Mengapa Syiah Menganggap Imam Mereka Lebih Mulia dari Nabi?
Syiahindonesia.com - Dalam diskursus mengenai penyimpangan akidah, salah satu poin yang paling mengejutkan dan mencederai fondasi kenabian adalah doktrin Syiah yang menempatkan kedudukan para Imam mereka di atas derajat para Nabi dan Rasul (kecuali Nabi Muhammad SAW). Bagi umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, meyakini bahwa para Nabi dan Rasul adalah manusia paling mulia yang dipilih Allah untuk menerima wahyu adalah prinsip yang tidak tergoyahkan. Namun, dalam kacamata teologi Syiah, khususnya aliran Itsna Asyariyah (Dua Belas Imam), para Imam memiliki kedudukan kosmik yang melampaui batas kemanusiaan biasa, bahkan melampaui kedudukan para nabi terdahulu. Fenomena ghuluw (berlebihan) inilah yang menjadi titik krusial mengapa ajaran ini dianggap sangat membahayakan kemurnian tauhid dan tatanan hirarki ketuhanan dalam Islam.
Landasan Doktrin Keutamaan Imam di Atas Nabi
Keyakinan bahwa Imam lebih mulia dari Nabi bukanlah sekadar tafsiran liar pengikut awam mereka, melainkan terdokumentasi dalam kitab-kitab induk dan pernyataan tokoh-tokoh besar Syiah. Salah satu rujukan utama mereka, Al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi, menyebutkan berbagai riwayat yang menyatakan bahwa ilmu dan kedudukan para Imam mencakup segala sesuatu yang diberikan kepada para Nabi, bahkan lebih.
Tokoh revolusi Iran, Khomeini, dalam kitabnya Al-Hukumatul Islamiyyah, secara eksplisit menyatakan:
وَإِنَّ مِنْ ضَرُورِيَّاتِ مَذْهَبِنَا أَنَّ لِأَئِمَّتِنَا مَقَامًا لَا يَبْلُغُهُ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ وَلَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌ
"Sesungguhnya di antara prinsip darurat (pokok) dalam mazhab kita adalah bahwa para Imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh malaikat muqarrab (yang dekat dengan Allah) maupun Nabi yang diutus."
Pernyataan ini secara jelas meruntuhkan konsep Nubuwwah (Kenabian) yang selama ini kita pahami, di mana Nabi seharusnya berada di puncak hirarki kemanusiaan setelah Allah SWT.
Alasan di Balik Pengkultusan Imam
Mengapa mereka sampai pada kesimpulan yang sangat ekstrem tersebut? Terdapat beberapa alasan teologis yang mereka bangun:
1. Konsep Imamah sebagai Kelanjutan Kenabian yang Lebih Sempurna
Syiah menganggap bahwa tugas Nabi hanyalah menyampaikan risalah secara umum, sedangkan para Imam bertugas menjaga, menafsirkan, dan menjalankan risalah tersebut dengan kema'shuman mutlak. Mereka mengklaim bahwa tanpa Imam, agama tidak akan sempurna, sehingga peran Imam dianggap "lebih vital" dalam keberlangsungan syariat dibandingkan Nabi-Nabi terdahulu yang risalahnya dianggap sudah terhapus atau terbatas.
2. Klaim Ilmu Gaib yang Mutlak
Mereka meyakini bahwa para Imam mewarisi seluruh ilmu para Nabi, ditambah ilmu yang Allah berikan khusus hanya kepada mereka. Dalam doktrin mereka, Imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, serta tidak ada satu pun ilmu yang tersembunyi bagi mereka. Kedudukan "supernatural" ini secara otomatis mengangkat derajat mereka di mata pengikutnya melebihi para Nabi yang seringkali digambarkan dalam Al-Qur'an memiliki keterbatasan sebagai manusia.
3. Penciptaan dari "Nur" yang Berbeda
Terdapat keyakinan ghuluw bahwa para Imam diciptakan dari cahaya (Nur) yang berbeda dengan manusia lainnya, bahkan berbeda dengan cahaya para Nabi. Mereka dianggap sebagai perantara (washilah) antara makhluk dan Khaliq secara mutlak, di mana doa-doa manusia tidak akan sampai kepada Allah kecuali melalui perantaraan mereka.
Bantahan dari Al-Qur'an dan Sunnah
Pandangan yang mengutamakan Imam di atas Nabi adalah bentuk pelecehan terhadap kedudukan para Nabi yang telah Allah muliakan dalam Al-Qur'an.
1. Penegasan Derajat Nabi dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An'am ayat 86-87 setelah menyebutkan nama-nama para Nabi:
وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ
"...dan masing-masing mereka itu Kami lebihkan derajatnya di atas seluruh alam."
Jika Allah sudah menyatakan para Nabi dilebihkan di atas seluruh alam, maka siapa pun manusia setelah mereka—termasuk para Imam—tidak mungkin memiliki derajat yang lebih tinggi dari para Nabi tersebut.
2. Kesempurnaan Risalah Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi (Khatamun Nabiyyin). Meyakini adanya Imam yang memiliki otoritas seperti Nabi atau lebih tinggi dari Nabi setelah wafatnya beliau adalah bentuk pengingkaran terhadap finalitas kenabian Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda:
لَا نَبِيَّ بَعْدِي
"Tidak ada Nabi setelahku." (HR. Bukhari dan Muslim).
Meskipun Syiah tidak menyebut Imam sebagai Nabi, namun dengan memberikan sifat ma'shum, menerima ilham setara wahyu, dan kedudukan di atas Nabi, pada hakikatnya mereka telah menciptakan "nabi-nabi baru" dengan nama yang berbeda.
Bahaya Akibat Mengunggulkan Imam di Atas Nabi
Doktrin ini membawa dampak yang sangat destruktif bagi akidah umat Islam di Indonesia:
Mereduksi Keagungan Rasulullah SAW: Jika Imam dianggap lebih mulia, maka kecintaan dan kepatuhan pengikutnya akan lebih besar kepada Imam daripada kepada Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Membuka Pintu Kesyirikan: Memberikan sifat-sifat kenabian dan ketuhanan kepada Imam mendorong pengikutnya untuk melakukan praktik ibadah yang menyimpang, seperti berdoa kepada Imam atau menganggap Imam sebagai pengatur alam semesta.
Menghancurkan Syariat: Ketika ucapan Imam dianggap lebih tinggi dari dalil Al-Qur'an dan Hadits, maka syariat Islam menjadi sangat cair dan bergantung pada kemauan otoritas Imam (atau wakilnya di dunia saat ini).
Kesimpulan
Klaim bahwa Imam lebih mulia dari Nabi adalah puncak dari doktrin ghuluw yang memisahkan Syiah dari garis besar umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Sebagai Muslim yang lurus, kita wajib menghormati Ahlul Bait, namun tidak boleh mengangkat mereka melebihi batasan yang telah ditetapkan Allah. Nabi dan Rasul adalah manusia pilihan yang kedudukannya tidak tertandingi oleh siapa pun setelah mereka. Menjaga hirarki ini adalah bagian dari menjaga kemurnian kalimat Syahadat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: