Syiahindonesia.com - Pertanyaan mengenai apakah Syiah mengajarkan kebencian terhadap Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) sering kali muncul dalam diskusi keagamaan di tanah air. Bagi masyarakat awam, narasi yang sering ditampilkan oleh tokoh-tokoh Syiah adalah pesan persaudaraan dan persatuan Islam (ukhuwah Islamiyah). Namun, jika kita membedah kitab-kitab rujukan utama (maraji') mereka dan mendengarkan ceramah para ulama besar mereka di pusat-pusat kekuasaan Syiah, akan ditemukan fakta yang sangat kontradiktif. Kebencian terhadap Ahlus Sunnah bukan sekadar sentimen emosional, melainkan telah mengakar secara doktrinal melalui pelabelan-pelabelan teologis yang sangat tajam.
Doktrin "An-Nawashib" dan Pelabelan Sunni
Dalam literatur klasik maupun kontemporer Syiah, penganut Ahlus Sunnah sering kali dikategorikan sebagai An-Nawashib (Nashibi), yaitu orang-orang yang dianggap memusuhi Ahlul Bait. Padahal, Ahlus Sunnah adalah kelompok yang paling mencintai Ahlul Bait dalam koridor yang benar tanpa pengkultusan.
Ulama besar Syiah seperti Ni'matullah Al-Jaza'iri dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu'maniyyah menyatakan bahwa An-Nawashib (yang ditujukan kepada Sunni karena mendahulukan Abu Bakar dan Umar daripada Ali) kedudukannya lebih buruk daripada orang kafir. Pelabelan ini berdampak pada konsekuensi hukum dalam internal mereka, mulai dari masalah kenajisan secara fisik hingga keabsahan darah dan harta. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh ideologi ini, penganut Sunni sering kali mengalami marginalisasi dan persekusi.
Pelecehan Terhadap Sahabat dan Istri Nabi
Salah satu bentuk nyata dari ajaran kebencian dalam Syiah adalah ritual L'an (laknat) terhadap para Sahabat Nabi dan istri-istri beliau, khususnya Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Bagi Ahlus Sunnah, mencintai Sahabat adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi SAW:
"Takutlah kepada Allah mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kalian menjadikan mereka sasaran (hinaan) setelah aku. Barangsiapa mencintai mereka, maka karena mencintaiku ia mencintai mereka. Dan barangsiapa membenci mereka, maka karena membenciku ia membenci mereka." (HR. Tirmidzi).
Sebaliknya, dalam banyak doa dan ziarah resmi Syiah, seperti Ziarah Asyura, terdapat kutukan yang ditujukan kepada mereka yang dianggap "merampas" hak Imamah. Kebencian kepada para Sahabat otomatis merupakan kebencian kepada para pembawa risalah Islam (Ahlus Sunnah) yang selama ini menjaga kemurnian hadits-hadits Nabi melalui jalur para Sahabat tersebut.
Peran Taqiyyah dalam Menyembunyikan Kebencian
Mengapa di Indonesia ajaran kebencian ini tidak tampak secara terang-terangan? Jawabannya terletak pada doktrin Taqiyyah. Dalam teologi Syiah, Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan asli demi keamanan atau kepentingan dakwah) adalah sembilan persepuluh dari agama.
Hal ini menciptakan dualisme sikap:
Sikap Lahiriah: Menampilkan wajah toleran, mengajak dialog antar-madzhab, dan mengaku bahwa Sunni adalah saudara mereka.
Sikap Batiniah/Internal: Tetap meyakini bahwa hanya kelompok mereka yang selamat, sementara Ahlus Sunnah dianggap sebagai pengikut pemimpin yang zalim.
Tanpa pemahaman tentang Taqiyyah, umat Islam akan mudah terpedaya oleh jargon-jargon persatuan yang sebenarnya hanya digunakan untuk memberikan ruang bagi penyebaran ideologi mereka di tengah mayoritas Sunni.
Konsep Al-Bara' (Berlepas Diri) yang Menyimpang
Islam memang mengajarkan konsep Al-Wala' wal Bara' (loyalitas dan berlepas diri). Namun, dalam Syiah, konsep ini disalahgunakan untuk memutuskan tali persaudaraan dengan sesama Muslim yang tidak sealiran. Mereka mewajibkan pengikutnya untuk berlepas diri dari "musuh-musuh" imam mereka, yang dalam praktisnya mencakup hampir seluruh generasi awal Islam dan pengikutnya hingga saat ini.
Allah SWT berfirman mengenai persaudaraan sesama Mukmin:
"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10).
Doktrin Syiah justru menghancurkan ayat ini dengan mengkategorikan penganut Ahlus Sunnah sebagai orang-orang yang imannya tidak sah karena menolak Imamah, sehingga status "saudara" itu pun gugur dalam keyakinan batin mereka.
Realita Konflik Regional sebagai Bukti
Jika kita melihat peta konflik di Timur Tengah, kita dapat melihat bagaimana ajaran kebencian ini diimplementasikan secara praktis. Milisi-milisi yang berafiliasi dengan ideologi ini seringkali melakukan tindakan kejam terhadap penganut Sunni dengan motivasi dendam sejarah yang dipelihara dalam majelis-majelis mereka. Yel-yel yang mereka teriakan seringkali berupa cercaan terhadap simbol-simbol suci Ahlus Sunnah.
Di Indonesia, potensi ini sangat mungkin terjadi jika benih-benih pemikiran Syiah dibiarkan tumbuh subur. Kebencian yang ditanamkan dalam sanubari pengikutnya terhadap para Sahabat Nabi pada akhirnya akan bermuara pada kebencian terhadap penganut ajaran para Sahabat tersebut, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kesimpulan: Waspadai Serigala Berbulu Domba
Berdasarkan fakta-fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa secara fundamental, teologi Syiah memang mengandung unsur kebencian yang mendalam terhadap Ahlus Sunnah. Meskipun secara publik mereka sering menyuarakan perdamaian, namun kitab-kitab rujukan utama mereka tetap mengajarkan permusuhan terhadap para Sahabat dan para pengikutnya.
Umat Islam di Indonesia harus cerdas dalam membedakan mana ukhuwah yang tulus dan mana yang hanya merupakan bagian dari strategi Taqiyyah. Perlindungan terhadap akidah Ahlus Sunnah bukan hanya soal perbedaan tata cara ibadah, melainkan menjaga hati dari racun kebencian terhadap generasi terbaik umat ini (para Sahabat) dan menjaga keutuhan bangsa dari ideologi yang bersifat memecah belah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: