Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Tidak Bisa Bersatu dengan Sunni?

Syiahindonesia.com – Isu persatuan antara Sunni dan Syiah adalah salah satu tema yang sering diangkat demi kepentingan politik, bukan demi akidah. Banyak pihak mengatakan bahwa keduanya “sesama Muslim” sehingga harus disatukan. Padahal, jika diteliti secara mendalam, akar perbedaan Sunni dan Syiah bukan sekadar fikih atau mazhab, tetapi sudah menyentuh inti akidah, sehingga mustahil dapat disatukan tanpa mengorbankan prinsip paling dasar dalam Islam.

Artikel ini akan mengungkap alasan-alasan fundamental yang membuat ajaran Syiah tidak mungkin bersatu dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadis, dan fakta sejarah.


1. Perbedaan Akidah yang Tidak Bisa Dinegosiasi

Syiah dan Sunni berbeda pada aspek paling mendasar dalam agama Islam, yaitu sumber akidah dan fondasi keimanan.

a. Sunni berpegang pada Al-Qur’an & Sunnah

Sedangkan Syiah menambahkan doktrin imamah sebagai rukun iman yang tidak ada dalam Al-Qur’an.

b. Syiah memiliki kitab-kitab hadis sendiri

Yang banyak berisi riwayat tanpa sanad, riwayat ghaib, dan riwayat yang menghina para sahabat.

Karena perbedaan di akar akidah inilah, persatuan mustahil terjadi tanpa menghapus keyakinan salah satu pihak.


2. Syiah Mengkafirkan Ahlus Sunnah

Dalam banyak kitab utama Syiah, disebutkan bahwa:

  • Sunni dianggap kafir,

  • Sunni dianggap najis,

  • Amal ibadah Sunni tidak diterima karena “tidak beriman kepada imam”.

Padahal Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Syiah mengeluarkan Sunni dari cakupan ayat ini, sehingga konsep “persatuan” mereka hanyalah slogan politik, bukan keyakinan akidah.


3. Syiah Mencela dan Melaknat Sahabat Nabi ﷺ

Ini adalah titik pemisah paling besar antara Sunni dan Syiah.

Ahlus Sunnah memuliakan seluruh sahabat, sementara Syiah:

  • menghina Abu Bakar, Umar, dan Utsman,

  • mencela Aisyah radhiyallahu ‘anha,

  • menyebut mayoritas sahabat murtad,

  • menolak hadis sahabat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Janganlah kalian mencela sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika Syiah terus menghina orang yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya, bagaimana mungkin bisa bersatu dengan Sunni?


4. Syiah Memiliki Al-Qur’an Versi Akidah Mereka

Ahlus Sunnah meyakini Al-Qur’an sempurna, dijaga Allah, dan tanpa perubahan.

Allah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.”
(QS. Al-Hijr: 9)

Namun sebagian besar ulama Syiah klasik meyakini bahwa:

  • Al-Qur’an telah diubah,

  • Ada ayat yang “hilang” tentang imamah.

Ini adalah keyakinan kufur menurut ulama Sunni. Bagaimana mungkin dua golongan dengan kitab suci yang berbeda bisa bersatu?


5. Syiah Mengajarkan Taqiyyah: Kebohongan Atas Nama Agama

Taqiyyah adalah ajaran Syiah untuk berbohong demi melindungi mazhab.

Artinya:

  • Syiah boleh menipu Sunni,

  • Boleh pura-pura ramah,

  • Boleh bersembunyi di balik “ukhuwah”.

Islam sangat melarang kebohongan:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kalian campuradukkan kebenaran dengan kebatilan.”
(QS. Al-Baqarah: 42)

Jika salah satu pihak menghalalkan kebohongan, persatuan hanya akan jadi jebakan.


6. Syiah Mengangkat Imam sebagai Makhluk Suci Setara Nabi

Dalam akidah Syiah:

  • Imam itu maksum (tidak berdosa),

  • Imam mengetahui hal ghaib,

  • Imam lebih tinggi dari nabi-nabi selain Muhammad ﷺ,

  • Imam menjadi perantara amalan.

Ini jelas bertentangan dengan tauhid.

Ahlus Sunnah memegang prinsip:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ
“Muhammad hanyalah seorang Rasul.”
(QS. Ali Imran: 144)

Jika manusia biasa (selain Rasul) dianggap maksum dan memiliki sifat ilahi, maka tidak mungkin bersatu dalam satu akidah tauhid.


7. Syiah Memiliki Ibadah yang Tidak Ada dalam Islam

Beberapa ritual Syiah:

  • Meratap dan memukul diri saat Asyura

  • Menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah

  • Memohon kepada imam (istighatsah)

  • Menyembelih untuk imam

  • Mengadakan ritual Karbala penuh ratapan

Semuanya dilarang dalam Islam:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.”
(QS. Az-Zumar: 3)

Ahlus Sunnah berpegang pada tauhid murni. Selama Syiah masih melakukan ibadah syirik seperti ini, persatuan tidak mungkin terwujud.


8. Syiah Mewarisi Tradisi Politik: Bukan Mazhab Keilmuan

Syiah lahir bukan sebagai mazhab fikih, tetapi sebagai gerakan politik yang menolak para khalifah sahabat.

Akar politik yang penuh dendam ini adalah:

  • sumber kebencian,

  • sumber fitnah,

  • dan sumber perpecahan.

Selama politik masih menjadi akar agama mereka, persatuan hanyalah ilusi.


9. Persatuan yang Diinginkan Syiah: Sunni Harus Menyerah

Ketika Syiah menyerukan persatuan, maksudnya adalah:

  • Sunni harus mengakui imamah,

  • Sunni harus menerima ritual Syiah,

  • Sunni harus menerima celaan terhadap sahabat,

  • Sunni harus tunduk pada Wilayah Faqih (otoritas politik Syiah).

Ini bukan persatuan, tapi penyerahan diri.


Kesimpulan: Persatuan Mustahil karena Akidah Berbeda Total

Syiah tidak bisa bersatu dengan Sunni karena:

  1. Akidah mereka bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

  2. Mereka mengkafirkan dan membenci sahabat.

  3. Mereka memiliki doktrin imamah yang tidak ada dalam Islam.

  4. Mereka membolehkan kebohongan melalui taqiyyah.

  5. Mereka meyakini imam sebagai makhluk suci.

  6. Mereka merusak sejarah Islam dan menolak hadis sahih.

  7. Mereka memiliki amalan yang tidak ada dalam ajaran Nabi ﷺ.

Persatuan hanya mungkin terjadi jika:

  • Syiah meninggalkan penyimpangannya,

  • Mengakui Sunnah,

  • Menghentikan penghinaan terhadap sahabat.

Sebelum itu terjadi, persatuan hanyalah mitos yang mustahil.


(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: