Breaking News
Loading...

Syiah dan Penyimpangan Mereka dalam Memahami Sifat Allah

 


Syiahindonesia.com -
Pembahasan tentang sifat-sifat Allah merupakan bagian penting dalam akidah Islam. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits yang sahih tanpa melakukan penolakan (ta’thil), penyerupaan (tasybih), perubahan makna (tahrif), maupun mempertanyakan bagaimana hakikatnya (takyif). Metode ini dikenal sebagai manhaj para sahabat dan generasi salaf. Namun dalam sejarah teologi Islam, muncul berbagai kelompok yang menafsirkan sifat-sifat Allah dengan pendekatan yang berbeda, termasuk sebagian kelompok dalam Syiah yang dipengaruhi pemikiran filsafat dan teologi rasional. Perbedaan metode ini kemudian melahirkan sejumlah penyimpangan dalam memahami sifat-sifat Allah menurut perspektif ulama Ahlus Sunnah.


1. Prinsip Ahlus Sunnah dalam Memahami Sifat Allah

Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki prinsip yang jelas dalam menetapkan sifat-sifat Allah, yaitu:

  1. Menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur’an.

  2. Menetapkan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits sahih.

  3. Tidak menyerupakan Allah dengan makhluk.

  4. Tidak menolak atau menafsirkan sifat-sifat tersebut secara menyimpang.

Allah ﷻ berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura: 11)

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa Allah memiliki sifat, namun sifat tersebut tidak menyerupai makhluk.


2. Pengaruh Ilmu Kalam dalam Teologi Syiah

Dalam perkembangan teologinya, Syiah banyak dipengaruhi oleh ilmu kalam, yaitu pendekatan teologi yang menggunakan logika filsafat Yunani untuk membahas masalah akidah.

Akibatnya, sebagian ulama Syiah menafsirkan sifat-sifat Allah dengan pendekatan rasional yang terkadang menolak makna zahir dari ayat dan hadits.

Sebagai contoh:

  • Sifat tangan Allah sering ditafsirkan sebagai “kekuasaan”.

  • Sifat bersemayam di atas Arsy ditafsirkan sebagai “menguasai”.

  • Sifat turunnya Allah ke langit dunia ditafsirkan secara metaforis.

Padahal dalam metode Ahlus Sunnah, sifat-sifat tersebut diterima sebagaimana datangnya tanpa menyerupakan dengan makhluk.


3. Penolakan terhadap Sebagian Sifat Allah

Sebagian literatur teologi Syiah menolak atau menakwil sejumlah sifat Allah karena dianggap berpotensi menyerupakan Allah dengan makhluk.

Padahal Al-Qur’an sendiri menyebutkan banyak sifat Allah secara jelas.

Allah ﷻ berfirman:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy.”
(QS. Thaha: 5)

Dalam tafsir Ahlus Sunnah, ayat ini diterima tanpa menanyakan bagaimana bentuknya.

Imam Malik رحمه الله pernah berkata:

“Istiwa itu diketahui maknanya, bagaimana caranya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Metode ini menunjukkan keseimbangan antara menetapkan sifat Allah dan menjaga keagungan-Nya.


4. Pengaruh Filsafat dalam Penafsiran Sifat Allah

Dalam sejarah intelektual Syiah, banyak tokohnya yang dipengaruhi filsafat Yunani dan pemikiran rasionalis.

Tokoh-tokoh seperti:

  • Nasiruddin Ath-Thusi

  • Mulla Shadra

mengembangkan teologi yang menggabungkan filsafat dengan ajaran agama.

Akibatnya, konsep tentang sifat Allah sering dijelaskan melalui pendekatan metafisika yang kompleks, yang tidak dikenal dalam generasi sahabat dan tabi’in.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
“Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ini menunjukkan pentingnya mengikuti metode generasi awal Islam dalam memahami akidah.


5. Konsep Imam Makshum yang Mendekati Pengkultusan

Dalam teologi Syiah, para imam dianggap memiliki kedudukan sangat tinggi bahkan diyakini maksum.

Sebagian literatur Syiah menyebutkan bahwa imam memiliki ilmu yang luas dan otoritas spiritual yang besar.

Hal ini menimbulkan kritik dari ulama Ahlus Sunnah karena berpotensi menggeser fokus tauhid dari Allah kepada figur manusia.

Padahal Islam menegaskan bahwa kesempurnaan mutlak hanya milik Allah.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu.”
(QS. Al-Ikhlas: 1–2)


6. Perbedaan Metodologi Akidah

Secara umum, perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah dalam memahami sifat Allah terletak pada metodologi.

Metode Ahlus Sunnah:

  • Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah

  • Mengikuti pemahaman sahabat

  • Menolak spekulasi filsafat dalam akidah

Sementara sebagian teologi Syiah:

  • Menggunakan pendekatan rasional filsafat

  • Menakwil ayat-ayat sifat

  • Menyusun sistem teologi yang kompleks

Perbedaan metode ini menghasilkan kesimpulan akidah yang berbeda.


7. Pentingnya Menjaga Kemurnian Tauhid

Tauhid adalah inti ajaran Islam. Memahami sifat-sifat Allah dengan benar merupakan bagian penting dari menjaga kemurnian tauhid.

Allah ﷻ berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Milik Allah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama tersebut.”
(QS. Al-A’raf: 180)

Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam harus menetapkan nama dan sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam wahyu.


8. Sikap Bijak dalam Menyikapi Perbedaan

Meskipun terdapat perbedaan teologis yang mendasar, umat Islam tetap diperintahkan untuk bersikap adil dan bijak.

Allah ﷻ berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Pendekatan ilmiah, dialog yang sehat, serta penguatan pendidikan akidah menjadi cara terbaik dalam menghadapi penyimpangan pemahaman agama.


Kesimpulan

Penyimpangan Syiah dalam memahami sifat Allah menurut perspektif ulama Ahlus Sunnah terutama berkaitan dengan metode penafsiran yang dipengaruhi filsafat dan ilmu kalam. Penakwilan berlebihan terhadap ayat-ayat sifat, pengaruh pemikiran rasional, serta konsep otoritas imam dalam agama menjadi faktor yang membedakan pendekatan teologi Syiah dari manhaj Ahlus Sunnah.

Karena itu, penting bagi umat Islam untuk kembali kepada metode generasi awal Islam dalam memahami akidah, yaitu berpegang kepada Al-Qur’an, Sunnah yang sahih, serta pemahaman para sahabat. Dengan cara ini, kemurnian tauhid dapat terjaga dan umat Islam dapat tetap bersatu di atas prinsip kebenaran.

Semoga Allah ﷻ memberikan kita pemahaman agama yang benar dan melindungi umat Islam dari penyimpangan akidah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: