Syiahindonesia.com - Sejarah Islam mencatat bahwa umat Islam pernah mengalami berbagai fitnah (ujian besar) yang menyebabkan perpecahan dan pertentangan di tengah kaum muslimin. Salah satu kelompok yang sering dikaitkan dengan berbagai polemik dalam sejarah tersebut adalah Syiah. Dalam banyak literatur klasik para ulama Ahlus Sunnah, Syiah dipandang sebagai kelompok yang membawa berbagai pemikiran yang menyimpang dari ajaran Islam yang murni sebagaimana dipahami oleh para sahabat Nabi ﷺ. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami secara ilmiah bagaimana peran pemikiran Syiah dalam berbagai fitnah yang pernah muncul dalam sejarah Islam, agar umat tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang dapat merusak akidah dan persatuan kaum muslimin.
Pengertian Fitnah dalam Islam
Dalam Islam, istilah fitnah memiliki makna yang luas. Fitnah dapat berarti ujian, cobaan, kesesatan, maupun kekacauan yang menyebabkan manusia menjauh dari kebenaran. Allah Ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.”
(QS. Al-Anfal: 25)
Ayat ini menjelaskan bahwa fitnah dapat menimpa seluruh masyarakat apabila dibiarkan berkembang tanpa diluruskan.
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan umatnya tentang datangnya berbagai fitnah di akhir zaman:
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ
“Bersegeralah kalian beramal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita.”
(HR. Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu bentuk fitnah terbesar adalah penyimpangan dalam akidah dan pemikiran yang menyebar di tengah umat.
Awal Kemunculan Syiah dalam Sejarah Islam
Kemunculan Syiah dalam sejarah Islam tidak dapat dipisahkan dari konflik politik setelah wafatnya Nabi ﷺ. Sebagian kelompok berpendapat bahwa kepemimpinan umat Islam seharusnya berada di tangan keluarga Nabi, khususnya melalui Ali bin Abi Thalib.
Namun mayoritas sahabat memilih Abu Bakar sebagai khalifah melalui musyawarah. Perbedaan pandangan ini pada awalnya bersifat politik, tetapi kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis yang mendalam.
Dalam literatur sejarah Islam, banyak ulama menyebut bahwa berbagai kelompok ekstrem mulai muncul dalam tubuh Syiah setelah wafatnya para sahabat utama.
Sikap Syiah terhadap Para Sahabat Nabi
Salah satu hal yang sering menjadi kritik para ulama Ahlus Sunnah terhadap sebagian ajaran Syiah adalah sikap mereka terhadap para sahabat Nabi ﷺ.
Dalam Islam, para sahabat memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena mereka adalah generasi yang langsung menerima ajaran Islam dari Rasulullah ﷺ. Allah Ta’ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menunjukkan bahwa para sahabat Nabi mendapatkan keridhaan Allah.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela para sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa mencela sahabat merupakan perkara yang sangat berbahaya bagi akidah seorang Muslim.
Doktrin Imamah dan Potensi Konflik
Dalam teologi Syiah, terdapat konsep Imamah yang menyatakan bahwa kepemimpinan umat harus berada pada imam-imam tertentu dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah.
Konsep ini berbeda dengan pandangan Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa kepemimpinan umat dapat ditentukan melalui musyawarah umat Islam.
Perbedaan ini kemudian melahirkan berbagai perdebatan teologis yang panjang dalam sejarah Islam.
Taqiyyah dan Kontroversinya
Salah satu konsep yang sering dibahas dalam kajian tentang Syiah adalah taqiyyah. Dalam literatur Syiah, taqiyyah dipahami sebagai bentuk menyembunyikan keyakinan ketika berada dalam kondisi bahaya.
Sebagian ulama Ahlus Sunnah mengkritik konsep ini karena dianggap dapat membuka pintu bagi penyebaran ajaran secara tersembunyi yang sulit dideteksi oleh masyarakat umum.
Namun dalam sejarah, konsep perlindungan diri ketika berada dalam ancaman sebenarnya juga dikenal dalam Islam secara umum, sebagaimana kisah seorang mukmin dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya.
Peran Propaganda dalam Penyebaran Ideologi
Dalam berbagai periode sejarah, penyebaran ideologi sering dilakukan melalui propaganda, baik melalui tulisan, ceramah, maupun jaringan politik.
Beberapa kerajaan dalam sejarah Islam bahkan pernah menjadikan mazhab tertentu sebagai ideologi negara. Hal ini menyebabkan persaingan antara berbagai kelompok pemikiran dalam dunia Islam.
Karena itu, para ulama selalu menekankan pentingnya kembali kepada sumber utama ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.
Pentingnya Ilmu dalam Menghadapi Fitnah
Fitnah pemikiran tidak dapat dihadapi dengan emosi semata. Cara terbaik untuk menghadapi penyimpangan adalah dengan ilmu.
Allah Ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam harus merujuk kepada para ulama yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama.
Para ulama sepanjang sejarah telah menulis banyak karya untuk menjelaskan perbedaan antara akidah Ahlus Sunnah dan berbagai aliran yang dianggap menyimpang.
Upaya Menjaga Persatuan Umat
Walaupun sejarah mencatat berbagai konflik, Islam tetap menekankan pentingnya menjaga persatuan umat.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa persaudaraan dalam Islam merupakan prinsip yang sangat penting.
Para ulama menjelaskan bahwa menjaga akidah yang benar sekaligus menjaga persatuan umat merupakan dua hal yang harus berjalan bersamaan.
Kesimpulan
Sejarah Islam menunjukkan bahwa berbagai fitnah pernah muncul dalam tubuh umat Islam. Perbedaan pandangan politik dan teologis menjadi salah satu faktor utama munculnya berbagai kelompok, termasuk Syiah.
Dalam pandangan banyak ulama Ahlus Sunnah, beberapa ajaran dalam Syiah dianggap menyimpang dari pemahaman generasi sahabat. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami sejarah dan ajaran Islam secara mendalam agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai pemikiran yang dapat merusak akidah.
Pada saat yang sama, umat Islam juga harus tetap menjaga persaudaraan dan tidak mudah terprovokasi oleh konflik yang dapat memperparah perpecahan.
Dengan ilmu, hikmah, dan kembali kepada Al-Qur’an serta Sunnah, umat Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai fitnah yang muncul di setiap zaman.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: