Salah satu pintu utama penyusupan tersebut adalah melalui kajian sejarah Islam yang disajikan secara selektif dan tidak utuh, di mana peristiwa-peristiwa sensitif seperti wafatnya Rasulullah ﷺ, masa khilafah, dan tragedi Karbala dipelintir untuk membangun narasi bahwa mayoritas sahabat Nabi telah berkhianat terhadap keluarga Rasulullah ﷺ. Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini sering dikemas sebagai “sejarah kritis” atau “pembacaan ulang sejarah Islam”, padahal substansinya adalah penanaman keraguan terhadap para sahabat yang justru dipuji dan diridhai oleh Allah ﷻ. Allah berfirman: ﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ﴾ yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka.” (QS. At-Taubah: 100). Ayat ini secara tegas membantah narasi yang merendahkan generasi sahabat.
Selain itu, penyusupan juga dilakukan melalui pendekatan intelektual dengan memperkenalkan literatur dan tokoh-tokoh pemikir Syiah dalam kurikulum atau bacaan tambahan, khususnya di lingkungan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan Islam tingkat lanjut. Pemikiran-pemikiran tersebut sering disajikan sebagai alternatif pemikiran Islam yang sah, seolah-olah perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah perbedaan furu’ (cabang), bukan perbedaan mendasar dalam akidah dan sumber agama. Padahal, Syiah memiliki konsep imamah yang menempatkan imam sebagai figur maksum, memiliki otoritas keagamaan mutlak, dan dalam banyak riwayat diyakini memiliki pengetahuan gaib, suatu keyakinan yang bertentangan dengan prinsip tauhid dan kenabian dalam Islam.
Dalam proses pendidikan, Syiah juga memanfaatkan semangat pluralisme dan toleransi yang sering dipahami secara keliru, dengan menanamkan gagasan bahwa menolak ajaran Syiah sama dengan sikap intoleran dan anti-keberagaman. Pemahaman ini berbahaya karena mencampuradukkan antara toleransi sosial dan kompromi akidah. Islam mengajarkan toleransi dalam muamalah, namun tegas dalam menjaga kemurnian iman. Rasulullah ﷺ bersabda: «تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي» yang artinya, “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan sunnahku.” (HR. Malik). Hadis ini menegaskan bahwa standar kebenaran dalam Islam bukanlah relativisme pemikiran, melainkan wahyu.
Penyusupan ajaran Syiah di dunia pendidikan Islam juga dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler, forum diskusi, dan komunitas kajian nonformal yang sering kali tidak berada di bawah pengawasan ketat otoritas lembaga pendidikan. Dalam forum-forum ini, peserta didik diarahkan untuk meragukan hadis-hadis shahih dengan alasan metodologi periwayatan yang dipersoalkan, khususnya hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Ketika kepercayaan terhadap hadis runtuh, maka pemahaman agama menjadi liar dan mudah diarahkan sesuai kepentingan ideologis tertentu.
Lebih jauh lagi, Syiah juga memanfaatkan ketertarikan pelajar dan mahasiswa terhadap isu-isu keadilan sosial, perlawanan terhadap kezaliman, dan solidaritas terhadap kelompok tertindas. Isu-isu ini kemudian dikaitkan dengan narasi imamah dan perjuangan Syiah, seolah-olah kebenaran agama identik dengan sikap politik dan afiliasi mazhab tertentu. Padahal Islam memisahkan antara kebenaran wahyu dan kepentingan politik. Allah ﷻ berfirman: ﴿وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ﴾ yang artinya, “Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain.” (QS. Al-An’am: 153). Ayat ini menegaskan bahwa kebenaran Islam hanya satu, bukan hasil kompromi berbagai ideologi.
Dampak dari penyusupan ini sangat serius, karena dunia pendidikan seharusnya menjadi benteng penjaga akidah umat, bukan justru menjadi pintu masuk penyimpangan. Ketika generasi muda Muslim dididik dengan keraguan terhadap Al-Qur’an, sunnah, dan para sahabat, maka yang lahir adalah generasi yang kehilangan pijakan iman dan mudah diarahkan ke pemahaman yang menyimpang. Oleh karena itu, penguatan kurikulum akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, peningkatan literasi keislaman yang benar, serta kewaspadaan terhadap materi ajar dan kegiatan nonformal menjadi langkah mendesak untuk mencegah penyusupan ajaran Syiah di dunia pendidikan Islam Indonesia.
(albert/syiahindonesia.com)
0 komentar: