Breaking News
Loading...

Perbedaan Mendasar Antara Ahlus Sunnah dan Syiah dalam Akidah

Syiahindonesia.com - Memahami perbedaan antara Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni) dan Syiah bukan sekadar membahas perbedaan tata cara shalat atau masalah cabang (furu’) semata. Perbedaan di antara keduanya terletak pada akar yang paling dalam, yaitu masalah akidah atau ushuluddin (pokok-pokok agama). Di Indonesia, seringkali muncul narasi bahwa perbedaan ini hanyalah masalah politik masa lalu, padahal kenyataannya, terdapat jurang pemisah yang sangat lebar dalam memandang otoritas wahyu, kedudukan para sahabat, hingga konsep ketuhanan. Artikel ini akan mengulas secara mendalam poin-poi krusial yang membedakan akidah Islam yang murni dengan ajaran Syiah.


1. Otoritas Kepemimpinan: Imamah vs Khilafah

Perbedaan paling fundamental terletak pada konsep kepemimpinan umat setelah wafatnya Rasulullah SAW.

  • Ahlussunnah: Meyakini bahwa kepemimpinan (Khilafah) adalah urusan ijtihad umat yang diputuskan melalui musyawarah (Syura). Pemimpin adalah manusia biasa yang tidak maksum dan dipilih berdasarkan kriteria integritas serta kemampuan.

  • Syiah: Menjadikan Imamah (kepemimpinan 12 imam) sebagai rukun iman. Mereka meyakini imam ditunjuk langsung oleh Allah (Nash) dan bersifat maksum (suci dari dosa dan salah). Barangsiapa tidak meyakini Imamah, maka imannya dianggap gugur atau tidak sempurna.

Allah SWT menegaskan prinsip musyawarah dalam Al-Qur'an:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

"...sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka..." (QS. Asy-Syura: 38)

2. Pandangan Terhadap Para Sahabat Nabi SAW

Sikap terhadap generasi awal Islam menjadi pembeda yang sangat kontras antara kedua kelompok ini.

  • Ahlussunnah: Memuliakan seluruh sahabat Nabi tanpa terkecuali, terutama Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Ahlussunnah meyakini mereka adalah generasi terbaik yang dijamin ridha Allah.

  • Syiah: Membangun akidahnya di atas kebencian dan pencelaan terhadap mayoritas sahabat. Mereka menganggap para sahabat telah murtad setelah wafatnya Nabi karena tidak membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai imam pertama.

Padahal Allah SWT telah berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon..." (QS. Al-Fath: 18)

Mencela orang yang telah diridhai Allah adalah bentuk penyimpangan akidah yang sangat nyata.


3. Sumber Hukum dan Keotentikan Al-Qur'an

Masalah sumber rujukan agama juga mengalami pergeseran yang sangat berbahaya dalam ajaran Syiah.

  • Ahlussunnah: Merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah (Hadits) yang diriwayatkan oleh para sahabat yang terpercaya. Ahlussunnah meyakini Al-Qur'an yang ada saat ini adalah sempurna tanpa perubahan satu huruf pun.

  • Syiah: Banyak dari ulama besar mereka meyakini adanya Tahrif (perubahan/pengurangan) dalam Al-Qur'an yang ada di tangan umat Islam saat ini. Mereka juga menolak hadits-hadits shahih (seperti riwayat Bukhari dan Muslim) jika perawinya adalah sahabat yang mereka benci.

Keyakinan akan adanya perubahan Al-Qur'an jelas membantah firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)

4. Konsep Kedustaan yang Dilegalkan (Taqiyah)

Dalam masalah kejujuran dan integritas beragama, terdapat perbedaan etika yang sangat tajam.

  • Ahlussunnah: Mengharamkan dusta dan menganggap kejujuran adalah bagian dari iman. Berbohong dalam urusan agama adalah dosa besar.

  • Syiah: Menjadikan Taqiyah (berpura-pura atau berbohong demi membela mazhab) sebagai bagian dari ibadah, bahkan disebut sebagai sembilan persepuluh dari agama. Hal inilah yang membuat dialog dengan pengikut Syiah seringkali tidak membuahkan hasil karena adanya unsur penyembunyian keyakinan asli.


5. Hubungan dengan Allah: Tauhid vs Pengultusan

Penyimpangan dalam masalah tauhid juga nampak pada bagaimana cara seorang hamba berinteraksi dengan Penciptanya.

  • Ahlussunnah: Menjaga kemurnian tauhid dengan hanya memohon dan beribadah kepada Allah semata (Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in). Tidak ada perantara antara hamba dan Khalik.

  • Syiah: Seringkali terjebak dalam praktik syirik dengan memohon bantuan (Istighatsah) kepada para imam yang telah wafat, menganggap tanah Karbala memiliki kesaktian, dan memberikan sifat-sifat ketuhanan (seperti mengetahui hal ghaib secara mutlak) kepada para imam mereka.


Kesimpulan

Perbedaan antara Ahlussunnah dan Syiah bukanlah sekadar perbedaan warna baju, melainkan perbedaan dalam memandang esensi Islam itu sendiri. Syiah telah merombak pondasi akidah Islam dengan memasukkan unsur pengultusan manusia, kebencian pada sejarah, dan keraguan terhadap firman Allah.

Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah kewajiban untuk memastikan diri kita tetap berada di atas jalan yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. Jangan biarkan jargon-jargon persatuan yang semu mengaburkan batasan tegas antara kebenaran wahyu dengan penyimpangan ideologi Syiah yang merusak.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: