Syiahindonesia.com - Salah satu kejanggalan paling besar dalam ajaran Syiah adalah kewajiban mutlak mencintai Ahlul Bait yang mereka gembar-gemborkan secara masif dan emosional, namun di saat yang sama mereka justru menanamkan kebencian, penghinaan, bahkan pelaknaan terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ yang telah dipuji secara langsung oleh Allah dalam Al-Qur’an dan dimuliakan oleh Nabi ﷺ dalam banyak hadis sahih. Kontradiksi ini bukan sekadar perbedaan sudut pandang sejarah, melainkan menyentuh inti akidah Islam, karena bagaimana mungkin seseorang mengaku mengikuti Rasulullah ﷺ namun membenci generasi yang paling dekat, paling berjasa, dan paling setia kepada beliau dalam menyebarkan Islam.
Cinta kepada Ahlul Bait dalam Islam: Kewajiban yang Lurus dan Tidak Menyimpang
Islam memang mewajibkan umatnya untuk mencintai Ahlul Bait Rasulullah ﷺ dengan cinta yang tulus, hormat, dan penuh adab, namun cinta tersebut harus berada dalam koridor wahyu, bukan didorong oleh fanatisme buta atau agenda ideologis. Allah Ta’ala berfirman:
﴿ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ ﴾
“ Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada keluarga dekat.”
(QS. Asy-Syura: 23)
Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa ayat ini adalah dalil keutamaan mencintai Ahlul Bait, bukan dalil untuk membenci sahabat. Rasulullah ﷺ sendiri menekankan pentingnya memuliakan keluarganya tanpa sedikit pun memberi ruang untuk mencela sahabat:
« أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي »
“ Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku.”
(HR. Muslim)
Cinta yang diajarkan Islam adalah cinta yang adil, seimbang, dan tidak melahirkan kezaliman terhadap pihak lain.
Penyimpangan Syiah: Cinta Ahlul Bait Dijadikan Senjata Ideologi
Dalam ajaran Syiah, cinta kepada Ahlul Bait tidak lagi dipahami sebagai ibadah, tetapi diubah menjadi alat ideologi yang dipaksakan sebagai ukuran keimanan seseorang. Seseorang dianggap belum benar-benar mencintai Ahlul Bait jika tidak membenci, mencela, atau menuduh sahabat-sahabat utama Rasulullah ﷺ sebagai pengkhianat, perampas hak, bahkan orang-orang yang disebut telah keluar dari Islam. Doktrin ini bukan hanya menyimpang, tetapi secara langsung bertabrakan dengan Al-Qur’an yang memuji para sahabat secara jelas dan tegas.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ﴾
“ Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini adalah tazkiyah langsung dari Allah, dan menolak atau merusaknya dengan propaganda kebencian berarti menolak kesaksian Allah sendiri.
Mengapa Syiah Harus Membenci Sahabat? Akar Masalah Imamah
Kebencian Syiah terhadap sahabat tidak muncul tanpa sebab, melainkan merupakan konsekuensi logis dari doktrin imamah yang menyatakan bahwa kepemimpinan umat Islam adalah hak eksklusif Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya. Agar doktrin ini tampak benar, Syiah harus membangun narasi bahwa para sahabat telah berkhianat, bersekongkol, dan menyingkirkan Ali dari haknya. Dengan cara inilah sejarah Islam dipelintir, riwayat palsu disebarkan, dan kebencian diwariskan lintas generasi.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan peringatan keras:
« لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي »
“ Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Larangan ini bersifat mutlak dan tidak memberikan pengecualian apa pun.
Kontradiksi Besar: Mengaku Cinta Ahlul Bait, Tapi Membenci Orang yang Mereka Cintai
Kontradiksi Syiah semakin nyata ketika fakta sejarah menunjukkan bahwa Ahlul Bait sendiri tidak pernah membenci para sahabat. Ali radhiyallahu ‘anhu membaiat Abu Bakar, Umar, dan Utsman, bahkan menikahkan putrinya dengan Umar bin Khattab. Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma hidup berdampingan dengan para sahabat tanpa kebencian, tanpa makian, dan tanpa doktrin permusuhan. Maka muncul pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Ahlul Bait, tetapi justru memusuhi orang-orang yang paling dicintai dan dihormati oleh Ahlul Bait itu sendiri?
Dampak Berbahaya bagi Umat Islam Indonesia
Ajaran ini bukan sekadar kesalahan teologis, tetapi juga membawa dampak sosial yang sangat berbahaya. Kebencian terhadap sahabat akan melahirkan kebencian terhadap mayoritas umat Islam, karena seluruh mazhab Sunni menjadikan sahabat sebagai rujukan utama dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Jika sahabat dirusak reputasinya, maka runtuhlah fondasi agama, terbukalah pintu perpecahan, dan umat Islam akan mudah diadu domba.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ﴾
“ Dan berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Kesimpulan: Cinta yang Dipelintir Menjadi Alat Perusak Akidah
Kewajiban mencintai Ahlul Bait dalam ajaran Syiah telah dipelintir menjadi alat untuk menanamkan kebencian terhadap sahabat, merusak sejarah Islam, dan memecah belah umat. Islam yang murni tidak pernah mengajarkan cinta yang dibangun di atas penghinaan dan permusuhan. Jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah jalan yang lurus: mencintai Ahlul Bait sepenuh hati, memuliakan seluruh sahabat, dan menjaga persatuan umat di atas Al-Qur’an dan Sunnah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: