Syiahindonesia.com - Dalam kajian sejarah Islam, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah selalu menekankan pentingnya menjaga kemurnian akidah berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Dua sumber ini merupakan fondasi utama yang menjadi pegangan umat Islam sejak masa sahabat hingga generasi setelahnya. Namun dalam perjalanan sejarah, muncul kelompok-kelompok yang menyusun ajaran keagamaan dengan dasar-dasar yang berbeda dari prinsip Islam yang murni. Salah satu kelompok yang sering menjadi perbincangan dalam dunia Islam adalah Syiah. Banyak ulama Ahlus Sunnah mengkaji berbagai kitab rujukan Syiah dan menemukan sejumlah pandangan akidah yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami isi kitab-kitab tersebut agar tidak terpengaruh oleh pemahaman yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sahih.
Pentingnya Sumber Akidah dalam Islam
Dalam Islam, akidah tidak boleh dibangun di atas spekulasi atau tradisi semata. Akidah harus bersumber dari wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ dan dijelaskan melalui sunnah beliau.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul.”
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, setiap pemahaman agama harus memiliki dasar dari Al-Qur’an dan hadits yang sahih.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnahku.”
(HR. Malik dalam Al-Muwaththa)
Prinsip inilah yang menjadi pedoman utama dalam menjaga kemurnian akidah umat Islam.
Kitab-Kitab Rujukan dalam Tradisi Syiah
Dalam tradisi Syiah, terdapat sejumlah kitab yang dijadikan rujukan utama dalam memahami ajaran agama. Beberapa kitab yang sering disebut sebagai literatur penting dalam Syiah antara lain:
-
Al-Kafi karya Al-Kulaini
-
Bihar al-Anwar karya Al-Majlisi
-
Man La Yahduruhu al-Faqih karya As-Shaduq
-
Tahdzib al-Ahkam karya At-Tusi
Kitab-kitab ini memuat berbagai riwayat yang dinisbatkan kepada para imam Syiah. Dalam pandangan penganut Syiah, imam-imam tersebut dianggap memiliki otoritas keagamaan yang sangat tinggi.
Namun ketika para ulama Ahlus Sunnah mengkaji isi kitab-kitab tersebut, ditemukan banyak riwayat yang bertentangan dengan prinsip dasar Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Konsep Imamah yang Berlebihan
Salah satu penyimpangan yang sering ditemukan dalam kitab-kitab Syiah adalah konsep imamah yang sangat berlebihan.
Dalam ajaran Syiah, para imam diyakini memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi, bahkan sebagian riwayat menyebutkan bahwa para imam memiliki pengetahuan gaib.
Padahal Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an:
قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakanlah: tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu gaib hanya dimiliki oleh Allah. Oleh karena itu, memberikan sifat mengetahui perkara gaib kepada manusia merupakan bentuk penyimpangan dalam akidah.
Pengkultusan terhadap Imam
Dalam beberapa riwayat yang terdapat dalam literatur Syiah, para imam digambarkan memiliki kedudukan yang sangat tinggi hingga melebihi sebagian nabi.
Pandangan ini bertentangan dengan prinsip Islam yang menempatkan para nabi dan rasul sebagai manusia pilihan yang memiliki kedudukan paling mulia di sisi Allah.
Allah berfirman:
تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 253)
Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan tertinggi dalam agama diberikan kepada para nabi dan rasul, bukan kepada tokoh-tokoh lain setelah mereka.
Sikap terhadap Para Sahabat Nabi
Salah satu isu paling kontroversial dalam literatur Syiah adalah sikap terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Dalam sejumlah riwayat, terdapat pandangan yang mencela atau merendahkan sebagian sahabat Nabi.
Padahal dalam Al-Qur’an Allah memuji para sahabat:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar…”
(QS. At-Taubah: 100)
Allah kemudian menegaskan bahwa Dia ridha kepada mereka. Oleh karena itu, mencela sahabat Nabi merupakan sikap yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang memuliakan mereka.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi dasar kuat bagi Ahlus Sunnah untuk menjaga kehormatan para sahabat Rasulullah ﷺ.
Riwayat-Riwayat Bermasalah dalam Kitab Syiah
Banyak ulama yang meneliti literatur Syiah menemukan riwayat-riwayat yang dinilai bermasalah, baik dari sisi sanad maupun isi.
Beberapa riwayat tersebut antara lain berisi:
-
Klaim keutamaan imam yang sangat berlebihan
-
Pernyataan yang merendahkan sebagian sahabat Nabi
-
Kisah-kisah yang tidak memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an maupun hadits sahih
Dalam ilmu hadits, setiap riwayat harus melalui proses verifikasi yang ketat, termasuk pemeriksaan sanad dan kredibilitas perawi.
Ahlus Sunnah memiliki metodologi ilmiah yang sangat ketat dalam menilai hadits, sehingga tidak semua riwayat dapat diterima begitu saja.
Bahaya Penyimpangan Akidah bagi Umat
Penyimpangan akidah dapat membawa dampak besar bagi umat Islam, karena akidah adalah fondasi utama dalam agama.
Jika akidah telah menyimpang, maka praktik ibadah dan pemahaman agama juga akan ikut terpengaruh.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.”
(QS. Al-An’am: 153)
Ayat ini menegaskan bahwa jalan Islam adalah jalan yang lurus dan jelas, sehingga umat Islam tidak boleh mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang dari ajaran tersebut.
Pentingnya Edukasi Umat di Indonesia
Di Indonesia, umat Islam hidup dalam masyarakat yang majemuk dengan berbagai aliran pemikiran. Oleh karena itu, edukasi keagamaan menjadi sangat penting agar umat memiliki pemahaman yang benar tentang akidah Islam.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
-
Mempelajari Al-Qur’an dan hadits secara benar
-
Mengikuti kajian dari ulama yang terpercaya
-
Mengkaji sejarah Islam secara objektif
-
Waspada terhadap ajaran yang menyimpang dari prinsip Islam
Dengan pemahaman yang kuat, umat Islam dapat menjaga kemurnian akidah dan tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang.
Kesimpulan
Kajian terhadap kitab-kitab Syiah menunjukkan bahwa terdapat sejumlah pandangan akidah yang berbeda secara mendasar dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Perbedaan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek fiqih, tetapi juga menyentuh prinsip-prinsip utama dalam akidah Islam.
Konsep imamah yang berlebihan, pengkultusan terhadap imam, serta sikap terhadap para sahabat Nabi merupakan beberapa isu yang sering menjadi sorotan dalam kajian tersebut.
Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami sumber-sumber ajaran agama secara benar berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Dengan pemahaman yang kuat, umat Islam dapat menjaga kemurnian akidah serta melindungi generasi mendatang dari berbagai bentuk penyimpangan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: