Syiahindonesia.com - Dalam sejarah Islam, perbedaan pemahaman dalam masalah fiqih adalah sesuatu yang wajar dan terjadi di antara para ulama. Namun perbedaan dalam masalah akidah merupakan perkara yang sangat serius karena menyangkut dasar keimanan seorang Muslim. Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak dahulu hingga sekarang telah memberikan perhatian besar terhadap berbagai ajaran yang dinilai menyimpang dari akidah Islam yang murni. Salah satu kelompok yang sering menjadi pembahasan para ulama adalah Syiah, khususnya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah. Banyak ulama besar dari berbagai zaman telah mengeluarkan fatwa dan peringatan terkait penyimpangan akidah dalam ajaran Syiah. Artikel ini akan mengulas pandangan dan fatwa beberapa ulama besar mengenai masalah tersebut.
Pentingnya Menjaga Kemurnian Akidah
Akidah merupakan fondasi utama dalam agama Islam. Jika akidah seseorang rusak, maka seluruh amal ibadahnya dapat menjadi sia-sia. Oleh karena itu, para ulama sangat berhati-hati dalam menjaga kemurnian akidah umat.
Allah ﷻ berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya."
(QS. Al-An’am: 153)
Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengikuti jalan yang lurus dan menjauhi berbagai ajaran yang menyimpang dari kebenaran.
Pandangan Imam Abu Hanifah tentang Rafidhah
Salah satu ulama besar yang memberikan peringatan keras terhadap Syiah adalah Imam Abu Hanifah rahimahullah, pendiri mazhab Hanafi.
Beliau pernah berkata mengenai kelompok Rafidhah (sebutan bagi Syiah ekstrem):
"Janganlah kalian duduk bersama Rafidhah, karena mereka adalah ahli bid’ah dan pembawa fitnah."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa sejak masa awal Islam sudah ada kekhawatiran ulama terhadap ajaran yang berkembang dalam kelompok tersebut.
Pandangan Imam Malik tentang Syiah
Imam Malik bin Anas rahimahullah, pendiri mazhab Maliki, juga dikenal memiliki sikap tegas terhadap kelompok yang mencaci para sahabat Nabi.
Beliau pernah berkata:
"Barangsiapa yang mencela sahabat Rasulullah ﷺ, maka tidak ada bagian baginya dalam Islam."
Hal ini karena para sahabat adalah generasi yang dipuji langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an.
Allah ﷻ berfirman:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
"Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya."
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menjadi dasar bagi para ulama untuk menjaga kehormatan para sahabat.
Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga dikenal sangat tegas dalam membela para sahabat Nabi ﷺ.
Beliau berkata:
"Jika engkau melihat seseorang mencela salah satu sahabat Rasulullah ﷺ, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang memiliki akidah yang rusak."
Dalam pandangan Imam Ahmad, mencela sahabat bukan sekadar kesalahan akhlak, tetapi juga menunjukkan kerusakan dalam akidah seseorang.
Pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Salah satu ulama yang banyak membahas ajaran Syiah secara mendalam adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Dalam kitabnya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, beliau meneliti berbagai doktrin Syiah dan mengkritiknya secara ilmiah.
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa sebagian ajaran Syiah mengandung penyimpangan dalam beberapa aspek, seperti:
-
Pengkultusan imam hingga mendekati sifat maksum
-
Pengingkaran terhadap sebagian sahabat Nabi
-
Riwayat hadits yang tidak memiliki sanad kuat
-
Keyakinan tentang imam yang ghaib
Beliau juga menegaskan bahwa sebagian kelompok Syiah memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Fatwa Ulama Kontemporer
Selain ulama klasik, banyak ulama kontemporer juga memberikan penjelasan tentang penyimpangan akidah Syiah.
1. Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Syaikh Bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa Syiah Rafidhah memiliki sejumlah keyakinan yang bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, terutama dalam masalah sahabat dan konsep imamah.
Beliau menekankan pentingnya umat Islam memahami perbedaan ini agar tidak terpengaruh oleh ajaran yang menyimpang.
2. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa sebagian keyakinan Syiah bertentangan dengan prinsip dasar Islam.
Beliau menegaskan bahwa umat Islam harus berhati-hati terhadap ajaran yang mencela sahabat atau menambah-nambah ajaran agama yang tidak berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah.
3. Fatwa Lembaga Ulama Dunia Islam
Beberapa lembaga ulama internasional juga telah mengeluarkan peringatan terkait ajaran Syiah ekstrem, khususnya yang berkaitan dengan:
-
Pengkafiran sahabat
-
Praktik ritual yang tidak dikenal dalam Islam
-
Doktrin imamah yang dianggap berlebihan
Peringatan ini bertujuan untuk menjaga kemurnian aqidah umat Islam.
Mengapa Para Ulama Memberikan Peringatan?
Para ulama memberikan peringatan terhadap ajaran yang dianggap menyimpang bukan untuk menimbulkan kebencian, tetapi untuk menjaga umat Islam dari kesalahan dalam memahami agama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi."
(HR. Abu Dawud)
Sebagai pewaris para nabi, para ulama memiliki tanggung jawab untuk menjaga agama dari berbagai penyimpangan.
Pentingnya Sikap Ilmiah dalam Mengkaji Perbedaan
Meskipun terdapat kritik terhadap ajaran Syiah, para ulama Ahlus Sunnah tetap menekankan pentingnya sikap ilmiah dan adil dalam mengkaji perbedaan.
Umat Islam dianjurkan untuk:
-
Mengkaji sejarah dengan sumber yang terpercaya
-
Menghindari provokasi dan kebencian
-
Memahami aqidah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah
-
Menghormati perbedaan tanpa mengorbankan prinsip akidah
Pendekatan ilmiah ini penting agar umat tidak terjebak dalam konflik yang tidak produktif.
Kesimpulan
Sejak masa awal Islam hingga zaman modern, banyak ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang memberikan peringatan terhadap beberapa ajaran dalam Syiah yang dianggap menyimpang dari akidah Islam yang murni. Fatwa dan pandangan para ulama tersebut didasarkan pada upaya menjaga kemurnian aqidah serta melindungi umat dari pemahaman yang keliru.
Namun dalam menghadapi perbedaan ini, umat Islam juga dianjurkan untuk bersikap bijak, ilmiah, dan tidak terprovokasi oleh kebencian. Tujuan utama dari pembahasan akidah adalah menjaga kebenaran agama dan memperkuat pemahaman umat terhadap ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: