Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Memanipulasi Sejarah demi Kepentingan Mereka

 


Syiahindonesia.com –
Dalam kajian sejarah Islam, perbedaan penafsiran merupakan hal yang wajar. Namun, persoalan menjadi serius ketika sejarah diperlakukan bukan sebagai disiplin ilmiah yang mengandalkan sumber sahih, metodologi kritik riwayat, dan kronologi yang jujur, melainkan dijadikan alat ideologis untuk membenarkan doktrin tertentu. Sejumlah peneliti dan ulama Ahlus Sunnah menilai bahwa dalam tradisi Syiah Imamiyah, sejarah kerap diperlakukan secara selektif, dipotong, ditambah, atau diarahkan sedemikian rupa agar selaras dengan konsep imamah, legitimasi politik, dan pembentukan identitas kelompok. Artikel ini membahas secara rinci pola-pola manipulasi sejarah yang sering dikritik para ulama dan akademisi, dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan intelektual umat Islam Indonesia.


1. Sejarah sebagai Instrumen Ideologi, Bukan Ilmu

Dalam pendekatan ilmiah, sejarah menuntut verifikasi sanad, perbandingan sumber, dan penilaian konteks. Namun, dalam literatur Syiah polemis, sejarah sering diposisikan sebagai sarana penguatan ideologi imamah. Peristiwa-peristiwa besar seperti wafatnya Nabi ﷺ, pengangkatan khalifah, hingga konflik politik awal Islam dipresentasikan dengan sudut pandang tunggal yang menempatkan tokoh-tokoh tertentu sebagai “pahlawan absolut” dan pihak lain sebagai “penyebab kezaliman”, tanpa memberi ruang pada kompleksitas realitas sejarah. Pendekatan ini dikritik karena mengaburkan fakta dan menggeser sejarah dari disiplin ilmu menjadi narasi legitimasi kelompok.


2. Distorsi Peristiwa Saqifah dan Awal Kekhalifahan

Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah merupakan salah satu momen paling sering diperdebatkan. Dalam historiografi Sunni, peristiwa ini dipahami sebagai ijtihad kolektif para sahabat untuk menjaga persatuan umat pasca wafatnya Nabi ﷺ. Sebaliknya, dalam banyak karya Syiah, Saqifah digambarkan sebagai “kudeta politik” yang sengaja menyingkirkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Narasi ini kerap mengabaikan riwayat-riwayat sahih yang menunjukkan baiat umum, musyawarah, dan penerimaan luas kaum Muslimin pada masa itu, serta mengesampingkan prinsip ijtihad yang diakui dalam Islam.


3. Pencitraan Negatif terhadap Para Sahabat Nabi

Salah satu kritik paling mendasar terhadap literatur Syiah polemis adalah kecenderungan menciptakan citra negatif terhadap para sahabat Nabi ﷺ. Dalam banyak riwayat, tokoh-tokoh sentral seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum digambarkan dengan narasi pengkhianatan dan ambisi politik. Pendekatan ini bertentangan dengan prinsip Al-Qur’an yang memuji generasi sahabat secara umum:

﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ﴾
“Orang-orang yang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Pengaburan terhadap pujian Al-Qur’an ini dipandang sebagai upaya menggeser kepercayaan umat dari sanad keilmuan Islam yang autentik.


4. Tragedi Karbala: Dari Fakta Sejarah ke Narasi Emosional

Peristiwa Karbala adalah tragedi besar dalam sejarah Islam yang menyayat hati umat. Namun, kritik akademik menyebutkan bahwa sebagian literatur Syiah mengembangkan Karbala menjadi narasi emosional yang sarat dramatik, simbolisme politik, dan pesan kebencian lintas generasi. Fakta-fakta sejarah yang kompleks sering disederhanakan menjadi hitam-putih, sehingga Karbala tidak lagi dipahami sebagai pelajaran moral tentang kezaliman dan kesabaran, melainkan sebagai alat mobilisasi emosi dan identitas kelompok.


5. Penggunaan Riwayat Lemah dan Israiliyat

Dalam historiografi Syiah, ditemukan penggunaan riwayat-riwayat lemah, bahkan kisah Israiliyat, untuk menguatkan klaim tertentu. Metode kritik sanad yang ketat—sebagaimana dikembangkan ulama hadis—sering diabaikan demi mempertahankan narasi imamah. Padahal Islam menekankan kehati-hatian dalam menerima berita sejarah:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa berita, maka telitilah.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menjadi prinsip utama verifikasi sejarah dalam Islam.


6. Penulisan Sejarah Dinasti dan Kekuasaan

Sejarah Dinasti Umayyah dan Abbasiyah dalam literatur Syiah sering disajikan dengan fokus tunggal pada sisi gelap kekuasaan, tanpa keseimbangan analisis. Keberhasilan administrasi, kontribusi keilmuan, dan perluasan peradaban Islam kerap diabaikan. Penekanan berlebihan pada konflik ini bertujuan membangun narasi bahwa seluruh sejarah politik Islam adalah rangkaian penindasan terhadap Ahlul Bait, sebuah generalisasi yang dikritik oleh banyak sejarawan Muslim.


7. Sejarah sebagai Alat Pembentukan Identitas Politik Modern

Dalam konteks kontemporer, sejarah versi Syiah digunakan untuk membangun solidaritas politik lintas negara. Peristiwa masa lalu diproyeksikan ke konflik modern, sehingga sejarah menjadi alat legitimasi kebijakan dan ekspansi pengaruh. Pendekatan ini dinilai berbahaya karena mengaburkan batas antara kajian ilmiah dan propaganda ideologis, serta berpotensi memecah belah umat Islam.


8. Peran Media dan Pendidikan dalam Reproduksi Narasi

Manipulasi sejarah tidak berhenti pada kitab klasik, tetapi direproduksi melalui media modern, film, drama, dan kurikulum pendidikan. Penyajian visual dan emosional membuat narasi tertentu diterima tanpa kritik, terutama oleh generasi muda. Oleh karena itu, literasi sejarah dan pemahaman metodologi ilmiah menjadi sangat penting agar umat mampu membedakan antara fakta, tafsir, dan propaganda.


9. Prinsip Islam dalam Menyikapi Sejarah

Islam mengajarkan keseimbangan, keadilan, dan kejujuran dalam menilai sejarah. Nabi ﷺ bersabda:

« دَعُوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ »
“Biarkanlah sahabat-sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud infak mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan adab dalam menilai generasi awal Islam.


Kesimpulan

Manipulasi sejarah demi kepentingan ideologis merupakan ancaman serius bagi pemahaman Islam yang jernih. Kritik terhadap pendekatan historiografi Syiah yang selektif dan polemis bukanlah seruan kebencian, melainkan upaya menjaga objektivitas, kejujuran ilmiah, dan persatuan umat. Umat Islam Indonesia perlu membekali diri dengan literasi sejarah, metodologi hadis, dan sikap kritis agar tidak terjebak dalam narasi yang memecah belah. Dengan kembali kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan tradisi keilmuan yang sahih, umat dapat menyikapi sejarah secara adil dan proporsional.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: