Breaking News
Loading...

Pandangan Ulama tentang Bahaya Syiah bagi Umat Islam

Syiahindonesia.com - Persoalan Syiah bukan sekadar perbedaan dalam masalah cabang agama (furu’iyyah), melainkan telah menyentuh aspek fundamental atau akar akidah (ushul) dalam Islam. Sepanjang sejarah, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari berbagai lintas mazhab dan generasi telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya doktrin ini. Ketegasan para ulama bukan lahir dari fanatisme buta, melainkan dari tanggung jawab ilmiah untuk menjaga kemurnian wahyu dan keutuhan umat Islam. Artikel ini akan membedah pandangan para ulama mengenai bahaya sistematis yang dibawa oleh ajaran Syiah, baik dari sisi akidah, syariat, maupun stabilitas sosial politik.


1. Ancaman terhadap Kemurnian Al-Qur'an dan Sunnah

Ulama hadits dan tafsir memandang Syiah sebagai ancaman terbesar bagi sumber hukum Islam. Bahaya ini muncul karena doktrin Syiah yang meragukan kredibilitas para Sahabat Nabi sebagai pembawa wahyu.

  • Imam Abu Zur’ah Ar-Razi (Guru Imam Muslim) menyatakan: "Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang Sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindiq (sesat). Hal itu karena Rasulullah itu benar dan Al-Qur'an itu benar, dan hanyalah yang menyampaikan Al-Qur'an dan Sunnah kepada kita adalah para Sahabat. Mereka (Syiah) bertujuan mencela para saksi kita untuk membatalkan Al-Qur'an dan Sunnah."

  • Imam Malik bin Anas (Pendiri Mazhab Maliki) bahkan menegaskan bahwa orang yang mencela Sahabat tidak memiliki hak atas harta fai' (harta rampasan perang untuk umat Islam) karena mereka telah memutus hubungan dengan generasi awal yang dipuji Allah.


2. Pengrusakan Akidah melalui Pengkultusan (Ghuluw)

Ulama akidah menyoroti bahaya konsep Imamah yang disejajarkan atau bahkan ditinggikan di atas kenabian. Syiah menetapkan bahwa Imam memiliki sifat ma’shum (suci dari dosa) dan mengetahui hal gaib.

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab monumentalnya Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah menjelaskan bahwa Syiah Rafidhah adalah kelompok yang paling banyak berbohong dalam riwayat dan paling ekstrem dalam mengkultuskan manusia. Beliau memandang doktrin ini dapat menggiring umat pada kesyirikan terselubung karena memberikan hak-hak ketuhanan dan kenabian kepada para Imam.

  • Imam Asy-Syafi’i (Pendiri Mazhab Syafi'i) pernah berpesan: "Aku tidak pernah melihat di antara pengikut hawa nafsu, kaum yang lebih berani bersaksi palsu (berbohong) daripada kaum Syiah Rafidhah." Kebohongan yang dilegalisasi melalui Taqiyyah dianggap ulama sebagai racun yang merusak kejujuran dalam beragama.


3. Bahaya Politik dan Disintegrasi Umat

Para ulama sejarah dan pakar hukum Islam melihat Syiah sebagai gerakan yang memiliki agenda politik terselubung yang dapat memecah belah kedaulatan negara Muslim.

  • Imam Al-Ghazali dalam kitab Fadha'ih al-Bathiniyyah membedah bagaimana gerakan-gerakan kebatinan Syiah berusaha merongrong wibawa pemerintah Islam dari dalam melalui infiltrasi dan penyebaran paham-paham radikal.

  • Ulama Kontemporer Indonesia, melalui fatwa-fatwa MUI dan organisasi massa Islam besar, sering kali mengingatkan bahwa ajaran Syiah yang mencela Sahabat dan istri Nabi berpotensi besar memicu konflik horizontal (adu domba) di tengah masyarakat Indonesia yang religius dan mencintai para Sahabat.


4. Penyimpangan Syariat (Mut'ah dan Ritual Bid'ah)

Ulama fiqih menekankan bahaya Syiah dalam menghalalkan kembali praktik-praktik yang telah dihapus (mansukh) oleh Rasulullah SAW, seperti nikah Mut'ah (kawin kontrak).

  • Para ulama sepakat bahwa nikah Mut'ah adalah perzinaan terselubung yang merusak institusi keluarga dan martabat wanita.

  • Ritual menyakiti diri sendiri pada hari Asyura dipandang sebagai bid’ah munkar yang mencoreng citra Islam sebagai agama yang rasional dan penuh rahmat.

Kesimpulan Pandangan Ulama

Secara garis besar, para ulama menyimpulkan bahwa bahaya Syiah bagi umat Islam terletak pada tiga titik utama:

  1. Secara Ilmiah: Menghancurkan fondasi sejarah dan transmisi ilmu Islam (Hadits dan Tafsir).

  2. Secara Imaniah: Menggeser ketauhidan menjadi pengkultusan imam dan kebencian kepada Sahabat.

  3. Secara Sosial: Menanamkan benih perpecahan dan loyalitas ganda kepada otoritas asing.

Bagi umat Islam di Indonesia, mengikuti bimbingan para ulama yang lurus adalah perisai terbaik. Mengenali penyimpangan bukan berarti mengajak pada kekerasan, melainkan bentuk kewaspadaan agar akidah generasi mendatang tetap terjaga di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: