Syiahindonesia.com – Pembahasan mengenai sikap Syiah terhadap sunnah Rasulullah ﷺ merupakan isu krusial yang perlu dijelaskan secara rapi, sistematis, dan berbasis dalil agar umat Islam di Indonesia memiliki pemahaman yang utuh dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyesatkan. Persoalan ini bukan sekadar perbedaan praktik ibadah yang bersifat cabang, melainkan menyentuh fondasi agama: sumber hukum Islam, otoritas periwayatan, serta metode memahami Al-Qur’an dan sunnah. Ketika sunnah Nabi ﷺ tidak ditempatkan sebagai rujukan utama sebagaimana yang diajarkan Islam, maka lahirlah penyimpangan akidah dan praktik yang menjauh dari Islam yang murni.
Kedudukan Sunnah dalam Islam
Dalam Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sunnah Rasulullah ﷺ menempati posisi yang sangat agung sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Sunnah menjelaskan, merinci, dan menguatkan ajaran Al-Qur’an, sehingga tidak mungkin memahami Islam secara benar tanpa merujuk kepada sunnah. Allah ﷻ berfirman:
﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا﴾
“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ bersifat mutlak, bukan pilihan, dan mencakup seluruh ajaran beliau yang sahih.
Masalah Utama: Penolakan Otoritas Sahabat
Salah satu sebab utama mengapa Syiah tidak mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ secara utuh adalah sikap mereka terhadap para sahabat Nabi. Dalam ajaran Syiah, mayoritas sahabat dianggap tidak adil, bahkan sebagian dituduh berkhianat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Akibatnya, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat tersebut ditolak atau diragukan.
Padahal, Al-Qur’an secara tegas memuji dan meridhai para sahabat. Allah ﷻ berfirman:
﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ﴾
“Sungguh Allah telah ridha kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”
(QS. Al-Fath: 18)
Menolak kesaksian dan keadilan para sahabat berarti meruntuhkan fondasi periwayatan sunnah itu sendiri.
Konsep Imamah Menggantikan Sunnah
Syiah mengembangkan doktrin imamah yang menempatkan imam-imam mereka sebagai figur maksum, tidak mungkin salah, dan memiliki otoritas agama mutlak. Dalam praktiknya, perkataan imam sering kali didahulukan atas hadis-hadis shahih Nabi ﷺ.
Pandangan ini bertentangan dengan ajaran Islam yang menegaskan bahwa kemaksuman hanya milik para nabi. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa setelah beliau akan ada manusia yang memiliki otoritas kebenaran mutlak. Bahkan beliau bersabda:
«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ»
“Wajib atas kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini justru menegaskan pentingnya mengikuti sunnah Nabi dan para sahabat, bukan menggantinya dengan figur baru.
Perbedaan Sumber Hadis
Syiah memiliki kitab-kitab hadis sendiri, seperti Al-Kafi dan kitab lainnya, yang sanad dan isinya tidak melalui metodologi ketat sebagaimana ilmu hadis Ahlus Sunnah. Dalam kitab-kitab tersebut terdapat riwayat-riwayat yang bertentangan dengan Al-Qur’an, merendahkan sahabat, dan mengandung konsep-konsep akidah yang asing dalam Islam.
Ketika sumber hadisnya berbeda, maka pemahaman terhadap sunnah pun berbeda. Inilah sebab mengapa banyak ajaran dan praktik Syiah tidak memiliki landasan dalam sunnah Rasulullah ﷺ yang sahih.
Penyimpangan dalam Praktik Ibadah
Tidak mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ tampak jelas dalam praktik ibadah Syiah. Beberapa contohnya adalah penggabungan shalat tanpa uzur syar’i, ritual Asyura dengan ratapan dan melukai diri, serta doa-doa yang berisi permohonan kepada selain Allah.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah harus mengikuti contoh Nabi ﷺ secara langsung, bukan berdasarkan tradisi, emosi, atau klaim spiritual.
Konsep Akidah yang Menyelisihi Sunnah
Dalam aspek akidah, Syiah mengembangkan keyakinan seperti imam mengetahui perkara gaib, adanya raj’ah (kembalinya imam tertentu), serta penggunaan taqiyyah dalam makna manipulatif. Semua ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.
Allah ﷻ berfirman:
﴿قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ﴾
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa aku memiliki perbendaharaan Allah dan aku tidak mengetahui yang gaib.”
(QS. Al-An’am: 50)
Jika Nabi ﷺ sendiri tidak mengklaim mengetahui yang gaib, maka klaim tersebut terhadap imam jelas bertentangan dengan sunnah.
Narasi Cinta Ahlul Bait yang Disalahgunakan
Syiah sering membungkus penyimpangan mereka dengan slogan cinta Ahlul Bait. Padahal Ahlus Sunnah justru mencintai Ahlul Bait dengan cinta yang lurus, sesuai tuntunan syariat, tanpa berlebihan dan tanpa menabrak batas tauhid.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ»
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi prinsip penting agar kecintaan tidak berubah menjadi penyimpangan.
Dampak bagi Umat Islam di Indonesia
Di Indonesia, ajaran Syiah yang tidak mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ sering disebarkan melalui pendidikan, diskusi intelektual, dan media sosial. Jika tidak diantisipasi, umat Islam—terutama generasi muda—berisiko kehilangan pijakan terhadap Al-Qur’an dan sunnah yang sahih.
Menjaga kemurnian sunnah berarti menjaga Islam itu sendiri. Ketika sunnah ditinggalkan atau diganti, maka Islam berubah menjadi ideologi buatan manusia.
Kesimpulan
Syiah tidak mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ secara utuh karena mereka menolak otoritas sahabat, mengganti sunnah dengan doktrin imamah, menggunakan sumber hadis yang bermasalah, serta mengembangkan praktik dan akidah yang tidak memiliki dasar dari Nabi ﷺ. Oleh sebab itu, umat Islam Indonesia perlu waspada, memperdalam pemahaman Al-Qur’an dan sunnah sesuai manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, serta tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang tampak religius namun sejatinya menyimpang dari ajaran Rasulullah ﷺ.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: