Syiahindonesia.com - Salah satu bahaya paling serius dari penyebaran paham Syiah di tengah umat Islam adalah cara mereka memperlakukan Al-Qur’an, bukan dengan tunduk penuh kepada makna zhahir, kaidah bahasa Arab, dan penjelasan Rasulullah ﷺ serta para sahabat, tetapi dengan memelintir ayat-ayat suci agar sesuai dengan doktrin Imamah, kemaksuman imam, dan keyakinan khas Syiah. Penyimpangan ini tidak selalu dilakukan dengan mengubah teks Al-Qur’an secara fisik, melainkan dengan mengubah makna, arah, dan tujuan ayat, sehingga Al-Qur’an dijadikan alat legitimasi ideologi, bukan lagi sebagai petunjuk yang lurus bagi seluruh umat Islam.
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah ﷻ sebagai kitab yang jelas, mudah dipahami, dan menjadi pedoman bagi seluruh manusia tanpa perantara tokoh tertentu yang dikultuskan. Allah berfirman:
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
“(Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, kemudian dijelaskan secara terperinci dari sisi Allah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Hud: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa makna Al-Qur’an bersifat jelas dan terperinci. Namun dalam ajaran Syiah, kejelasan ini dihapus dengan konsep bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memiliki makna batin yang hanya diketahui oleh imam-imam mereka, sementara makna zhahir dianggap tidak cukup atau bahkan menyesatkan.
Salah satu bukti kuat bagaimana Syiah mengubah makna ayat Al-Qur’an adalah penggunaan tafsir batiniyah, yaitu metode penafsiran yang menolak makna bahasa dan konteks ayat, lalu menggantinya dengan makna tersembunyi yang diklaim berasal dari imam. Dengan metode ini, satu ayat dapat dimaknai secara bebas tanpa batas, selama sesuai dengan doktrin Syiah. Hal ini bertentangan dengan manhaj Islam yang menjadikan bahasa Arab, sebab turunnya ayat, dan penjelasan Nabi ﷺ sebagai dasar tafsir.
Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahaya menafsirkan Al-Qur’an tanpa ilmu:
مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.”
(HR. Tirmidzi)
Syiah justru menjadikan riwayat imam sebagai sumber utama tafsir, meskipun bertentangan dengan hadits sahih dan ijma’ para sahabat. Ini menunjukkan bahwa yang dijadikan rujukan bukan wahyu, melainkan figur manusia.
Contoh nyata pengubahan makna ayat Al-Qur’an dapat dilihat pada ayat tentang kepemimpinan dan loyalitas kaum mukminin. Allah ﷻ berfirman:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا
“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ma’idah: 55)
Syiah mengklaim ayat ini secara khusus menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai imam setelah Nabi ﷺ. Padahal, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang prinsip loyalitas kaum mukminin secara umum, bukan penetapan kepemimpinan ma’shum. Pemaksaan makna seperti ini merupakan bentuk pengubahan tafsir demi kepentingan ideologi.
Selain itu, Syiah juga mengubah makna ayat-ayat Al-Qur’an yang memuliakan para sahabat Nabi ﷺ. Allah ﷻ dengan jelas memuji mereka:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon.”
(QS. Al-Fath: 18)
Namun Syiah menafsirkan ayat-ayat semacam ini dengan berbagai pembatasan dan tuduhan, seolah-olah keridhaan Allah bersifat sementara atau hanya berlaku untuk segelintir orang. Ini bukan sekadar perbedaan tafsir, tetapi penyimpangan makna yang berimplikasi pada rusaknya penghormatan terhadap generasi terbaik umat Islam.
Lebih jauh lagi, Syiah menundukkan Al-Qur’an kepada konsep Imamah, bukan sebaliknya. Dalam banyak tafsir mereka, ayat-ayat Al-Qur’an tidak boleh dipahami kecuali melalui imam. Padahal Allah ﷻ memerintahkan umat Islam untuk mengikuti Rasulullah ﷺ, bukan imam yang datang setelah beliau:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Ketika imam ditempatkan di atas Al-Qur’an dan Sunnah, maka yang terjadi adalah pembalikan sumber agama. Inilah akar utama kesesatan Syiah dalam memahami ayat-ayat Allah.
Dampak dari pengubahan makna Al-Qur’an ini sangat besar, di antaranya lahirnya keyakinan bahwa imam mengetahui perkara ghaib, penghalalan nikah mut’ah, pembenaran taqiyyah dalam berdusta, serta legitimasi penghinaan terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Semua penyimpangan ini tidak mungkin muncul kecuali dari tafsir Al-Qur’an yang rusak.
Sebagai penutup, mengubah makna ayat Al-Qur’an bukanlah perkara ringan, tetapi termasuk dosa besar yang dapat menyesatkan umat. Syiah Rafidhah telah menjadikan Al-Qur’an sebagai alat pembenaran ajaran mereka, bukan sebagai petunjuk yang diikuti dengan penuh ketundukan. Oleh karena itu, umat Islam di Indonesia harus memahami bahaya ini dengan ilmu, agar tidak tertipu oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan secara menyimpang demi kepentingan kelompok tertentu.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: