Breaking News
Loading...

Syiah dan Pengkhianatan Mereka terhadap Umat Islam Sepanjang Sejarah


Syiahindonesia.com -
Sejarah Islam bukan hanya catatan tentang kejayaan, tetapi juga tentang konflik internal yang meninggalkan luka panjang. Salah satu polemik yang terus diperbincangkan hingga hari ini adalah hubungan antara Syiah dan mayoritas umat Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebagian kalangan menilai bahwa sepanjang sejarah, gerakan politik dan teologis Syiah telah berulang kali menimbulkan perpecahan, konflik, bahkan dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap persatuan umat. Artikel ini akan membahas tudingan tersebut secara historis dan teologis, agar umat Islam di Indonesia memahami akar persoalan ini secara ilmiah dan proporsional.


1. Awal Mula Perpecahan Politik Pasca Wafat Nabi ﷺ

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, umat Islam menghadapi persoalan kepemimpinan. Mayoritas sahabat bermusyawarah di Saqifah dan membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah pertama.

Sebagian kecil kelompok berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu lebih berhak memimpin. Dari sinilah cikal bakal Syiah (secara bahasa berarti “pengikut”) muncul sebagai kelompok pendukung Ali.

Perbedaan ini awalnya bersifat politik, bukan teologis. Namun dalam perkembangannya, ia berubah menjadi doktrin akidah yang menetapkan bahwa kepemimpinan adalah hak ilahi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Padahal Allah telah berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Dalam perspektif Ahlus Sunnah, musyawarah sahabat merupakan bagian dari prinsip syura yang dibenarkan syariat.


2. Tuduhan Terhadap Mayoritas Sahabat

Salah satu tudingan paling serius dalam literatur klasik Syiah adalah penilaian negatif terhadap sebagian besar sahabat Nabi ﷺ. Sebagian teks menyatakan bahwa mayoritas sahabat menyimpang setelah wafatnya Nabi.

Konsekuensi dari keyakinan ini sangat besar, karena Al-Qur’an dan Sunnah sampai kepada kita melalui para sahabat.

Allah berfirman:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Nabi ﷺ juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika generasi terbaik dianggap berkhianat, maka kredibilitas transmisi agama ikut dipertanyakan. Inilah yang menjadi salah satu titik paling sensitif dalam hubungan Sunni-Syiah.


3. Peran Politik Syiah dalam Dinasti dan Pemberontakan

Dalam sejarah Islam, muncul beberapa gerakan politik yang mengatasnamakan Ahlul Bait, seperti Dinasti Fathimiyah di Mesir dan berbagai pemberontakan atas nama keluarga Nabi.

Sebagian sejarawan Sunni menilai bahwa beberapa gerakan tersebut memanfaatkan sentimen kecintaan kepada Ahlul Bait untuk meraih kekuasaan politik.

Namun penting dicatat bahwa sejarah sangat kompleks. Tidak semua peristiwa bisa digeneralisasi sebagai “pengkhianatan”. Banyak faktor politik, sosial, dan ekonomi yang memengaruhi konflik internal umat.

Meski demikian, dari sudut pandang Ahlus Sunnah, ketika agama dijadikan alat legitimasi politik yang eksklusif dan mengkafirkan pihak lain, maka hal itu dianggap sebagai bentuk perpecahan yang membahayakan umat.


4. Tragedi Karbala dan Dampaknya terhadap Identitas Syiah

Tragedi Karbala (680 M) menjadi titik penting dalam pembentukan identitas Syiah. Wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma dalam konflik dengan pasukan Yazid bin Muawiyah membekas dalam sejarah Islam.

Bagi Syiah, peristiwa ini adalah simbol kezaliman terhadap Ahlul Bait. Bagi Ahlus Sunnah, peristiwa tersebut adalah tragedi politik yang menyedihkan, namun tidak dijadikan dasar teologi baru.

Perbedaan cara memaknai Karbala kemudian membentuk dua narasi sejarah yang berbeda.


5. Doktrin Imamah sebagai Sistem Tertutup

Dalam ajaran Syiah Imamiyah, imamah merupakan rukun agama. Imam dianggap ma’shum dan memiliki otoritas mutlak dalam tafsir agama.

Keyakinan ini berbeda dengan prinsip Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa wahyu telah sempurna:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Ketika otoritas agama dipusatkan pada figur tertentu yang dianggap ma’shum, muncul potensi eksklusivitas dan pengkotakan umat.


6. Konflik Sunni-Syiah dalam Sejarah Politik Modern

Dalam sejarah modern, konflik Sunni-Syiah juga terjadi di beberapa wilayah seperti Irak, Suriah, Yaman, dan Lebanon. Konflik ini sering kali bercampur antara faktor teologi dan kepentingan geopolitik.

Sebagian pihak menilai bahwa penggunaan identitas mazhab untuk kepentingan politik adalah bentuk pengkhianatan terhadap prinsip persatuan umat.

Allah berfirman:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal: 46)

Perpecahan internal sering dimanfaatkan oleh kekuatan eksternal untuk melemahkan dunia Islam.


7. Apakah Istilah “Pengkhianatan” Tepat?

Istilah “pengkhianatan” dalam diskursus ini biasanya merujuk pada:

  1. Penolakan terhadap legitimasi khilafah awal.

  2. Kritik keras terhadap mayoritas sahabat.

  3. Pengembangan teologi yang dianggap menyelisihi konsensus umat.

  4. Keterlibatan dalam konflik sektarian.

Namun secara ilmiah, penting untuk membedakan antara kritik teologis dan generalisasi terhadap individu. Tidak semua penganut Syiah memiliki niat merusak umat. Banyak yang mengikuti ajaran tersebut karena faktor lingkungan dan pendidikan.

Pendekatan yang lebih tepat adalah mengkritisi doktrin, bukan memusuhi individu.


8. Sikap yang Bijak bagi Umat Islam Indonesia

Indonesia dikenal sebagai negara dengan tradisi Islam moderat dan damai. Menghadapi perbedaan mazhab dan teologi, langkah yang bijak adalah:

  • Memperkuat pemahaman akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

  • Mengajarkan sejarah Islam secara objektif dan ilmiah.

  • Menghindari provokasi dan kekerasan.

  • Mengedepankan dialog ilmiah.

Allah berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)

Menjaga persatuan umat bukan berarti mengaburkan perbedaan akidah, tetapi mengelolanya dengan hikmah.


9. Pelajaran dari Sejarah

Sejarah konflik Sunni-Syiah mengajarkan bahwa:

  • Perbedaan politik bisa berubah menjadi doktrin teologis.

  • Identitas mazhab dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan.

  • Perpecahan internal melemahkan umat secara global.

Karena itu, umat Islam perlu kembali kepada prinsip dasar yang diajarkan Nabi ﷺ:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَن تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُم بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.”

Kembali kepada sumber utama agama adalah cara terbaik untuk menghindari perpecahan.


Kesimpulan

Istilah “pengkhianatan” dalam konteks hubungan Syiah dan umat Islam sepanjang sejarah muncul dari sudut pandang Ahlus Sunnah yang menilai adanya penyimpangan teologis dan konflik politik yang melemahkan persatuan umat. Tuduhan tersebut berakar pada perbedaan mendasar dalam konsep imamah, pandangan terhadap sahabat, serta struktur otoritas agama.

Namun, sejarah harus dipahami secara menyeluruh dan adil. Kritik terhadap doktrin perlu dilakukan dengan dalil dan ilmu, bukan dengan kebencian atau kekerasan.

Bagi umat Islam Indonesia, langkah terbaik adalah memperkuat akidah, menjaga persatuan, dan menghindari konflik sektarian yang hanya akan merugikan umat secara keseluruhan.

Semoga Allah menjaga umat Islam dari perpecahan dan membimbing kita kepada jalan yang lurus.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: