Syiahindonesia.com - Dalam Islam, takdir (qada’ dan qadar) merupakan salah satu rukun iman yang sangat fundamental, karena mengajarkan umat untuk menyadari kekuasaan mutlak Allah ﷻ atas seluruh alam semesta dan hidup manusia. Pemahaman yang benar tentang takdir menuntun seorang Muslim untuk bertawakkal, bersabar atas ujian, dan berusaha dengan ikhtiar tanpa menyalahkan makhluk lain. Namun, dalam ajaran Syiah, konsep takdir kerap diselewengkan untuk menjustifikasi doktrin politik, loyalitas kepada imam tertentu, dan bahkan penyimpangan akidah yang membingungkan umat. Pola ini jelas menimbulkan distorsi yang serius terhadap pemahaman Islam yang murni.
Takdir dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an menegaskan kekuasaan Allah ﷻ atas seluruh ciptaan-Nya dan menekankan bahwa segala sesuatu terjadi dengan izin-Nya:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
(QS. Al-Qamar: 49)
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar manusia memahami bahwa takdir bukan alasan untuk kemalasan atau penundaan ibadah:
اعْمَلُوا فَكُلُّكُمْ مُسْتَعْمَلٌ عَلَى مَا أُسْتَعْمِلَ عَلَيْهِ
Artinya: “Beramallah, karena setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diperintahkan kepadanya.”
(HR. Ahmad)
Dengan prinsip ini, setiap Muslim bertanggung jawab atas ikhtiar dan amalnya, sementara hasilnya tetap berada di bawah kehendak Allah.
Penyimpangan Syiah dalam Konsep Takdir
Dalam literatur Syiah tertentu, takdir sering dipahami sempit dan instrumental. Doktrin ini menekankan bahwa hanya imam-imam tertentu yang mengetahui, mengatur, atau memanifestasikan kehendak takdir. Akibatnya, pengikut diajarkan untuk meletakkan ketergantungan mutlak kepada imam, bukan kepada Allah ﷻ secara langsung. Pola ini menggeser konsep tauhid rububiyah yang menjadi landasan iman Islam:
اللَّهُ خَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: “Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah: 20)
Memberikan kuasa pengaturan takdir kepada makhluk, termasuk imam, merupakan penyimpangan serius karena menyalahi prinsip ini.
Takdir sebagai Alat Politik
Penyelewengan konsep takdir juga digunakan untuk mendukung narasi politik internal Syiah. Kesetiaan kepada imam dikaitkan dengan “ketentuan ilahi”, sehingga pengikut merasa bahwa mematuhi imam bukan sekadar pilihan, tetapi sudah ditakdirkan dan wajib. Narasi semacam ini membungkus kepatuhan politik dengan legitimasi teologis, yang jelas bertentangan dengan prinsip akal sehat dan keadilan Islam.
Distorsi Pemahaman Umat
Akibat penyelewengan ini, sebagian pengikut Syiah mungkin menganggap peristiwa tragis, konflik, atau ketidakadilan dalam sejarah Islam sebagai bagian dari “takdir imam” semata, sehingga mengabaikan ajaran Al-Qur’an yang menekankan keadilan dan ketaatan langsung kepada Allah. Padahal Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia sendirilah yang menzalimi diri mereka sendiri.”
(QS. Yunus: 44)
Mengaitkan segala hal yang terjadi dengan figur imam secara literal menghilangkan tanggung jawab individu dan bertentangan dengan prinsip ini.
Takwil dan Tafsir Selektif
Syiah sering menggunakan takwil (penafsiran simbolik) untuk menyesuaikan peristiwa sejarah dengan konsep takdir versi mereka. Strategi ini memungkinkan mereka memutarbalikkan narasi agar sesuai dengan kepentingan ideologis dan politik, termasuk menjustifikasi konflik internal umat Islam, menyudutkan sahabat Nabi ﷺ, dan mengagungkan imam tertentu. Taktik seperti ini sangat bertentangan dengan metode tafsir Ahlus Sunnah wal Jama‘ah yang mengedepankan konsistensi, sanad, dan prinsip syar’i.
Dampak Sosial dan Akidah
Penyelewengan takdir membuat pengikut Syiah menjadi pasif terhadap kemaksiatan atau perpecahan dalam masyarakat. Mereka percaya bahwa segala peristiwa telah “ditakdirkan oleh imam” sehingga tidak perlu mengoreksi ketidakadilan, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, atau menjaga persatuan umat. Pandangan ini jelas merusak semangat dakwah, keadilan sosial, dan ukhuwah Islamiyah.
Prinsip Ahlus Sunnah tentang Takdir
Ahlus Sunnah wal Jama‘ah menegaskan bahwa takdir harus dipahami sebagai kehendak Allah yang tidak menghapus tanggung jawab individu, dan setiap Muslim harus tetap berikhtiar. Prinsip ini menjaga keseimbangan antara tawakkal dan usaha, dan memastikan bahwa iman tetap murni kepada Allah tanpa perantara makhluk. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Prinsip ini menunjukkan bahwa takdir bukan alat untuk memanipulasi atau menundukkan umat, melainkan untuk meneguhkan keimanan kepada Allah.
Kewaspadaan Umat
Memahami penyimpangan Syiah dalam takdir membantu umat Islam Indonesia menjaga akidah dan menghindari penyesatan. Literasi yang kuat, pembelajaran dari Al-Qur’an dan Sunnah sahih, serta bimbingan ulama Ahlus Sunnah menjadi kunci agar umat tidak terbawa narasi yang mengalihkan ketergantungan dari Allah ke makhluk lain.
Penutup
Penyelewengan makna takdir dalam Syiah menimbulkan kerusakan akidah, memanipulasi loyalitas politik, dan menyesatkan pengikut. Islam menekankan takdir sebagai sarana menguatkan tawakkal, tanggung jawab, dan keadilan. Dengan memahami dan mengingatkan umat tentang prinsip ini, masyarakat Muslim dapat tetap teguh pada tauhid dan menjaga kemurnian akidah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: