Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Mengharamkan Beberapa Ibadah yang Diajarkan oleh Rasulullah?

 


Syiahindonesia.com -
Dalam sejarah Islam, umat Muslim telah menerima ajaran agama melalui Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh para sahabat. Ahlus Sunnah wal Jama’ah memegang teguh dua sumber utama ini sebagai pedoman dalam akidah dan ibadah. Namun dalam perkembangan sejarah, muncul berbagai kelompok yang menafsirkan ajaran Islam secara menyimpang. Salah satu kelompok tersebut adalah Syiah. Di Indonesia sendiri, penyebaran ajaran Syiah sering menimbulkan polemik karena banyak praktik ibadah mereka yang berbeda bahkan bertentangan dengan ajaran Rasulullah ﷺ. Dalam beberapa kasus, Syiah bahkan mengharamkan atau menolak sebagian ibadah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: mengapa mereka melakukan hal tersebut?

Artikel ini akan membahas secara mendalam berbagai penyimpangan tersebut, serta menjelaskan mengapa sebagian praktik ibadah yang diajarkan Rasulullah ﷺ justru ditolak oleh Syiah.


Islam Berdiri di Atas Al-Qur’an dan Sunnah

Dalam Islam, dasar ajaran agama adalah Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap Muslim wajib mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam ibadah. Oleh karena itu, setiap ibadah harus memiliki dasar yang jelas dari Al-Qur’an dan hadits yang sahih.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi kaidah penting bahwa ibadah tidak boleh diubah, ditambah, ataupun dikurangi dari apa yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ.


Penyimpangan Konsep Ibadah dalam Syiah

Salah satu perbedaan mendasar antara Ahlus Sunnah dan Syiah terletak pada sumber ajaran agama. Dalam keyakinan Syiah, para imam dianggap memiliki otoritas keagamaan yang sangat tinggi, bahkan sebagian ulama Syiah menyatakan bahwa ucapan para imam setara dengan hadits Nabi.

Akibatnya, banyak praktik ibadah dalam Syiah tidak lagi bersumber dari sunnah Rasulullah ﷺ, tetapi dari riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada imam-imam mereka.

Hal inilah yang kemudian melahirkan berbagai perbedaan besar dalam praktik ibadah.


Penolakan terhadap Beberapa Sunnah Rasulullah ﷺ

Beberapa praktik ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ tidak dijalankan oleh Syiah, bahkan dalam sebagian kasus dianggap tidak sah.

1. Penolakan terhadap Keutamaan Para Sahabat

Salah satu ajaran penting dalam Ahlus Sunnah adalah menghormati dan mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Mereka adalah generasi terbaik yang menyampaikan agama kepada umat setelah Nabi wafat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun dalam banyak literatur Syiah, sebagian sahabat justru dicela bahkan dianggap telah menyimpang setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Pandangan ini sangat bertentangan dengan prinsip Ahlus Sunnah yang memuliakan seluruh sahabat Nabi.

Padahal para sahabat adalah perantara utama dalam penyampaian hadits dan ajaran Islam.


2. Perbedaan dalam Praktik Shalat

Shalat adalah rukun Islam yang paling utama setelah syahadat. Rasulullah ﷺ mengajarkan tata cara shalat secara rinci kepada para sahabat.

Beliau bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(HR. Bukhari)

Namun dalam praktik Syiah terdapat beberapa perbedaan yang cukup signifikan, seperti:

  • Menggabungkan shalat lima waktu secara rutin tanpa uzur.

  • Bersujud di atas tanah atau batu tertentu (turba).

  • Beberapa perbedaan dalam posisi tangan saat shalat.

Praktik-praktik ini tidak dikenal dalam tradisi ibadah yang diajarkan Rasulullah ﷺ kepada para sahabat.


3. Konsep Imamah yang Menggeser Sunnah

Dalam akidah Syiah, konsep imamah menjadi bagian utama dari keimanan. Mereka meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam harus berada pada garis keturunan tertentu dari keluarga Ali bin Abi Thalib.

Sebagian ulama Syiah bahkan menganggap para imam memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi.

Namun konsep ini tidak memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur’an sebagai rukun iman atau rukun Islam.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa ajaran Islam telah sempurna pada masa Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, menambahkan konsep teologis baru sebagai pilar utama agama merupakan penyimpangan dari prinsip Islam yang asli.


4. Praktik Ibadah yang Tidak Diajarkan Nabi

Dalam sebagian praktik keagamaan Syiah terdapat ritual yang tidak dikenal dalam sunnah Nabi, seperti:

  • Ritual ratapan berlebihan pada peringatan Karbala.

  • Tradisi melukai diri dalam peringatan Asyura.

  • Pengagungan berlebihan terhadap imam-imam tertentu.

Padahal Rasulullah ﷺ melarang meratapi kematian secara berlebihan.

Beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ

“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek pakaian (karena meratap).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa praktik ratapan ekstrem bertentangan dengan ajaran Islam.


Penyebaran Syiah di Indonesia

Di Indonesia, penyebaran ajaran Syiah sering dilakukan melalui berbagai cara, antara lain:

  • Lembaga pendidikan dan kajian.

  • Literatur dan buku-buku keagamaan.

  • Media sosial dan internet.

  • Kegiatan sosial yang disisipi doktrin tertentu.

Dalam beberapa kasus, pendekatan yang digunakan bersifat persuasif dan tidak langsung menampilkan identitas Syiah secara terbuka. Hal ini membuat sebagian masyarakat awam tidak menyadari bahwa mereka sedang diperkenalkan dengan doktrin Syiah.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam di Indonesia untuk memahami perbedaan akidah ini secara jelas agar tidak mudah terpengaruh.


Pentingnya Menjaga Kemurnian Ajaran Islam

Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh Allah melalui Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, menjaga kemurnian ajaran Islam merupakan tanggung jawab seluruh umat Muslim.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini menegaskan pentingnya persatuan umat Islam di atas ajaran yang benar, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Setiap ajaran yang menyimpang dari dua sumber ini harus diteliti dan dikritisi agar umat tidak terjerumus ke dalam kesalahan akidah.


Kesimpulan

Perbedaan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syiah bukan sekadar perbedaan kecil dalam fiqih, tetapi menyentuh aspek fundamental dalam akidah dan ibadah. Dalam beberapa kasus, Syiah bahkan menolak atau mengubah praktik ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Hal ini terjadi karena adanya perbedaan sumber otoritas keagamaan, di mana Syiah menempatkan imam sebagai sumber ajaran yang sangat dominan. Akibatnya, banyak praktik ibadah yang tidak lagi mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ secara murni.

Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia perlu meningkatkan pemahaman terhadap ajaran Islam yang sahih berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah, serta berhati-hati terhadap berbagai ajaran yang menyimpang dari prinsip tersebut.

Dengan pemahaman yang benar, umat Islam dapat menjaga kemurnian akidah dan ibadah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan diwariskan oleh para sahabat kepada generasi setelahnya.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: