Syiahindonesia.com - Istighotsah dalam Islam memiliki makna yang sangat jelas dan tegas, yaitu memohon pertolongan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى dalam keadaan sempit dan darurat, dengan penuh ketundukan dan keyakinan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak selain Dia. Namun dalam ajaran Syiah, konsep istighotsah mengalami penyelewengan serius dengan diarahkan kepada para imam, tokoh yang telah wafat, bahkan kepada sosok-sosok yang diyakini memiliki kekuatan ghaib. Praktik ini bukan sekadar perbedaan furu’ (cabang), melainkan menyentuh inti tauhid dan berpotensi menyeret umat kepada kesyirikan yang nyata, meskipun dibungkus dengan istilah cinta Ahlul Bait dan penghormatan kepada para imam.
Makna Istighotsah yang Benar dalam Islam
Dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, istighotsah adalah bagian dari doa, dan doa adalah ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
“(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu Dia memperkenankan permohonan kalian.”
(QS. Al-Anfal: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa istighotsah yang benar adalah langsung kepada Rabb, bukan kepada perantara makhluk yang telah wafat. Rasulullah ﷺ juga menegaskan prinsip tauhid ini dengan sangat jelas:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Dalil ini menjadi fondasi utama bahwa istighotsah tidak boleh diarahkan kepada selain Allah dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh-Nya.
Konsep Istighotsah dalam Ajaran Syiah
Berbeda dengan pemahaman Islam yang lurus, Syiah mengajarkan istighotsah kepada para imam mereka, seperti Ali bin Abi Thalib, Al-Husain, dan para imam yang diyakini maksum. Dalam berbagai doa dan ritual Syiah, sering ditemukan seruan seperti meminta pertolongan, keselamatan, rezeki, bahkan ampunan dosa kepada imam-imam tersebut.
Doa-doa semacam ini tidak lagi sekadar tawassul, tetapi telah berubah menjadi permohonan langsung kepada makhluk yang telah wafat, dengan keyakinan bahwa mereka mampu mendengar, melihat, dan menolong dari alam ghaib. Inilah titik penyimpangan paling berbahaya dalam konsep istighotsah versi Syiah.
Pengkultusan Imam sebagai Akar Penyelewengan
Penyelewengan istighotsah dalam Syiah tidak bisa dilepaskan dari doktrin pengkultusan imam. Para imam diyakini memiliki kekuasaan kosmik, mengetahui perkara ghaib, dan memiliki wewenang untuk mengatur alam semesta dengan izin Allah. Keyakinan ini kemudian melahirkan praktik istighotsah yang diarahkan kepada imam, bukan lagi kepada Allah.
Padahal Allah Ta’ala dengan tegas berfirman:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
“Katakanlah: Aku tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan manfaat dan tidak pula menolak mudarat bagi diriku sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah.”
(QS. Al-A’raf: 188)
Jika Rasulullah ﷺ sendiri tidak memiliki kekuasaan mutlak atas manfaat dan mudarat, maka bagaimana mungkin imam-imam Syiah yang telah wafat dijadikan tempat istighotsah?
Istighotsah Syiah dan Kesyirikan Terselubung
Syiah sering membela praktik istighotsah mereka dengan alasan “sekadar perantara” atau “meminta kepada Allah melalui imam”. Namun realitanya, banyak doa Syiah secara lafaz dan makna adalah permohonan langsung kepada imam, bukan kepada Allah. Ini bukan lagi tawassul yang diperselisihkan, tetapi telah masuk ke dalam bentuk doa kepada selain Allah, yang oleh para ulama Ahlus Sunnah dikategorikan sebagai syirik akbar.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian berdoa kepada siapa pun selain Allah.”
(QS. Al-Jinn: 18)
Ayat ini bersifat umum dan tegas, melarang segala bentuk doa, istighotsah, dan permohonan ibadah kepada selain Allah, baik kepada nabi, wali, imam, maupun makhluk lainnya.
Perbedaan Tawassul Sunni dan Istighotsah Syiah
Ahlus Sunnah membedakan secara jelas antara tawassul yang syar’i dan istighotsah yang syirik. Tawassul yang dibolehkan adalah dengan menyebut nama dan sifat Allah, amal saleh, atau doa orang yang masih hidup. Sedangkan Syiah mencampuradukkan konsep ini dengan istighotsah kepada makhluk yang telah wafat, yang tidak memiliki dalil sahih dari Al-Qur’an maupun Sunnah.
Lebih parah lagi, Syiah menjadikan praktik ini sebagai identitas mazhab dan bagian dari loyalitas kepada imam, sehingga siapa pun yang menolaknya dianggap membenci Ahlul Bait.
Dampak Penyelewengan Istighotsah terhadap Akidah Umat
Penyelewengan konsep istighotsah dalam Syiah memiliki dampak yang sangat merusak akidah umat Islam. Umat diarahkan untuk bergantung kepada selain Allah, mengalihkan rasa takut, harap, dan cinta yang seharusnya murni kepada Allah, kepada makhluk yang tidak mampu memberi manfaat maupun mudarat.
Ketergantungan spiritual kepada imam-imam Syiah secara perlahan mengikis tauhid, menumbuhkan takhayul, dan menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang murni sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.
Sikap Ahlus Sunnah terhadap Istighotsah yang Menyimpang
Para ulama Ahlus Sunnah dari masa ke masa telah sepakat mengingkari istighotsah kepada selain Allah. Mereka memandangnya sebagai bentuk kesyirikan yang menyerupai praktik kaum musyrikin terdahulu, yang berdoa kepada perantara dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah.
Allah Ta’ala mengabadikan alasan kaum musyrikin tersebut dalam firman-Nya:
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.”
(QS. Az-Zumar: 3)
Alasan ini sama persis dengan pembelaan Syiah terhadap istighotsah kepada imam, sehingga menunjukkan bahwa penyimpangan tersebut bukan hal baru, melainkan pengulangan kesesatan lama.
Pentingnya Kewaspadaan terhadap Ajaran Ini
Di Indonesia, praktik dan propaganda istighotsah versi Syiah sering dikemas dengan istilah-istilah yang tampak Islami dan emosional, seperti cinta Ahlul Bait dan penghormatan kepada keluarga Nabi. Tanpa pemahaman tauhid yang benar, umat Islam bisa terjerumus ke dalam praktik syirik tanpa disadari.
Oleh karena itu, kewaspadaan, pendidikan akidah yang lurus, serta kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat adalah benteng utama untuk melindungi umat dari penyelewengan ini.
Penutup
Penyelewengan konsep istighotsah dalam Syiah bukan sekadar kesalahan kecil, tetapi penyimpangan besar yang mengancam kemurnian tauhid Islam. Dengan mengarahkan doa dan permohonan kepada para imam, Syiah telah menyimpang dari ajaran Rasulullah ﷺ dan membuka pintu kesyirikan yang nyata. Umat Islam wajib memahami bahaya ini, menolaknya dengan ilmu dan hujjah, serta menjaga akidah agar tetap murni hanya bergantung kepada Allah سبحانه وتعالى semata.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: