Breaking News
Loading...

Sejarah Berdarah Perpecahan Islam yang Disebabkan oleh Syiah

Syiahindonesia.com - Sejarah Islam mencatat masa-masa keemasan di bawah naungan wahyu dan kepemimpinan para Sahabat Nabi yang mulia. Namun, kejayaan tersebut harus ternoda oleh munculnya benih-benih fitnah yang berujung pada pertumpahan darah di antara sesama Muslim. Jika kita menelusuri akar sejarah secara jujur dan kritis, maka akan tampak jelas bahwa kemunculan sekte Syiah merupakan faktor utama yang memicu keretakan ukhuwah dan rentetan konflik berdarah sepanjang masa. Dimulai dari konspirasi bawah tanah hingga pemberontakan terbuka, doktrin-doktrin Syiah telah merobek tenun persatuan umat. Artikel ini akan mengulas lembaran hitam sejarah perpecahan Islam yang diakibatkan oleh ideologi ini.


1. Tragedi Terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan

Pintu pertama fitnah berdarah dalam Islam terbuka dengan syahidnya Khalifah ketiga, Utsman bin Affan RA. Tragedi ini tidak terjadi secara spontan, melainkan hasil provokasi sistematis yang dipelopori oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam dan menjadi peletak dasar ideologi Syiah (Sabaiyah).

Modus Operandi: Abdullah bin Saba’ menyebarkan paham bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penerima wasiat Nabi yang haknya dirampas oleh Utsman. Provokasi ini berhasil menghasut massa dari berbagai daerah untuk mengepung rumah Khalifah dan membunuhnya saat beliau sedang membaca Al-Qur'an. Pembunuhan ini adalah hulu dari segala peperangan saudara yang terjadi kemudian, karena stabilitas politik Islam runtuh seketika akibat dendam dan tuntutan keadilan yang belum terpenuhi.


2. Perang Jamal dan Shiffin: Adu Domba di Tengah Sahabat

Setelah wafatnya Utsman, umat Islam terbelah dalam menyikapi tuntutan qishash (keadilan hukum) bagi para pembunuh Utsman. Meskipun Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Thalhah, dan Zubair radhiyallahu 'anhum semuanya adalah orang-orang mulia yang menginginkan kebaikan, keberadaan para pengikut Abdullah bin Saba’ di dalam barisan pasukan Ali memastikan bahwa perdamaian tidak akan pernah terjadi.

  • Perang Jamal: Saat perundingan damai hampir mencapai kesepakatan, kelompok Sabaiyah melakukan serangan malam ke kedua belah pihak secara sembunyi-sembunyi agar kedua kubu saling menuduh berkhianat. Pertempuran pecah dan ribuan Muslim gugur akibat adu domba ini.

  • Perang Shiffin: Konflik berlanjut antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Syiah menggunakan momentum ini untuk terus mempertajam kebencian dan menolak segala bentuk arbitrase (tahkim) yang bertujuan menghentikan pertumpahan darah.


3. Pengkhianatan Penduduk Kufah pada Peristiwa Karbala

Salah satu sejarah paling berdarah yang sering dieksploitasi oleh Syiah adalah tragedi Karbala. Namun, manipulasi sejarah sering menyembunyikan fakta bahwa pihak yang paling bertanggung jawab secara moral atas gugurnya Husain bin Ali RA adalah para pengikut Syiah di Kufah sendiri.

Fakta yang Disembunyikan: Ribuan warga Kufah mengirim surat janji setia dan mengundang Husain RA untuk memimpin mereka melawan Yazid. Namun, ketika pasukan Ubaidullah bin Ziyad datang menekan, orang-orang yang mengaku "Syiah Husain" ini justru bersembunyi di rumah-rumah mereka dan membiarkan Husain RA terkepung di Karbala tanpa bantuan. Pengkhianatan inilah yang menyebabkan Husain RA gugur sebagai syuhada. Ironisnya, Syiah masa kini justru merayakan pengkhianatan leluhur mereka dengan ritual menyakiti diri sendiri.


4. Kekejaman Daulah Shafawiyah dan Pengusiran Sunni

Lonjakan konflik berdarah mencapai puncaknya pada abad ke-16 dengan berdirinya Daulah Shafawiyah di Persia (Iran). Penguasa pertama, Shah Ismail I, menjadikan Syiah sebagai ideologi negara dan memaksa penduduk Sunni yang saat itu mayoritas untuk berpindah keyakinan atau dibantai.

Sejarah mencatat ratusan ribu penganut Ahlus Sunnah dibunuh secara keji, masjid-masjid dihancurkan, dan para ulama Sunni dipaksa melaknat para Sahabat Nabi di mimbar-mimbar. Peristiwa ini secara permanen mengubah peta demografi dan menciptakan sentimen kebencian yang masih terasa hingga konflik Timur Tengah hari ini.


Dampak bagi Persatuan Umat Islam Saat Ini

Sejarah berdarah yang dipicu oleh doktrin Syiah membawa dampak jangka panjang:

  1. Melemahnya Kekuatan Islam: Energi umat habis terkuras untuk konflik internal alih-alih melawan musuh luar.

  2. Lahirnya Dendam Sektarian: Syiah terus menghidupkan narasi "korban" dan "balas dendam" melalui ritual tahunan untuk menjaga bara perpecahan tetap menyala.

  3. Infiltrasi Ideologi: Di Indonesia, sejarah ini berusaha ditutup-tutupi dengan jargon "persatuan", padahal di dalam kitab mereka tetap berisi doktrin yang menghalalkan darah penganut Sunni.

Kesimpulan

Perpecahan dalam Islam bukanlah takdir yang tanpa sebab, melainkan hasil dari infiltrasi ideologi yang merusak kehormatan Sahabat dan mempolitisasi agama. Sejarah berdarah dari masa Abdullah bin Saba’ hingga Daulah Shafawiyah membuktikan bahwa setiap kali Syiah mendapatkan pengaruh, pertumpahan darah di kalangan Muslim sering kali menyusul. Mencintai keluarga Nabi adalah kewajiban, namun hal itu harus tegak di atas kecintaan kepada para Sahabat dan persaudaraan sesama Muslim, bukan di atas narasi dendam dan perpecahan.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: