrin Syiah yang menyusupkan unsur-unsur ajaran Zoroaster dan kebatinan, seperti pengkultusan berlebihan terhadap garis keturunan (darah biru imam) dan konsep kemaksuman manusia yang menyerupai konsep dewa-raja.
Kedekatan ideologis ini membuat Syiah sering kali menjadi "wadah" bagi penganut agama-agama lama yang ingin merusak Islam dari dalam. Allah Ta'ala telah memperingatkan tentang kelompok yang menampakkan keimanan namun menyembunyikan permusuhan:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخصَامِ
"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras." (QS. Al-Baqarah: 204).
3. Hubungan Pragmatis dengan Kekuatan Barat dan Komunisme
Di era modern, kita melihat pola yang serupa. Meskipun secara retorika kelompok Syiah di Iran sering meneriakkan slogan anti-Barat, namun dalam fakta lapangan di Irak dan Suriah, terjadi koordinasi yang nyata. Jatuhnya rezim di Irak pada tahun 2003 oleh invasi Amerika Serikat justru memberikan karpet merah bagi kelompok-kelompok milisi Syiah untuk memegang kekuasaan dan menindas penduduk Sunni.
Selain itu, di era Perang Dingin, banyak kelompok sosialis dan komunis yang merasa nyaman berkoalisi dengan gerakan Syiah karena adanya kesamaan dalam pola agitasi massa dan revolusi. Di Indonesia, pada masa lalu, terdapat indikasi kedekatan antara tokoh-tokoh berhaluan kiri dengan simpatisan Syiah dalam upaya mengacaukan stabilitas yang dibangun oleh umat Islam yang berpaham moderat dan lurus.
4. Strategi Infiltrasi melalui Isu Kemanusiaan
Kelompok-kelompok anti-Islam sering kali memberikan dukungan dana atau panggung internasional bagi organisasi-organisasi Syiah dengan dalih "perlindungan minoritas" atau "kebebasan beragama." Strategi ini digunakan untuk memojokkan mayoritas umat Islam Sunni agar terlihat intoleran.
Dukungan dari lembaga-lembaga asing yang memiliki agenda sekularisasi sering kali mengalir ke yayasan-yayasan Syiah. Hal ini dilakukan karena kekuatan Syiah dianggap sebagai "penyeimbang" yang efektif untuk memecah kekuatan umat Islam dari dalam. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang memperingatkan tentang fitnah:
سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ
"Akan terjadi berbagai fitnah, orang yang duduk di dalamnya lebih baik daripada orang yang berdiri." (HR. Bukhari dan Muslim).
Syiah sering kali menjadi aktor utama dalam menciptakan fitnah horisontal yang hanya menguntungkan pihak luar yang ingin melihat Islam lemah.
5. Doktrin Taqiyyah: Jembatan Menuju Kolaborasi Gelap
Doktrin Taqiyyah dalam Syiah memungkinkan mereka untuk bekerja sama dengan siapa pun, termasuk kelompok atheis atau musuh bebuyutan Islam, selama hal itu menguntungkan posisi mereka. Bagi mereka, berbohong atau menyembunyikan identitas demi tujuan politik adalah sebuah kewajiban agama. Hal ini sangat berbeda dengan prinsip Al-Wala' wal Bara' dalam Sunni yang melarang menjadikan musuh Allah sebagai teman setia (auliya').
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi." (QS. Al-Ma'idah: 51).
Syiah sering kali melanggar larangan ini dengan dalih strategi politik, yang pada akhirnya justru merugikan kepentingan dakwah Islam secara umum.
6. Dampak bagi Indonesia: Kewaspadaan Nasional
Di tanah air, kedekatan Syiah dengan kelompok-kelompok liberal dan anti-syariat semakin terlihat nyata. Mereka sering kali berada di satu barisan dalam menggugat undang-undang yang bernuansa islami atau dalam membela aliran-aliran sesat lainnya. Kolaborasi ini bertujuan untuk mengikis dominasi akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Indonesia.
Jika dibiarkan, aliansi antara Syiah dan kelompok-kelompok anti-Islam ini akan:
Melemahkan Persatuan Bangsa: Menciptakan polarisasi yang tajam di masyarakat.
Membuka Pintu Intervensi Asing: Memberikan celah bagi negara luar untuk mencampuri urusan dalam negeri melalui isu konflik sektarian.
Merusak Moralitas Umat: Dengan penyebaran paham liberalisme yang dibungkus dengan alasan pembelaan terhadap hak kelompok minoritas (Syiah).
Kesimpulan
Sejarah adalah guru terbaik. Dari pengkhianatan Ibnu Al-Alqami hingga manuver politik di era modern, kedekatan Syiah dengan kelompok-kelompok anti-Islam adalah sebuah realitas yang tak terbantahkan. Hubungan ini didasari oleh prinsip "musuh dari musuhku adalah temanku," di mana mereka rela bersekutu dengan siapa pun asalkan bisa meruntuhkan wibawa dan kekuatan umat Islam Sunni. Sebagai kaum muslimin yang cinta tanah air, kita harus terus meningkatkan kewaspadaan dan membentengi umat dengan pemahaman akidah yang kuat agar tidak menjadi korban dari konspirasi yang digalang oleh kelompok sesat dan para pembenci Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: