Syiahindonesia.com - Tauhid adalah pondasi utama dalam Islam, inti dari seluruh ibadah, dan garis pemisah antara iman dan kesyirikan. Namun, dalam ajaran Syiah—khususnya Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah—konsep tauhid mengalami penyimpangan serius. Mereka mengklaim mengesakan Allah, tetapi dalam praktik dan keyakinan, mereka mengangkat imam-imam mereka ke posisi yang hanya layak bagi Allah, sehingga merusak kemurnian tauhid.
Artikel ini membahas penyimpangan akidah Syiah dalam memaknai tauhid, lengkap dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah yang membantahnya.
1. Tauhid Uluhiyah: Syiah Mengarahkan Ibadah kepada Selain Allah
Dalam Islam, tauhid uluhiyah adalah memurnikan seluruh ibadah hanya kepada Allah.
Allah berfirman:
﴿ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ﴾
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”
(QS. An-Nisa: 36)
Namun dalam ajaran Syiah, doa, istighatsah, nazar, dan permohonan sering diarahkan kepada:
-
Ali bin Abi Thalib
-
Fathimah
-
Hasan dan Husain
-
Para imam lainnya
Contoh doa Syiah yang diajarkan dalam kitab mereka:
-
“Wahai Ali, penuhilah hajatku.”
-
“Wahai Husain, selamatkan aku.”
Padahal Nabi ﷺ bersabda:
« إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ »
“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi)
Kesalahan fatal:
Syiah memalingkan ibadah doa kepada makhluk—ini syirik akbar.
2. Syiah Memberi Sifat Rububiyah kepada Para Imam
Syiah Imamiyah meyakini bahwa para imam:
-
Mengatur alam semesta,
-
Memiliki kemampuan mengetahui masa depan,
-
Mengetahui yang ghaib,
-
Mampu memberi syafaat tanpa izin Allah,
-
Memiliki kekuatan kosmik yang ditanamkan Allah.
Ini bertentangan dengan firman Allah:
﴿ قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ﴾
“Katakanlah: tidak ada di langit dan di bumi yang mengetahui yang ghaib kecuali Allah.”
(QS. An-Naml: 65)
Tidak ada manusia, termasuk para imam Ahlul Bait, yang memiliki sifat-sifat ketuhanan seperti:
-
mengetahui ghaib,
-
mengatur alam,
-
menyelamatkan manusia di akhirat.
3. Keyakinan Imamah Syiah Menjadi Pengganti Tauhid
Dalam Syiah, rukun iman bukan 6 seperti Ahlus Sunnah, tetapi mereka menjadikan “Imamah” sebagai rukun terbesar bahkan lebih tinggi dari tauhid.
Tokoh Syiah berkata:
-
“Tidak diterima amal tanpa imamah.”
-
“Mengenal imam lebih penting daripada mengenal Allah.”
-
“Barangsiapa tidak beriman kepada dua belas imam, imannya batal.”
Artinya, kedudukan imam dalam Syiah menggeser peran Allah dalam menentukan keselamatan manusia.
Padahal Allah berfirman:
﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik.”
(QS. An-Nisa: 48)
Tidak pernah Allah menjadikan “imam tertentu” sebagai syarat sahnya iman.
4. Syiah Menganggap Imam Maksum Seperti Nabi
Dalam Syiah, imam dianggap:
-
tidak pernah salah,
-
tidak mungkin lupa,
-
tidak mungkin berdosa,
-
semua perkataannya wahyu terpelihara.
Ini berarti mereka memberi sifat:
-
‘ishmah (kemaksuman)
-
ma’shum dari kesalahan
Padahal hanya para nabi yang memiliki kemaksuman khusus dari Allah.
Allah berfirman tentang Nabi ﷺ:
﴿ وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى • إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى ﴾
“Dia (Muhammad) tidak berbicara dari hawa nafsu. Itu tidak lain hanyalah wahyu.”
(QS. An-Najm: 3–4)
Jika imam Syiah dianggap ma’shum seperti nabi, berarti:
-
imam sama derajatnya dengan nabi,
-
bahkan lebih tinggi, menurut sebagian riwayat mereka.
Ini menodai tauhid risalah.
5. Syiah Mengangkat Imam sebagai Perantara Mutlak
Islam mengajarkan bahwa Allah dekat kepada hamba-Nya:
﴿ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴾
“Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf: 16)
Syiah justru mengajarkan bahwa:
-
tidak ada manusia bisa sampai kepada Allah kecuali melalui imam,
-
imam adalah perantara mutlak (intermediary) antara manusia dan Allah,
-
iman tidak diterima tanpa imam.
Ini sama dengan konsep pendeta sebagai perantara dalam gereja, atau konsep dewa perantara dalam agama pagan.
Padahal Nabi ﷺ tidak mengajarkan perantara selain doa langsung kepada Allah.
6. Syiah Mengkultuskan Ali dan Ahlul Bait Melebihi Batas
Kecintaan kepada Ahlul Bait adalah bagian dari iman.
Namun Syiah menjadikannya:
-
kultus ekstrem,
-
pemujaan,
-
pemberian sifat ketuhanan,
-
ritual-ritual syirik.
Mereka memuji Ali dengan sifat:
-
“Pengatur alam,”
-
“Sang cahaya yang menghidupkan,”
-
“Yang mengampuni dosa umat,”
-
“Yang menguasai hari kiamat.”
Padahal Ali sendiri berkata:
“Celakalah orang yang berlebihan terhadap kami.”
(riwayat shahih dalam atsar salaf)
Tauhid tidak menerima kultus seperti itu.
7. Kesalahan Syiah dalam Memahami Tauhid Asma’ wa Shifat
Ahlus Sunnah menetapkan sifat Allah:
-
sebagaimana dalam Al-Qur’an dan Sunnah,
-
tanpa tahrif (mengubah makna),
-
tanpa ta’thil (meniadakan sifat),
-
tanpa tasybih (menyerupakan),
-
tanpa takyif (membayangkan bentuk).
Syiah dalam banyak literatur mereka:
-
menolak sebagian sifat Allah,
-
menafsirkan sifat-sifat ilahiyah secara menyimpang,
-
memasukkan sifat-sifat Allah kepada imam.
Contoh:
-
Mereka mengatakan imam mengetahui ghaib, padahal itu sifat Allah.
-
Mereka mengatakan imam mengatur alam, padahal itu rububiyah Allah.
Ini jelas bentuk penyerupaan makhluk dengan Allah.
8. Tauhid Syiah Menyimpang Karena Dipengaruhi Ajaran Persia dan Ghuluw
Sejarah mencatat bahwa munculnya Syiah dipengaruhi oleh:
-
unsur ajaran Persia Majusi,
-
doktrin dualisme (Nur vs Kegelapan),
-
kultus keluarga kerajaan,
-
pemujaan tokoh spiritual.
Pengaruh inilah yang menjadikan Syiah memuliakan imam secara berlebihan hingga mencapai derajat ketuhanan.
Tauhid yang benar tidak boleh tercampur oleh budaya syirik dan kultus manusia.
Kesimpulan
Penyimpangan Syiah dalam konsep tauhid dapat diringkas sebagai berikut:
-
Memalingkan doa dan ibadah kepada selain Allah.
-
Memberi sifat ketuhanan (ghaib, rububiyah) kepada imam.
-
Mengangkat imamah sebagai rukun terbesar, menggeser tauhid.
-
Menganggap imam ma’shum seperti nabi, bahkan lebih.
-
Menjadikan imam sebagai perantara wajib kepada Allah.
-
Melakukan kultus ekstrem terhadap Ali dan Ahlul Bait.
-
Menyimpangkan sifat-sifat Allah dan memberikannya kepada makhluk.
Segala bentuk pemalingan ibadah kepada selain Allah adalah kesyirikan, dan Islam datang untuk menghancurkan segala bentuk syirik. Tauhid Islam adalah murni, lurus, dan tanpa perantara—sedangkan ajaran Syiah penuh penyimpangan dan ghuluw yang merusak akidah.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: