Breaking News
Loading...

Syiah dan Upaya Mereka Menghalangi Persatuan Islam

Syiahindonesia.com - Persatuan umat Islam adalah salah satu prinsip terpenting dalam ajaran agama ini. Al-Qur’an memerintahkan kaum Muslimin untuk bersatu di atas tauhid, sunnah, dan manhaj Rasulullah ﷺ. Namun dalam sejarah panjang umat, muncul kelompok-kelompok yang justru menjadi penghalang bagi persatuan tersebut. Di antara yang paling menonjol adalah Syiah, dengan ideologi sektarian yang secara sistematis menciptakan konflik, perpecahan, dan permusuhan internal di tubuh umat Islam.

Artikel ini membahas secara detail bagaimana Syiah—melalui doktrin, sejarah, politik, hingga strategi modern—terlibat dalam upaya menghalangi persatuan Islam.


1. Islam Menekankan Persatuan, Bukan Perpecahan

Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu berpecah belah.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan, saling menguatkan satu sama lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun doktrin Syiah secara inheren memunculkan konflik dengan umat Islam sejak awal kemunculannya.


2. Doktrin Syiah: Fondasi Perpecahan Sejak Awal

Akar utama perpecahan yang ditimbulkan Syiah adalah beberapa doktrin sentral mereka:

a. Kebencian terhadap mayoritas sahabat Nabi ﷺ

Syiah mengajarkan bahwa para sahabat yang menjadi tonggak Islam—terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman—adalah:

  • pengkhianat

  • perampas hak

  • kafir atau munafik

Akidah seperti ini otomatis membuat 95% umat Islam dianggap musuh.

b. Konsep imamah eksklusif

Syiah percaya bahwa:

  • kepemimpinan Islam hanya sah melalui jalur Ali

  • siapa pun yang tidak mengakui 12 imam adalah sesat

  • umat Islam selama lebih dari 1400 tahun berada dalam “kesesatan besar”

Ini adalah narasi sektarian paling berbahaya dalam sejarah Islam.

c. Ritual kebencian dan pelaknatkan

Ritual-ritual Syiah seperti:

  • tabarra (melaknat tokoh-tokoh Islam)

  • majelis ratapan

  • penyebaran kisah Karbala versi mereka

merusak kasih sayang sesama Muslim dan menanamkan permusuhan lintas generasi.


3. Syiah Menjadikan Dendam Sejarah sebagai Alat Perpecahan

Syiah menjadikan tragedi Karbala sebagai propaganda abadi untuk:

  • menyalahkan umat Islam

  • menciptakan rasa dendam kolektif

  • menanamkan narasi “Sunni adalah pembunuh Husain”

  • mengekalkan kesedihan dan permusuhan

Padahal peperangan di masa lalu adalah fitnah politik yang tidak boleh diwariskan sebagai kebencian kepada generasi berikutnya.


4. Iran: Motor Politik Pemecah Belah Umat Islam

Sejak Revolusi Iran 1979, negara ini secara resmi menjalankan program:

  • ekspor revolusi Syiah

  • pembentukan milisi bersenjata

  • dukungan terhadap kelompok-kelompok yang memusuhi Sunni

  • propaganda anti-Ahlus Sunnah melalui media global

Iran memainkan peran besar dalam konflik sektarian di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman.

Tujuannya jelas:
melemahkan negara-negara Sunni dan memperluas dominasi Syiah.


5. Peran Milisi Syiah dalam Memecah Belah Dunia Islam

Di berbagai negara, milisi Syiah bertanggung jawab atas konflik sektarian paling mematikan:

a. Irak

  • Pembantaian warga Sunni setelah jatuhnya Saddam

  • Pengusiran massal dari sejumlah wilayah

  • Penghancuran masjid-masjid Sunni

b. Suriah

  • Milisi Syiah dari Iran, Irak, Lebanon, hingga Afghanistan menyerang kota-kota Sunni

  • Ratusan ribu warga Sunni menjadi korban

c. Lebanon

  • Hizbullah menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengendalikan politik

  • Menciptakan ketegangan terus-menerus dengan kelompok Sunni

Ini semua adalah bentuk nyata perpecahan yang disebarkan Syiah dalam dunia Islam.


6. Penyebaran Fitnah Sejarah untuk Mengadu Domba Umat

Syiah aktif mengaburkan sejarah Islam untuk menciptakan narasi:

  • bahwa kaum Sunni adalah pengkhianat Ahlul Bait

  • bahwa sejarah Islam penuh kedzaliman

  • bahwa umat Islam mayoritas telah tersesat

Buku, film, drama, dan ceramah Syiah dipenuhi distorsi sejarah untuk menanamkan kebencian sepanjang masa.


7. Propaganda Media Sosial untuk Memecah Umat

Di era digital, Syiah menggunakan:

  • akun anonim

  • jaringan propaganda internasional

  • situs web dan portal berita

  • influencer berideologi Syiah

untuk menyebarkan isu:

  • Sunni “menganut Islam palsu”

  • ulama Sunni “anti Ahlul Bait”

  • sejarah Islam perlu “direvisi”

  • konflik Sunni-Syiah adalah “perjuangan suci”

Tujuan utamanya adalah memperlebar jurang konflik.


8. Doktrin “Walayah” yang Menolak Persatuan Islam

Syiah meyakini walayah (kesetiaan) hanya kepada:

  • Imam-imam Syiah

  • tokoh politik dan militer Syiah

  • pemimpin Iran (Wilayat al-Faqih)

Dan mereka diperintahkan untuk tidak loyal kepada umat Islam lainnya.

Ini jelas bertentangan dengan prinsip ummah dalam Islam.


9. Apa Bahayanya bagi Indonesia?

Indonesia sebagai negara dengan Muslim Sunni terbesar di dunia sangat berpotensi menjadi sasaran:

  • penyusupan ideologi sektarian

  • pemanfaatan ketegangan sosial

  • penggalangan simpati politik

  • pembentukan komunitas eksklusif berideologi Syiah

Jika dibiarkan, ini dapat:

  • merusak kerukunan umat

  • memecah persatuan nasional

  • menimbulkan konflik horizontal

  • mengancam stabilitas negara


10. Solusi: Kembali kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Untuk menjaga persatuan umat, umat Islam Indonesia wajib:

  1. Belajar agama sesuai manhaj Rasulullah ﷺ dan para sahabat

  2. Menghindari ajaran yang menghina sahabat dan menodai aqidah

  3. Melawan propaganda sejarah palsu

  4. Menjaga ukhuwah Islamiyah berdasarkan ajaran yang shahih

  5. Mewaspadai infiltrasi ideologi sektarian

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu.”
(QS. Al-Anbiya: 92)


Kesimpulan

Syiah bukan hanya berbeda secara akidah, tetapi juga secara sistematis menghalangi persatuan umat Islam melalui doktrin sektarian, kebencian terhadap sahabat, propaganda politik, distorsi sejarah, dan penggunaan kekuatan milisi. Persatuan tidak mungkin terwujud selama ada ajaran yang dibangun di atas kebencian dan permusuhan terhadap mayoritas umat Islam.

Umat Islam harus mewaspadai infiltrasi ini dan kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai fondasi persatuan yang hakiki.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: