Pembahasan tentang Imam Mahdi merupakan salah satu topik akidah akhir zaman yang telah dijelaskan secara cukup terang dalam Islam melalui Al-Qur’an, hadis-hadis shahih, serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak generasi salaf. Namun dalam perkembangan sejarah, konsep ini mengalami distorsi serius dalam ajaran Syiah, khususnya Syiah Itsna ‘Asyariyah, hingga melahirkan keyakinan yang tidak hanya menyimpang dari dalil, tetapi juga membawa dampak besar terhadap pola pikir, struktur keagamaan, dan bahkan sistem kekuasaan politik mereka. Kesalahan ini bukan bersifat teknis atau cabang, melainkan menyentuh fondasi akidah dan metodologi beragama.
Dalam Islam yang murni, konsep Mahdi hadir sebagai kabar gembira dan peringatan, bukan sebagai pusat spekulasi ghaib yang dibangun tanpa landasan nash yang jelas. Oleh karena itu, memahami di mana letak kesalahan fatal Syiah dalam memaknai Mahdi menjadi penting, terutama untuk menjaga kemurnian akidah umat Islam dari pengaruh pemikiran yang menyimpang.
Konsep Imam Mahdi Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Ahlus Sunnah meyakini bahwa Imam Mahdi adalah seorang laki-laki dari keturunan Nabi Muhammad ﷺ melalui jalur Fatimah رضي الله عنها, yang akan muncul di akhir zaman ketika dunia dipenuhi kezaliman. Keyakinan ini bersandar pada hadis-hadis shahih yang banyak jumlahnya dan saling menguatkan, tanpa adanya unsur spekulasi berlebihan atau klaim-klaim mistis yang tidak berdalil.
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي
“Namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku.”
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa Imam Mahdi adalah manusia biasa yang memiliki nasab, ayah, dan identitas yang jelas, bukan sosok misterius yang disembunyikan selama berabad-abad. Ia lahir sebagaimana manusia lain, hidup di tengah masyarakat, lalu Allah menyiapkannya untuk memimpin umat di akhir zaman.
Klaim Syiah tentang Mahdi yang Sudah Lahir dan Ghaib
Berbeda secara fundamental, Syiah Itsna ‘Asyariyah mengajarkan bahwa Mahdi mereka adalah Muhammad bin Hasan al-Askari yang diklaim lahir pada abad ke-3 Hijriah, kemudian menghilang sejak kecil dan hingga hari ini masih hidup dalam keadaan ghaib. Klaim ini tidak hanya problematis secara dalil, tetapi juga secara sejarah.
Tidak ada riwayat shahih dari Al-Qur’an maupun hadis Nabi ﷺ yang menyebutkan bahwa Imam Mahdi sudah lahir jauh sebelum akhir zaman, apalagi berada dalam keadaan ghaib selama lebih dari seribu tahun. Bahkan dalam catatan sejarah, Hasan al-Askari wafat tanpa meninggalkan keturunan yang dapat dibuktikan secara publik dan diakui secara luas.
Klaim ghaibnya Imam Mahdi justru baru muncul setelah Syiah mengalami krisis kepemimpinan besar, sehingga konsep ini tampak lebih sebagai solusi teologis-politik daripada ajaran wahyu.
Tidak Adanya Dalil Al-Qur’an tentang Imam Ghaib
Kesalahan fatal berikutnya adalah menjadikan konsep “imam ghaib” sebagai rukun keyakinan, padahal Al-Qur’an sama sekali tidak pernah menyebutkan adanya pemimpin agama yang menghilang dan tetap menjadi pusat hidayah umat.
Allah berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ
“Dan Kami tidak menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau hidup kekal.”
(QS. Al-Anbiya: 34)
Ayat ini menegaskan bahwa hukum Allah terhadap manusia adalah kematian, bukan kehidupan abadi tanpa peran nyata di dunia. Menetapkan bahwa Mahdi hidup selama lebih dari seribu tahun tanpa tugas dakwah, tanpa jihad, dan tanpa bimbingan langsung terhadap umat merupakan klaim yang bertentangan dengan prinsip dasar Al-Qur’an tentang kehidupan manusia.
Kontradiksi Logis dalam Doktrin Imam Ghaib
Syiah meyakini bahwa imam adalah ma‘shum, sumber hidayah, dan pemimpin mutlak umat. Namun di sisi lain, imam tersebut justru diyakini ghaib dan tidak hadir membimbing umat secara langsung. Konsep ini mengandung kontradiksi logis yang sangat serius. Jika imam adalah kebutuhan mutlak bagi agama, maka kegaibannya justru menafikan fungsi tersebut.
Islam adalah agama yang jelas dan praktis. Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan umatnya dalam keadaan tanpa petunjuk yang bisa diakses. Al-Qur’an diturunkan, sunnah diajarkan, dan para sahabat menyampaikannya secara terbuka, bukan disembunyikan di balik konsep ghaib yang tidak bisa diverifikasi.
Mahdi sebagai Alat Legitimasi Kekuasaan
Kesalahan besar lain dalam konsep Mahdi Syiah adalah dampak politik yang ditimbulkannya. Karena imam dianggap ghaib, muncullah klaim bahwa ada wakil-wakil imam yang berhak berbicara, memutuskan, dan memerintah atas namanya. Dari sinilah terbuka pintu bagi otoritas absolut ulama tertentu yang mengatasnamakan Imam Mahdi.
Kondisi ini sangat berbahaya karena menjadikan konsep akidah sebagai alat legitimasi kekuasaan, bukan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dalam Islam, tidak ada manusia yang memiliki otoritas mutlak atas agama setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا
“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya.”
(HR. Malik)
Kedua perkara tersebut adalah Al-Qur’an dan sunnah, bukan imam ghaib atau wakil-wakilnya.
Pertentangan dengan Hadis-Hadis Shahih tentang Mahdi
Hadis-hadis shahih menggambarkan Mahdi sebagai sosok yang akan dikenal oleh manusia, dibaiat secara nyata, dan memimpin secara langsung. Rasulullah ﷺ bersabda:
يُبَايَعُ لِرَجُلٍ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ
“Akan dibaiat seorang laki-laki antara Rukun dan Maqam.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan kejelasan waktu, tempat, dan peristiwa. Tidak ada ruang untuk penafsiran bahwa Mahdi telah ghaib sejak kecil dan tidak pernah muncul di hadapan umat selama ratusan tahun.
Tidak Dikenalnya Konsep Mahdi Ghaib oleh Generasi Salaf
Salah satu tolok ukur kebenaran akidah adalah apakah ia dikenal dan diamalkan oleh generasi terbaik umat ini. Tidak ada satu pun sahabat Nabi ﷺ, tabi‘in, maupun imam besar Ahlus Sunnah yang meyakini konsep Mahdi ghaib sebagaimana yang diyakini Syiah. Ketidakhadiran konsep ini dalam pemahaman generasi awal Islam menjadi bukti kuat bahwa ia merupakan ajaran baru yang tidak bersumber dari wahyu.
Dampak Akidah terhadap Tauhid
Keyakinan berlebihan terhadap Imam Mahdi dalam Syiah juga berpotensi menggeser tauhid. Dalam praktik, Mahdi sering dijadikan pusat harapan, doa, dan loyalitas, padahal Islam mengajarkan ketergantungan total hanya kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ
“Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah.”
(HR. At-Tirmidzi)
Menggantungkan harapan spiritual kepada sosok ghaib yang tidak memiliki dalil yang jelas merupakan penyimpangan dari kemurnian tauhid yang dibawa oleh Islam.
Penutup Pembahasan
Dengan menelaah dalil, sejarah, logika, dan dampak akidahnya, terlihat jelas bahwa konsep Mahdi dalam Syiah mengandung kesalahan fatal yang menyentuh inti ajaran Islam. Distorsi ini tidak hanya merusak pemahaman tentang akhir zaman, tetapi juga membuka pintu bagi penyimpangan tauhid dan penyalahgunaan agama untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami konsep Mahdi sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ﷺ dan dipahami oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, agar tetap berada di atas jalan yang lurus dan selamat dari kesesatan yang dibungkus dengan nama kecintaan kepada Ahlul Bait.
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: