Breaking News
Loading...

Mengapa Mayoritas Umat Islam Menolak Syiah?

Syiahindonesia.com - Penolakan masif mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) terhadap ajaran Syiah bukanlah sebuah fenomena baru, melainkan sikap konsisten yang telah terjaga selama lebih dari 1.400 tahun. Di Indonesia, penolakan ini semakin menguat seiring dengan terbukanya akses informasi mengenai hakikat ajaran Syiah yang sebenarnya. Mayoritas umat Islam menolak Syiah bukan karena perbedaan etnis atau politik semata, melainkan karena Syiah membawa sekumpulan doktrin yang bertentangan secara diametral dengan fondasi Al-Qur'an dan Sunnah. Penolakan ini adalah bentuk pembelaan terhadap kemurnian agama agar tidak terdistorsi oleh paham-paham yang menyimpang dari jalan para sahabat dan salafush shalih.

1. Perbedaan Fundamental dalam Rukun Iman dan Islam

Bagi mayoritas umat Islam, rukun iman dan rukun Islam adalah sesuatu yang bersifat tauqifi (telah ditetapkan dari wahyu). Namun, Syiah merombak struktur ini dengan memasukkan "Imamah" (kepemimpinan 12 Imam) sebagai rukun iman yang paling utama. Menurut mereka, seseorang tidak dianggap beriman jika tidak meyakini kepemimpinan Imam mereka, meskipun orang tersebut menjalankan shalat, zakat, dan haji.

Ulama Sunni memandang hal ini sebagai pembatasan rahmat Allah dan pengada-adaan dalam agama. Islam adalah agama yang mudah dan jelas, sebagaimana firman Allah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Ma'idah: 3).

Syiah yang mengklaim adanya rukun iman tambahan (Imamah) secara tidak langsung menyatakan bahwa agama ini belum sempurna saat Nabi ﷺ wafat.

2. Penghinaan terhadap Sahabat: Garis Merah yang Dilanggar

Salah satu alasan emosional dan teologis yang paling kuat dalam penolakan ini adalah tradisi Subbul Shahabah (mencaci sahabat) yang mendarah daging dalam ajaran Syiah. Bagi mayoritas Muslim, mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat lainnya adalah bagian dari iman. Sahabat adalah saksi hidup turunnya wahyu.

Ketika Syiah mengkafirkan para sahabat, mereka secara praktis memutus rantai transmisi Islam. Bagaimana kita bisa percaya pada Al-Qur'an dan Hadits jika para pembawanya (sahabat) dianggap sebagai pengkhianat dan murtad? Allah SWT telah menegaskan kesucian para sahabat dalam Al-Qur'an:

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka menjanjikan setia kepadamu di bawah pohon..." (QS. Al-Fath: 18).

Penolakan umat Islam terhadap Syiah adalah bentuk kesetiaan kepada Rasulullah ﷺ dengan membela kehormatan para murid terbaik beliau.

3. Doktrin Taqiyyah yang Menghancurkan Kepercayaan

Mayoritas umat Islam menjunjung tinggi kejujuran sebagai akhlak utama. Namun, dalam Syiah, Taqiyyah (berbohong demi kepentingan agama) dianggap sebagai ibadah agung. Hal ini membuat interaksi sosial dan keagamaan dengan kelompok Syiah menjadi sangat sulit. Umat Islam sulit membedakan mana ucapan mereka yang jujur dan mana yang merupakan strategi penipuan.

Ketidakjujuran yang dilegalkan secara religius ini dianggap oleh ulama Sunni sebagai ciri kemunafikan. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

"Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan ke surga." (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Praktek Ibadah yang Menyerupai Kesyirikan

Banyak ritual Syiah yang dianggap oleh mayoritas umat Islam telah keluar dari batas tauhid. Misalnya, praktik Istighatsah (memohon bantuan) secara langsung kepada para Imam yang sudah wafat dengan seruan "Ya Ali Madad" atau "Ya Husain". Bagi Ahlus Sunnah, doa hanya boleh ditujukan langsung kepada Allah SWT.

Selain itu, ritual menyiksa diri pada hari Asyura (melukai kepala dan badan hingga berdarah) dianggap sebagai perbuatan jahiliyah yang dilarang dalam Islam. Islam adalah agama yang menjaga jiwa (hifzun nafs), bukan menyiksanya dengan alasan kesedihan yang berlebihan atas kematian Husain radhiyallahu 'anhu.

5. Ancaman Stabilitas Keamanan dan Nasionalisme

Secara geopolitik, mayoritas umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia, melihat Syiah sebagai ancaman terhadap stabilitas nasional. Hal ini disebabkan oleh doktrin Wilayatul Faqih yang mewajibkan setiap penganut Syiah di mana pun berada untuk setia secara mutlak kepada pemimpin tertinggi (Rahbar) di Iran.

Hal ini menciptakan potensi konflik loyalitas. Sejarah telah membuktikan di berbagai negara Timur Tengah bagaimana minoritas Syiah sering digunakan sebagai alat politik untuk menggoyang pemerintahan yang sah. Di Indonesia, yang menjunjung tinggi ukhuwah dan persatuan, ajaran yang membawa misi provokasi terhadap mayoritas tentu akan ditolak secara alamiah.

6. Syariat Nikah Mut'ah yang Merusak Moral

Penolakan terhadap Syiah juga didasari oleh kekhawatiran terhadap rusaknya moralitas masyarakat akibat legalisasi Nikah Mut'ah (kawin kontrak). Mayoritas umat Islam melihat Mut'ah tak ubahnya sebagai prostitusi terselubung yang merendahkan martabat wanita dan merusak nasab (keturunan). Islam Sunni telah sepakat berdasarkan hadits shahih bahwa Mut'ah telah diharamkan selamanya oleh Rasulullah ﷺ di Perang Khaibar dan saat Fathu Makkah.

7. Penyelewengan Makna Al-Qur'an (Tafsir Bathiniyah)

Umat Islam menolak cara Syiah menafsirkan Al-Qur'an. Mereka sering kali memaksakan ayat-ayat Al-Qur'an agar seolah-olah berbicara tentang Imamah atau Ali bin Abi Thalib melalui tafsir Bathiniyah yang tidak masuk akal secara bahasa maupun konteks sejarah. Penyelewengan makna kalamullah ini dianggap sebagai tindakan yang sangat berani dan menyesatkan.


Kesimpulan

Mayoritas umat Islam menolak Syiah karena alasan yang sangat prinsipil: menjaga kemurnian akidah Tauhid, menjaga kehormatan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, serta menjaga keutuhan syariat dari praktik-praktik yang menyerupai masa jahiliyah. Penolakan ini adalah mekanisme pertahanan iman agar Islam tetap menjadi agama yang lurus sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Bagi masyarakat Indonesia, kewaspadaan ini sangat penting agar kedamaian dan kerukunan yang berlandaskan kebenaran akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak dirusak oleh ideologi yang membawa benih perpecahan dan kesesatan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: