Syiahindonesia.com - Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, berbagai kelompok muncul dengan pemahaman dan keyakinan yang berbeda-beda. Salah satu kelompok yang paling banyak menjadi perdebatan di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Syiah. Dalam berbagai literatur klasik para ulama, terdapat sejumlah keyakinan dalam Syiah yang dinilai tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi ﷺ. Sebagian keyakinan tersebut bahkan dianggap sebagai mitos teologis yang berkembang karena faktor sejarah, politik, dan pengaruh pemikiran tertentu. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami secara ilmiah beberapa keyakinan tersebut agar dapat membedakan antara ajaran Islam yang murni dengan keyakinan yang tidak memiliki landasan yang sahih.
Mitos Kemaksuman Para Imam
Salah satu keyakinan utama dalam Syiah Imamiyah adalah doktrin kemaksuman para imam. Mereka meyakini bahwa para imam dari keturunan Ahlul Bait memiliki sifat ma’shum, yaitu terbebas dari dosa dan kesalahan.
Imam pertama yang diyakini oleh Syiah adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian diikuti oleh imam-imam lain dari keturunannya melalui jalur Fatimah dan Husain bin Ali.
Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sifat kemaksuman hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada dalil yang sahih dalam Al-Qur’an maupun hadits yang menyatakan bahwa para imam setelah Nabi ﷺ memiliki sifat ma’shum.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul.”
(QS. Ali Imran: 144)
Ayat ini menunjukkan bahwa kedudukan kenabian memiliki batas yang jelas, dan tidak diwariskan kepada tokoh lain setelah Nabi ﷺ.
Mitos tentang Dua Belas Imam yang Ditentukan Secara Ilahi
Keyakinan lain dalam Syiah Imamiyah adalah adanya dua belas imam yang diyakini telah ditentukan oleh Allah sebagai pemimpin umat Islam.
Imam-imam tersebut diyakini berasal dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan berakhir pada imam ke-12 yang diyakini menghilang dari dunia.
Dalam pandangan Ahlus Sunnah, tidak terdapat ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit menyebutkan jumlah imam tersebut sebagai rukun agama.
Sebaliknya, Al-Qur’an menekankan pentingnya musyawarah dalam urusan umat:
وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ
“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.”
(QS. Asy-Syura: 38)
Ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan umat Islam dapat ditentukan melalui proses musyawarah, bukan melalui penunjukan garis keturunan tertentu.
Mitos tentang Imam Mahdi yang Menghilang
Salah satu keyakinan yang paling terkenal dalam Syiah adalah kepercayaan tentang Imam Mahdi yang ghaib.
Syiah Imamiyah meyakini bahwa imam ke-12 mereka menghilang sejak abad ke-9 dan akan kembali pada akhir zaman untuk menegakkan keadilan di dunia.
Sebagian literatur Syiah menyebut bahwa imam tersebut masih hidup hingga saat ini dalam keadaan ghaib.
Sementara itu, dalam pandangan Ahlus Sunnah, memang terdapat hadits-hadits tentang kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman. Namun, hadits-hadits tersebut tidak menyebutkan bahwa Mahdi telah lahir ratusan tahun yang lalu lalu menghilang.
Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan bahwa Imam Mahdi adalah seorang manusia biasa yang akan lahir menjelang akhir zaman.
Mitos tentang Kitab Mushaf Fatimah
Dalam sebagian literatur Syiah klasik terdapat pembahasan mengenai Mushaf Fatimah, yaitu kitab yang diyakini berisi wahyu atau pengetahuan khusus yang diberikan kepada Fatimah.
Sebagian ulama Ahlus Sunnah mengkritik keyakinan ini karena dapat menimbulkan kesalahpahaman bahwa terdapat wahyu lain selain Al-Qur’an.
Padahal Allah Ta’ala telah menegaskan kesempurnaan Al-Qur’an:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini menjadi dasar bahwa wahyu telah sempurna dan tidak ada kitab lain yang menjadi sumber syariat setelah Al-Qur’an.
Mitos tentang Keutamaan Imam Melebihi Para Nabi
Dalam sebagian teks ekstrem Syiah, terdapat pernyataan yang menempatkan para imam pada kedudukan yang sangat tinggi, bahkan dalam sebagian riwayat disebutkan melebihi para nabi selain Nabi Muhammad ﷺ.
Pandangan ini ditolak oleh para ulama Ahlus Sunnah karena bertentangan dengan prinsip dasar Islam bahwa para nabi adalah manusia terbaik yang dipilih oleh Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.”
(QS. Al-An’am: 124)
Ayat ini menegaskan bahwa kedudukan kenabian adalah pilihan Allah yang tidak dapat disamakan dengan kedudukan manusia biasa.
Pentingnya Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah
Para ulama Ahlus Sunnah sepanjang sejarah selalu menekankan bahwa sumber utama agama Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ dengan pemahaman para sahabat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa generasi sahabat memiliki pemahaman agama yang paling benar.
Karena itu, pemahaman agama yang menyelisihi metode generasi awal Islam perlu dikaji secara kritis.
Dampak Mitos Teologis terhadap Persatuan Umat
Keyakinan-keyakinan yang tidak memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi umat Islam, di antaranya:
-
Munculnya konflik teologis
-
Perpecahan di antara kaum muslimin
-
Penyimpangan dalam memahami ajaran Islam
-
Terjadinya kultus terhadap tokoh tertentu
Karena itu, para ulama selalu menekankan pentingnya menjaga kemurnian akidah dan menghindari keyakinan yang tidak memiliki dasar yang kuat dalam dalil.
Kesimpulan
Perkembangan berbagai aliran dalam sejarah Islam menunjukkan bahwa umat Islam pernah menghadapi banyak perbedaan pemikiran. Dalam pandangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagian keyakinan dalam Syiah dinilai tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadits.
Beberapa keyakinan seperti kemaksuman imam, konsep dua belas imam, imam yang ghaib, serta berbagai mitos teologis lainnya dianggap sebagai hasil perkembangan sejarah yang tidak sepenuhnya didukung oleh dalil yang sahih.
Oleh karena itu, umat Islam perlu memperkuat pemahaman agama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat agar tidak mudah terpengaruh oleh keyakinan yang menyimpang.
Dengan ilmu dan pemahaman yang benar, umat Islam diharapkan dapat menjaga kemurnian akidah sekaligus memperkuat persatuan di tengah berbagai perbedaan yang ada.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: