Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah
Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh Allah melalui Nabi Muhammad ﷺ. Segala bentuk ajaran dalam agama harus memiliki dasar yang jelas dari wahyu.
Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa ajaran Islam telah sempurna pada masa Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, setiap tambahan konsep akidah yang tidak diajarkan oleh Nabi berpotensi menjadi penyimpangan dari ajaran Islam yang asli.
Penyimpangan dalam Konsep Imamah
Salah satu perbedaan paling mendasar antara Ahlus Sunnah dan Syiah adalah konsep imamah. Dalam ajaran Syiah, imamah dianggap sebagai prinsip utama dalam agama dan bahkan menjadi bagian penting dari keimanan.
Sebagian ulama Syiah menyatakan bahwa iman seseorang belum sempurna tanpa meyakini imamah para imam tertentu dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
Namun dalam Al-Qur’an tidak ada ayat yang menyebutkan bahwa keimanan seseorang harus bergantung pada keyakinan terhadap imam-imam tertentu.
Padahal Allah berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.”
(QS. Ali Imran: 19)
Ayat ini menegaskan bahwa agama yang diterima oleh Allah adalah Islam sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, bukan sistem teologi tambahan yang muncul setelah beliau wafat.
Sikap terhadap Para Sahabat Nabi
Para sahabat Nabi adalah generasi yang menyampaikan Al-Qur’an dan hadits kepada umat Islam setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Allah memuji para sahabat dalam Al-Qur’an:
رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Namun dalam sebagian literatur Syiah terdapat riwayat yang mencela atau merendahkan sejumlah sahabat besar Nabi.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mencela para sahabat yang telah dipuji oleh Allah dalam Al-Qur’an merupakan tindakan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam.
Klaim Kemaksuman Imam
Dalam akidah Syiah, para imam diyakini memiliki sifat maksum, yaitu terjaga dari dosa dan kesalahan.
Namun dalam ajaran Ahlus Sunnah, sifat maksum hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Tidak ada dalil dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa manusia selain nabi memiliki sifat tersebut.
Allah berfirman:
قُل لَّا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ
“Katakanlah: aku tidak mengatakan bahwa aku memiliki perbendaharaan Allah dan aku tidak mengetahui perkara gaib.”
(QS. Al-An’am: 50)
Jika Rasulullah ﷺ sendiri tidak mengklaim memiliki pengetahuan gaib, maka klaim bahwa imam memiliki pengetahuan khusus menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip tauhid.
Praktik Ibadah yang Tidak Diajarkan Nabi
Dalam sebagian praktik Syiah terdapat ritual yang tidak dikenal dalam sunnah Rasulullah ﷺ, seperti:
-
Ritual ratapan berlebihan pada peringatan Karbala.
-
Tradisi melukai diri pada peringatan Asyura.
-
Pengagungan ekstrem terhadap imam tertentu.
Padahal Rasulullah ﷺ melarang meratapi kematian secara berlebihan.
Beliau bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek pakaian (karena meratap).”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa praktik ratapan ekstrem bertentangan dengan ajaran Islam.
Peringatan Rasulullah tentang Penyimpangan dalam Agama
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan umat Islam agar tidak membuat ajaran baru dalam agama.
Beliau bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi kaidah penting bahwa setiap ajaran yang tidak berasal dari Al-Qur’an dan sunnah harus ditolak.
Pentingnya Menjaga Kemurnian Akidah
Akidah merupakan fondasi utama dalam Islam. Jika akidah seseorang menyimpang, maka seluruh ibadahnya juga dapat terpengaruh.
Allah berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.”
(QS. Al-An’am: 153)
Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam harus mengikuti jalan yang lurus, yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.
Kesimpulan
Para ulama Ahlus Sunnah menilai bahwa sejumlah ajaran dalam Syiah menyimpang dari prinsip-prinsip dasar Islam. Penyimpangan tersebut antara lain berkaitan dengan konsep imamah, sikap terhadap para sahabat Nabi, klaim kemaksuman imam, serta beberapa praktik ibadah yang tidak memiliki dasar dalam sunnah Rasulullah ﷺ.
Karena itu, umat Islam perlu memahami ajaran Islam secara benar berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ serta pemahaman para sahabat. Dengan pemahaman yang kuat, umat Islam dapat menjaga kemurnian akidah dan terhindar dari berbagai bentuk penyimpangan dalam agama.
(albert/syiahindonesia.com)
0 komentar: