Syiahindonesia.com - Salah satu perbedaan paling mendasar antara Ahlus Sunnah wal Jamaah dan Syiah Imamiyah terletak pada cara memposisikan maqom (kedudukan) Rasulullah ﷺ dalam struktur teologi mereka. Dalam sejumlah literatur Syiah, terdapat pengangkatan derajat imam-imam mereka hingga setara—bahkan dalam sebagian narasi dianggap melebihi—maqom para nabi selain Nabi Muhammad ﷺ. Artikel ini akan mengurai secara sistematis di mana letak kekeliruan tersebut berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih.
1. Maqom Rasulullah ﷺ dalam Akidah Islam
Dalam Islam, Nabi Muhammad ﷺ adalah:
-
Penutup para nabi (khatamun nabiyyin)
-
Manusia paling mulia
-
Pemberi syariat terakhir
-
Pemilik syafaat kubra
Allah ﷻ berfirman:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”
(QS. Al-Ahzab: 40)
Allah juga berfirman tentang maqom yang dijanjikan kepada beliau:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra: 79)
Maqam Mahmud ditafsirkan oleh para ulama sebagai syafaat agung pada hari kiamat yang tidak dimiliki oleh siapa pun selain beliau ﷺ.
2. Pengangkatan Imam di Atas Para Nabi (Selain Nabi Muhammad)
Dalam sebagian literatur teologi Syiah Imamiyah, disebutkan bahwa imam-imam mereka memiliki derajat lebih tinggi daripada para nabi selain Nabi Muhammad ﷺ.
Ini merupakan klaim yang sangat serius secara teologis. Dalam Islam, para nabi adalah manusia pilihan yang menerima wahyu.
Allah ﷻ berfirman:
اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ
“Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia.”
(QS. Al-Hajj: 75)
Mengangkat manusia non-nabi di atas para nabi berarti merombak struktur kenabian yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an.
3. Konsep Kemaksuman Imam dan Dampaknya
Dalam Syiah Imamiyah, imam dianggap:
-
Ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan)
-
Memiliki ilmu gaib tertentu
-
Otoritatif dalam penafsiran agama
Sementara dalam Ahlus Sunnah, kemaksuman hanya diberikan kepada para nabi dalam menyampaikan wahyu.
Rasulullah ﷺ sendiri ditegur oleh Allah dalam beberapa ayat sebagai bentuk pendidikan ilahi, seperti dalam QS. ‘Abasa. Ini menunjukkan bahwa beliau manusia, meskipun maksum dalam penyampaian risalah.
Jika imam-imam dianggap ma’shum secara mutlak, maka secara implisit mereka diletakkan dalam posisi yang menyerupai kenabian.
4. Distorsi Konsep Syafaat dan Perantara
Dalam Islam, syafaat hakikatnya milik Allah dan diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah: Syafaat itu seluruhnya milik Allah.”
(QS. Az-Zumar: 44)
Syiah seringkali memberikan posisi sentral kepada imam sebagai perantara mutlak antara hamba dan Tuhan.
Padahal Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan doa langsung kepada Allah tanpa perantara makhluk dalam bentuk pengkultusan.
5. Konsep Nur Muhammad dan Pengembangan Berlebihan
Sebagian ajaran mistis dalam Syiah mengembangkan konsep Nur Muhammad yang diperluas kepada imam-imam mereka, seakan-akan mereka memiliki hakikat cahaya ilahi sebelum penciptaan alam.
Padahal Allah ﷻ berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Ayat ini menegaskan kemanusiaan Rasulullah ﷺ. Kemuliaan beliau terletak pada wahyu, bukan unsur ketuhanan atau sifat metafisik.
6. Bahaya Teologis: Menggeser Sentralitas Risalah
Jika imam dianggap memiliki otoritas spiritual dan metafisik yang melampaui para nabi, maka secara tidak langsung risalah kenabian menjadi tidak lagi pusat.
Padahal Allah menegaskan:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Agama telah sempurna dengan wafatnya Rasulullah ﷺ. Tidak ada figur setelah beliau yang membawa dimensi wahyu atau otoritas absolut.
7. Sikap Ahlus Sunnah: Mengagungkan Tanpa Mengkultuskan
Ahlus Sunnah menempatkan Rasulullah ﷺ pada posisi tertinggi di antara makhluk:
-
Mencintai beliau lebih dari diri sendiri
-
Mengikuti sunnahnya
-
Tidak mengangkat manusia lain ke derajat kenabian
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebihan terhadap Isa bin Maryam.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi prinsip penting: pengagungan tidak boleh berubah menjadi pengkultusan.
8. Konsekuensi terhadap Tauhid
Kesalahan dalam memahami maqom Rasulullah ﷺ bisa berujung pada:
-
Pengkultusan figur selain nabi
-
Penggeseran konsep tauhid rububiyah dan uluhiyah
-
Penyimpangan dalam praktik ibadah
Islam sangat tegas dalam menjaga kemurnian tauhid.
9. Pentingnya Literasi Akidah di Indonesia
Di Indonesia yang mayoritas Sunni, pemahaman yang benar tentang maqom Rasulullah ﷺ sangat penting agar umat tidak terjebak pada konsep yang menempatkan manusia biasa dalam posisi semi-kenabian.
Mencintai Ahlul Bait adalah bagian dari iman, tetapi tidak boleh mengorbankan prinsip tauhid dan finalitas kenabian.
10. Kesimpulan
Kesalahan fatal Syiah dalam memahami maqom Rasulullah ﷺ terletak pada pengangkatan imam-imam mereka ke derajat yang melampaui batas, hingga menyerupai atau melebihi para nabi selain Nabi Muhammad ﷺ.
Islam telah menetapkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah penutup para nabi, pemilik maqam mahmud, dan manusia paling mulia. Tidak ada figur setelah beliau yang memiliki otoritas wahyu atau kemaksuman mutlak.
Menjaga kemurnian konsep maqom Rasulullah ﷺ berarti menjaga kemurnian tauhid dan risalah Islam itu sendiri.
Semoga Allah ﷻ meneguhkan hati kita untuk mencintai Rasulullah ﷺ dengan cinta yang benar, mengikuti sunnahnya, dan menjauhi segala bentuk ghuluw (berlebihan) dalam agama.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: