Breaking News
Loading...

Sejarah Kelam Pengkhianatan Syiah terhadap Umat Islam

Syiahindonesia.com - Pembahasan mengenai Syiah dalam sejarah Islam bukanlah sekadar kajian perbedaan mazhab, melainkan menyangkut persoalan serius yang berkaitan dengan akidah, sikap terhadap Al-Qur’an, Sunnah, dan generasi terbaik umat Islam. Dalam perjalanan sejarahnya, Syiah tidak hanya muncul sebagai kelompok politik pasca wafatnya Rasulullah ﷺ, tetapi berkembang menjadi paham ideologis yang membangun narasi permusuhan terhadap mayoritas umat Islam. Oleh karena itu, memahami sejarah kelam pengkhianatan Syiah terhadap umat Islam sangat penting sebagai langkah antisipasi agar kaum Muslimin, khususnya di Indonesia, tidak terjebak oleh propaganda yang dibungkus dengan istilah toleransi dan cinta Ahlul Bait.


Awal Mula Syiah dan Benih Pengkhianatan Sejarah

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ pada tahun 11 Hijriah, umat Islam menghadapi persoalan besar terkait kepemimpinan. Melalui musyawarah yang sah, para sahabat membaiat Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه sebagai khalifah pertama. Namun, dari sinilah muncul kelompok yang menolak keputusan umat dan mengklaim bahwa Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه adalah satu-satunya yang berhak memimpin umat Islam. Klaim ini bukan hanya persoalan politik, tetapi kemudian berkembang menjadi keyakinan akidah bahwa kepemimpinan adalah hak ilahi yang diwariskan secara turun-temurun.

Padahal, Islam tidak pernah menetapkan sistem kepemimpinan berbasis nasab sebagai rukun agama. Al-Qur’an dan Sunnah menegaskan bahwa urusan kepemimpinan diserahkan kepada musyawarah umat, bukan klaim sepihak. Perubahan isu politik menjadi doktrin agama inilah yang menjadi titik awal pengkhianatan Syiah terhadap prinsip dasar Islam.


Sikap Syiah terhadap Para Sahabat Nabi ﷺ

Salah satu bentuk pengkhianatan terbesar Syiah terhadap umat Islam adalah sikap mereka terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Dalam banyak literatur Syiah, para sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم dituduh sebagai perampas hak Ali, bahkan disebut munafik dan kafir. Tuduhan ini jelas bertentangan dengan Al-Qur’an yang memuliakan para sahabat.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa Allah meridhai para sahabat. Maka, mencela dan menuduh mereka sebagai pengkhianat sama saja dengan menolak kesaksian Allah sendiri.


Penolakan Syiah terhadap Sunnah yang Sahih

Syiah tidak hanya bermasalah dalam sikap terhadap sahabat, tetapi juga dalam penerimaan hadis Nabi ﷺ. Mayoritas hadis yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat terpercaya ditolak oleh Syiah, kecuali yang berasal dari jalur imam-imam mereka. Akibatnya, ajaran Syiah dibangun di atas riwayat-riwayat yang tidak diakui oleh mayoritas ulama Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

« خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ »
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa generasi sahabat adalah generasi terbaik dan paling layak dipercaya dalam memahami agama. Mengabaikan mereka berarti merobohkan fondasi transmisi Islam itu sendiri.


Pengkhianatan Syiah dalam Sejarah Politik Islam

Dalam catatan sejarah, berbagai sekte Syiah terlibat dalam aksi-aksi yang merusak persatuan dan stabilitas umat Islam. Kelompok Qaramithah, yang berafiliasi dengan Syiah ekstrem, pernah menyerang jamaah haji dan mencuri Hajar Aswad dari Ka’bah pada tahun 317 Hijriah. Peristiwa ini merupakan noda hitam dalam sejarah Islam dan bukti bahwa ideologi Syiah ekstrem tidak segan-segan merusak simbol suci umat Islam demi kepentingan kelompoknya.

Tindakan-tindakan semacam ini menunjukkan bahwa konflik yang dibawa Syiah bukan hanya perbedaan pendapat, tetapi ancaman nyata terhadap kesatuan dan kehormatan Islam.


Taqiyyah: Strategi Penipuan dalam Penyebaran Ajaran

Salah satu doktrin paling berbahaya dalam Syiah adalah konsep taqiyyah, yaitu menyembunyikan keyakinan demi keselamatan atau keuntungan tertentu. Dalam praktiknya, taqiyyah sering digunakan untuk menipu umat Islam Sunni dengan menampilkan wajah moderat di permukaan, sementara ajaran sesat disebarkan secara perlahan.

Padahal Islam mengajarkan kejujuran dan keterbukaan dalam akidah. Rasulullah ﷺ bersabda:

« مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا »
“Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa penipuan dalam urusan agama adalah perbuatan tercela dan bertentangan dengan ajaran Islam.


Distorsi Sejarah Karbala sebagai Alat Propaganda

Tragedi wafatnya Husain bin Ali رضي الله عنه di Karbala adalah peristiwa menyedihkan dalam sejarah Islam. Namun, Syiah menjadikan peristiwa ini sebagai alat propaganda untuk membangun kebencian abadi terhadap Ahlus Sunnah. Kisah Karbala dipelintir, dilebih-lebihkan, dan dijadikan dasar ritual ratapan ekstrem yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.

Alih-alih mengambil pelajaran kesabaran dan keadilan, Syiah justru menjadikan Karbala sebagai simbol dendam ideologis yang diwariskan lintas generasi.


Tuduhan Tahrif Al-Qur’an dalam Literatur Syiah

Dalam sebagian kitab rujukan Syiah terdapat keyakinan bahwa Al-Qur’an telah mengalami pengurangan atau perubahan. Keyakinan ini merupakan bentuk pengkhianatan akidah yang sangat serius. Allah Ta’ala dengan tegas berfirman:

﴿ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴾
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Meragukan keutuhan Al-Qur’an berarti meragukan janji Allah, dan ini tidak dapat ditoleransi dalam Islam.


Bahaya Penyebaran Syiah di Indonesia

Di Indonesia, penyebaran Syiah sering dilakukan dengan pendekatan intelektual, budaya, dan isu toleransi. Banyak umat Islam awam tidak menyadari bahwa di balik pendekatan lembut tersebut terdapat doktrin-doktrin yang bertentangan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tanpa pemahaman sejarah yang benar, umat mudah terpengaruh oleh narasi palsu yang dikemas secara emosional dan akademis.


Penutup

Sejarah telah menunjukkan bahwa Syiah bukan sekadar mazhab fiqih, melainkan ideologi yang sarat dengan penyimpangan akidah, pemalsuan sejarah, dan pengkhianatan terhadap generasi terbaik umat Islam. Mengungkap fakta-fakta ini bukanlah bentuk kebencian, tetapi kewajiban ilmiah dan dakwah untuk menjaga kemurnian Islam. Umat Islam harus waspada, memperkuat pemahaman akidah, dan kembali kepada Al-Qur’an serta Sunnah sesuai pemahaman para sahabat Nabi ﷺ.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: