Syiahindonesia.com - Peristiwa Karbala yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah merupakan tragedi yang menyayat hati setiap Muslim. Gugurnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu 'anhuma, cucu tercinta Rasulullah SAW, adalah musibah besar yang diakui oleh Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai bentuk kesyahidan yang mulia. Namun, dalam perkembangannya, kelompok Syiah Rafidhah telah mengubah narasi sejarah ini menjadi sebuah alat propaganda politik dan ideologi yang sangat masif. Di Indonesia, peringatan Asyura sering kali dibungkus dengan narasi kesedihan yang manipulatif untuk menggiring opini publik, menciptakan polarisasi, dan melegitimasi kekuasaan transnasional tertentu. Membedah bagaimana kisah Karbala diselewengkan untuk kepentingan politik adalah langkah penting untuk menjaga stabilitas ukhuwah dan kemurnian akidah umat Islam.
1. Menciptakan Narasi "Dendam Abadi" terhadap Sahabat Nabi
Penyimpangan politik pertama yang dilakukan Syiah adalah dengan mengaitkan pembunuhan Sayyidina Husain kepada seluruh generasi sahabat Nabi dan para khalifah sebelumnya. Mereka membangun narasi bahwa "akar" dari tragedi Karbala adalah terpilihnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagai pemimpin.
Dengan cara ini, Syiah mempolitisasi kesedihan umat untuk menanamkan kebencian kepada para sahabat yang telah diridhai Allah. Mereka menggunakan slogan "Kullu Yaumin 'Asyura wa Kullu Ardhin Karbala" (Setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala) bukan sebagai pengingat nilai keadilan, melainkan sebagai seruan untuk terus memusuhi siapa pun yang mengikuti manhaj para sahabat Nabi (Ahlussunnah). Ini adalah politik adu domba yang memutus hubungan umat Islam hari ini dengan generasi terbaiknya.
2. Legitimasi Kekuasaan "Wilayatul Faqih"
Kisah Karbala diselewengkan untuk mendukung doktrin politik Wilayatul Faqih (kepemimpinan ulama Syiah). Mereka memosisikan para pemimpin politik Syiah saat ini seolah-olah sebagai representasi dari perjuangan Sayyidina Husain, sementara lawan-lawan politik mereka diberi label sebagai "Yazid zaman sekarang."
Dengan labelisasi ini, kritik terhadap kebijakan politik mereka dianggap sebagai bentuk permusuhan terhadap Ahlul Bait. Di Indonesia, simpatisan Syiah sering kali menggunakan narasi ini untuk memobilisasi massa bawah tanah guna mendukung agenda politik luar negeri yang berafiliasi dengan pusat Syiah dunia, dengan dalih "melawan kezaliman" sebagaimana Husain melawan Yazid. Ini adalah manipulasi sejarah demi kepentingan geopolitik.
3. Eksploitasi Emosi melalui Ritual Bid’ah dan Berdarah
Ritual peratapan, pemukulan dada, hingga melukai diri sendiri (tatbir) pada hari Asyura bukan sekadar ekspresi kesedihan, melainkan instrumen politik untuk menciptakan identitas kelompok yang eksklusif dan radikal. Secara syariat, Rasulullah SAW melarang keras tindakan niyahah (meratap). Beliau bersabda:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap)." (HR. Bukhari).
Secara politik, ritual-ritual ini digunakan untuk mengikat loyalitas pengikutnya melalui ikatan emosional yang irasional. Pengikut yang terbiasa dengan histeria massa dan penyiksaan diri akan lebih mudah digerakkan untuk kepentingan politik sempit di bawah komando para mullah mereka.
4. Menghapus Fakta Pengkhianatan Penduduk Kufah
Salah satu penyelewengan sejarah terbesar adalah penyembunyian fakta bahwa yang mengkhianati Sayyidina Husain hingga beliau terkepung di Karbala adalah para pengikutnya sendiri di Kufah (Syiah Kufah). Sejarah mencatat bahwa mereka yang mengirim ribuan surat undangan justru membiarkan Husain dibantai saat pasukan Ubaidullah bin Ziyad datang.
Tokoh Syiah saat ini menyelewengkan fakta ini dengan melemparkan seluruh kesalahan kepada "umat Islam secara umum" (yang mereka maksud adalah Ahlussunnah). Tujuannya adalah untuk mencuci tangan dari dosa sejarah nenek moyang mereka dan menggunakan narasi "korban" (victim mentality) untuk mendapatkan simpati internasional dan memperluas pengaruh ideologi mereka di negara-negara Sunni seperti Indonesia.
Dampak Politisasi Karbala bagi Indonesia
Penyebaran narasi Karbala versi Syiah di Indonesia membawa dampak yang merugikan:
Memicu Konflik Sektarian: Narasi kebencian terhadap sahabat yang disisipkan dalam kisah Karbala berpotensi memicu gesekan horisontal di masyarakat.
Infiltrasi Ideologi Asing: Kisah Karbala menjadi "pintu masuk" bagi kepentingan politik negara asing untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia melalui lembaga-lembaga kebudayaan dan pendidikan.
Pengaburan Makna Syahid: Syahidnya Husain yang mulia direduksi menjadi komoditas politik untuk membenarkan tindakan-tindakan anarkis atau makar terhadap pemerintah yang sah dengan dalih "melawan Yazid."
Langkah Antisipasi dan Perlindungan Umat
Sampaikan Kisah Karbala yang Obyektif: Para dai dan ulama di Indonesia harus menjelaskan peristiwa Karbala berdasarkan kitab sejarah yang otoritatif seperti Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, yang memuliakan Husain tanpa mencaci sahabat lainnya.
Tegaskan Larangan Meratap: Edukasi umat bahwa mencintai Husain adalah dengan meneladani ketakwaannya dan melaksanakan puasa Asyura (9-10 Muharram) sesuai sunnah Nabi, bukan dengan ritual berdarah.
Waspadai Jargon "Perjuangan Kaum Mustadh'afin": Syiah sering menggunakan istilah ini di media untuk membungkus agenda politik mereka agar tampak seperti gerakan pembela rakyat kecil, padahal tujuannya adalah penyebaran kekuasaan ideologi Rafidhah.
Kesimpulan
Sayyidina Husain bin Ali adalah pahlawan seluruh umat Islam. Beliau adalah pemuda ahli surga yang gugur membela prinsip kebenaran. Sangat menyedihkan ketika nama besar beliau diselewengkan oleh kelompok Syiah untuk kepentingan politik praktis, kekuasaan, dan penyebaran kebencian terhadap para sahabat Nabi. Sebagai Muslim Indonesia, kita wajib mencintai Husain dengan cara yang benar, yaitu dengan menjaga persatuan umat dan menolak segala bentuk politisasi sejarah yang bertujuan untuk merusak akidah dan stabilitas bangsa. Kebenaran sejarah harus ditegakkan, dan fitnah politik berbaju agama harus segera dihentikan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: