Syiahindonesia.com - Perbedaan mendasar antara Sunni dan Syiah dalam Islam berakar dari perbedaan interpretasi kepemimpinan umat setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 632 M.
Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengupas secara mendalam sejarah dan ajaran yang membedakan kedua kelompok besar ini, dengan menekankan pentingnya memahami konteks sejarah sebelum mengeluarkan pernyataan baru.
Dia menegaskan bahwa Syiah awalnya menekankan bahwa pemimpin umat harus berasal dari keluarga Nabi, khususnya Ali bin Abi Thalib. Konsep ini dikenal sebagai Imamah, yang tidak hanya menyangkut kepemimpinan politik, tetapi juga memiliki otoritas spiritual tinggi.
Konsep Imamah dan Khilafah dalam Perspektif Sejarah
Dalam tradisi Syiah, imamah memiliki makna yang lebih dari sekadar pemimpin politik. Sementara itu, Sunni lebih menekankan prinsip kepemimpinan berdasarkan konsensus ulama dan komunitas Muslim yang mengangkat khalifah.
Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, perbedaan ini bukan hanya soal politik, melainkan juga interpretasi teologis yang berkembang setelah masa Khulafaur Rasyidin.
Saat mengkaji perbedaan ini secara historis dan teologis, UAH menekankan bahwa dirinya bukan untuk menyerang individu, melainkan memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada Sunni.
Perkembangan Mazhab dan Tradisi
Lebih lanjut, dalam tradisi Sunni berkembang mazhab-mazhab fikih seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang memiliki pendekatan berbeda dalam memahami hukum Islam.
Sedangkan dalam tradisi Syiah, muncul pemahaman seperti Itsna Asyariyah atau Dua Belas Imam yang menjadi mayoritas di Iran.
Hubungan antara Sunni dan Syiah tidak selalu bermusuhan secara sosial, namun perbedaan teologis kerap disertai kritik dari kedua sisi.
"Di beberapa komunitas Sunni, Syiah dipandang berbeda karena doktrin yang dianggap tidak sejalan dengan ajaran Sunni tradisional," bebernya, dikutip Rabu (4/3/2026).
Ustadz Adi Hidayat juga menegaskan bahwa kajiannya lebih bersifat teologis Sunni klasik yang mengkritisi pandangan Syiah, bukan analisis politik terhadap tokoh tertentu seperti Imam Ali Khamenei.
"Kajian saya bukan pujian personal secara politik terhadap tokoh tersebut, melainkan fokus pada perbedaan ajaran agama dan teologis," jelasnya.
Dengan demikian, pemahaman sejarah dan teologi ini penting agar umat Islam dapat memahami akar perbedaan dan menjaga kerukunan antar kelompok. (bs-sam/fajar)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: