Syiahindonesia.com - Islam yang murni adalah ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ sebagaimana dipahami oleh para sahabat Nabi, tabi’in, dan generasi awal umat Islam. Inilah yang dikenal sebagai manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu mengikuti ajaran Nabi ﷺ dan para sahabatnya tanpa menambah atau mengurangi prinsip-prinsip agama. Sepanjang sejarah, muncul berbagai kelompok yang membawa penafsiran baru terhadap ajaran Islam. Salah satu kelompok yang paling sering diperdebatkan adalah Syiah. Dalam pandangan banyak ulama Ahlus Sunnah, sejumlah doktrin Syiah dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang murni karena bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman generasi sahabat. Artikel ini akan membahas beberapa bukti yang sering disebut dalam literatur ulama mengenai penyimpangan tersebut.
1. Konsep Imamah yang Dijadikan Rukun Agama
Salah satu perbedaan paling mendasar antara Syiah dan Ahlus Sunnah adalah konsep imamah. Dalam ajaran Syiah Itsna ‘Asyariyah, kepemimpinan umat setelah Nabi ﷺ dianggap sebagai bagian dari rukun agama yang wajib diimani.
Mereka meyakini bahwa Allah telah menunjuk dua belas imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Namun dalam Al-Qur’an tidak ada satu ayat pun yang secara jelas menyebutkan:
-
kewajiban mengimani dua belas imam
-
nama para imam tersebut
-
bahwa imamah adalah rukun iman
Padahal Allah ﷻ berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Jika imamah merupakan rukun agama, tentu Al-Qur’an akan menjelaskannya secara tegas.
2. Sikap terhadap Para Sahabat Nabi ﷺ
Ahlus Sunnah meyakini bahwa para sahabat adalah generasi terbaik dalam Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun sebagian ajaran Syiah memiliki pandangan negatif terhadap banyak sahabat, bahkan menuduh sebagian dari mereka telah menyimpang setelah wafat Nabi ﷺ.
Padahal Al-Qur’an memuji para sahabat:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Jika para sahabat diragukan keadilannya, maka transmisi Al-Qur’an dan hadits juga akan dipertanyakan.
3. Doktrin Imam Makshum
Dalam teologi Syiah, para imam diyakini memiliki sifat maksum, yaitu terjaga dari dosa dan kesalahan.
Padahal dalam ajaran Islam, kemaksuman secara mutlak hanya diberikan kepada para nabi yang menerima wahyu dari Allah.
Allah ﷻ berfirman:
اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya.”
(QS. Al-An’am: 124)
Tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa para imam setelah Nabi ﷺ memiliki sifat maksum seperti para nabi.
4. Penafsiran Hadits dan Al-Qur’an yang Berbeda
Syiah memiliki sumber hadits dan metodologi periwayatan yang berbeda dari Ahlus Sunnah.
Kitab hadits utama Syiah antara lain:
-
Al-Kafi
-
Man La Yahduruhu Al-Faqih
-
Tahdzib Al-Ahkam
Sementara Ahlus Sunnah menggunakan kitab hadits seperti:
-
Shahih Bukhari
-
Shahih Muslim
-
Sunan Abu Dawud
-
Sunan Tirmidzi
Perbedaan sumber ini menyebabkan munculnya perbedaan besar dalam memahami ajaran Islam.
5. Konsep Taqiyah
Dalam ajaran Syiah terdapat konsep taqiyah, yaitu menyembunyikan keyakinan dalam kondisi tertentu.
Secara syariat, menyembunyikan iman memang diperbolehkan jika seseorang dipaksa dan terancam.
Allah ﷻ berfirman:
إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
“Kecuali orang yang dipaksa sementara hatinya tetap tenang dalam iman.”
(QS. An-Nahl: 106)
Namun sebagian literatur Syiah menjadikan taqiyah sebagai bagian penting dalam praktik keagamaan, sehingga sering dikritik oleh ulama Ahlus Sunnah karena berpotensi menimbulkan ketidakjujuran dalam penyampaian ajaran.
6. Narasi Sejarah yang Bertentangan dengan Ijma’ Sahabat
Dalam sejarah Islam, para sahabat sepakat mengangkat Abu Bakar رضي الله عنه sebagai khalifah pertama setelah wafat Nabi ﷺ.
Proses ini dilakukan melalui musyawarah para sahabat di Saqifah Bani Sa’idah.
Namun dalam narasi Syiah, peristiwa ini sering digambarkan sebagai bentuk perampasan hak kepemimpinan Ali رضي الله عنه.
Padahal Ali sendiri kemudian berbaiat kepada Abu Bakar dan tidak melakukan pemberontakan terhadap kepemimpinannya.
7. Doktrin Dua Belas Imam dan Imam Mahdi Ghaib
Syiah Itsna ‘Asyariyah meyakini adanya dua belas imam yang terakhir, yaitu Muhammad bin Hasan Al-Askari, yang diyakini menghilang dan akan kembali sebagai Imam Mahdi.
Konsep ini tidak memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur’an maupun hadits sahih menurut ulama Ahlus Sunnah.
Rasulullah ﷺ memang menyebutkan tentang kedatangan Imam Mahdi, namun tidak ada riwayat sahih yang menyatakan bahwa ia telah lahir kemudian menghilang selama berabad-abad.
8. Pentingnya Mengikuti Manhaj Sahabat
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
“Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.”
Ketika ditanya siapa yang selamat, beliau menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“Yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku.”
(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa standar kebenaran dalam Islam adalah mengikuti jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
9. Menjaga Persatuan Umat di atas Kebenaran
Islam sangat menekankan persatuan umat, namun persatuan tersebut harus dibangun di atas dasar akidah yang benar.
Allah ﷻ berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)
Karena itu, umat Islam perlu memahami perbedaan teologis ini secara ilmiah agar tidak terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah.
Kesimpulan
Banyak ulama Ahlus Sunnah menyimpulkan bahwa sejumlah doktrin Syiah tidak sesuai dengan Islam yang murni karena:
-
Menjadikan imamah sebagai rukun agama tanpa dalil jelas.
-
Memiliki pandangan negatif terhadap sebagian sahabat Nabi ﷺ.
-
Mengklaim kemaksuman para imam tanpa dasar yang kuat.
-
Menggunakan sumber hadits yang berbeda dari mayoritas umat Islam.
-
Mengembangkan narasi sejarah yang bertentangan dengan ijma’ sahabat.
Memahami persoalan ini penting agar umat Islam dapat menjaga kemurnian akidah dan tetap berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dipahami oleh generasi sahabat yang mulia.
Semoga Allah ﷻ memberikan kepada kita pemahaman agama yang benar dan menjaga umat Islam dari perpecahan serta penyimpangan akidah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: