Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Menggunakan Kisah Karbala untuk Menyesatkan Umat?

 


Syiahindonesia.com -
Tragedi Karbala merupakan peristiwa sejarah yang sangat menyedihkan dalam perjalanan umat Islam, karena di dalamnya gugur cucu Rasulullah ﷺ, yaitu Al-Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu. Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang peristiwa ini sebagai musibah besar yang harus disikapi dengan adil, ilmiah, penuh duka, serta tanpa sikap berlebihan. Namun berbeda dengan itu, Syiah justru menjadikan kisah Karbala sebagai alat ideologis, propaganda akidah, dan sarana menyesatkan umat Islam dengan berbagai distorsi sejarah, pengkultusan tokoh, serta ritual-ritual yang sama sekali tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Melalui eksploitasi emosional dan pemelintiran fakta, Karbala diubah dari tragedi sejarah menjadi doktrin agama yang sarat fitnah dan permusuhan terhadap mayoritas umat Islam.

Karbala dalam Perspektif Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Dalam pandangan Ahlus Sunnah, peristiwa Karbala adalah tragedi yang terjadi akibat konflik politik dan kesalahan manusia, bukan bagian dari syariat atau rukun agama. Al-Husain radhiyallahu ‘anhu adalah seorang sahabat mulia, cucu Rasulullah ﷺ, dan kematiannya adalah kezaliman besar yang harus dikecam tanpa ragu. Namun, Ahlus Sunnah tidak menjadikan tragedi ini sebagai sarana untuk melaknat generasi sahabat, menanamkan dendam lintas generasi, atau menciptakan ritual-ritual baru dalam agama.

Sikap ini sejalan dengan prinsip Islam yang melarang sikap ghuluw (berlebihan) dalam memuliakan seseorang, meskipun dia adalah orang yang sangat dicintai. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
“Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.”
(HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Hadis ini menjadi kaidah penting dalam menyikapi seluruh peristiwa sejarah, termasuk Karbala.

Distorsi Sejarah Karbala dalam Narasi Syiah

Syiah tidak meriwayatkan Karbala sebagai sejarah objektif, melainkan sebagai narasi ideologis yang sengaja dibentuk untuk menguatkan doktrin imamah dan kebencian terhadap Ahlus Sunnah. Banyak kisah Karbala versi Syiah dipenuhi tambahan cerita dramatis, tokoh-tokoh fiktif, dialog yang tidak memiliki sanad, serta tuduhan-tuduhan besar tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Dalam narasi tersebut, seluruh pihak di luar Syiah digambarkan sebagai musuh Ahlul Bait, sementara para imam Syiah diposisikan sebagai figur suci yang dizalimi oleh seluruh umat Islam. Padahal sejarah Islam yang ditulis oleh para ulama terpercaya menunjukkan bahwa peristiwa Karbala jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana hitam-putih seperti yang diklaim Syiah.

Karbala Dijadikan Pilar Akidah Syiah

Kesalahan fatal Syiah adalah menjadikan Karbala bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi pilar akidah dan identitas agama. Dari sinilah lahir keyakinan bahwa Islam sejati adalah Islam versi Syiah, sementara mayoritas umat Islam dianggap sebagai pengkhianat Al-Husain dan Ahlul Bait. Doktrin ini secara langsung memecah umat Islam dan menanamkan permusuhan ideologis yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam Islam, akidah dibangun di atas wahyu, bukan tragedi sejarah. Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa agama Islam telah sempurna sebelum tragedi Karbala terjadi, sehingga menjadikannya sebagai fondasi agama adalah penyimpangan besar.

Ritual Asyura: Bid’ah yang Merusak Akidah

Salah satu bentuk penyimpangan paling nyata dari eksploitasi Karbala adalah ritual Asyura versi Syiah. Praktik-praktik seperti meratap berlebihan, memukul dada, melukai tubuh dengan pedang dan rantai, bahkan meneteskan darah atas nama cinta kepada Al-Husain, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.

Sebaliknya, Islam secara tegas melarang niyahah (meratap) dan menyakiti diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini dengan jelas membantah seluruh ritual Karbala yang dijadikan agenda tahunan oleh Syiah.

Karbala sebagai Alat Provokasi dan Kebencian

Syiah menggunakan kisah Karbala untuk menanamkan kebencian sistematis terhadap para sahabat Nabi ﷺ, khususnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum, serta terhadap mayoritas umat Islam Sunni. Dalam ceramah-ceramah dan literatur Syiah, tragedi Karbala selalu dihubungkan dengan tuduhan bahwa para sahabat telah “merampas hak Ahlul Bait” dan “mengkhianati Islam”.

Padahal Allah Ta’ala telah memuliakan para sahabat secara tegas dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”
(QS. Al-Fath: 18)

Mencela para sahabat berarti menolak kesaksian Allah sendiri terhadap keimanan mereka.

Eksploitasi Emosi untuk Menutup Akal Sehat

Metode utama Syiah dalam menyebarkan narasi Karbala adalah eksploitasi emosi. Tangisan massal, kisah-kisah memilukan, dan drama ritual sengaja diciptakan untuk membuat umat larut dalam perasaan duka tanpa ruang berpikir kritis. Ketika emosi mendominasi, akal dan ilmu disingkirkan, sehingga umat lebih mudah menerima doktrin-doktrin sesat yang diselipkan di balik kisah Karbala.

Islam justru mengajarkan keseimbangan antara hati dan akal, antara rasa cinta dan ketaatan kepada dalil. Agama ini tidak dibangun di atas air mata dan dendam, tetapi di atas ilmu, keadilan, dan tauhid.

Karbala dan Bahaya Perpecahan Umat

Dampak paling berbahaya dari eksploitasi Karbala adalah perpecahan umat Islam. Di berbagai negara, narasi Karbala versi Syiah terbukti menjadi bahan bakar konflik horizontal, perang saudara, dan instabilitas sosial. Umat Islam dipaksa memilih identitas sektarian, bukan lagi bersatu di atas Al-Qur’an dan Sunnah.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian.”
(QS. Al-Anfal: 46)

Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa perpecahan adalah jalan kehancuran umat.

Sikap yang Benar terhadap Tragedi Karbala

Sikap yang benar terhadap Karbala adalah mendoakan Al-Husain radhiyallahu ‘anhu, mencintai Ahlul Bait sesuai tuntunan Nabi ﷺ, membenci kezaliman tanpa melampaui batas, serta menjauhkan diri dari ritual dan keyakinan yang tidak bersumber dari wahyu. Karbala harus dipelajari sebagai sejarah, bukan dijadikan alat ideologi dan alat permusuhan.

Dengan pemahaman yang lurus, umat Islam Indonesia dapat terhindar dari propaganda Syiah yang menjadikan Karbala sebagai senjata fitnah untuk memecah belah umat dan merusak kemurnian Islam.

Penutup

Kisah Karbala adalah tragedi, bukan doktrin. Ketika tragedi diubah menjadi akidah, dan duka dijadikan alat ideologi, maka lahirlah kesesatan yang berbahaya. Syiah telah menjadikan Karbala sebagai pintu masuk untuk menanamkan kebencian, bid’ah, dan penyimpangan akidah di tengah umat Islam. Oleh karena itu, kewaspadaan, ilmu, dan kembali kepada Al-Qur’an serta Sunnah dengan pemahaman para sahabat adalah benteng utama dalam menghadapi fitnah ini.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: