Syiahindonesia.com - Perkembangan teknologi informasi dan internet telah mengubah cara penyebaran ideologi dan pemikiran keagamaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Jika dahulu penyebaran ajaran Syiah dilakukan secara terbatas melalui majelis tertutup, buku fisik, dan jaringan personal, kini internet menjadi sarana utama yang sangat efektif untuk menyebarkan doktrin-doktrin mereka. Melalui media sosial, situs web, forum diskusi, hingga platform video, ajaran Syiah dikemas secara sistematis dan sering kali disamarkan agar terlihat moderat, ilmiah, dan seolah-olah tidak bertentangan dengan Islam secara umum.
Internet sebagai Alat Strategis Penyebaran Ideologi
Syiah memahami bahwa internet adalah ruang bebas yang menjangkau semua kalangan, khususnya generasi muda yang minim literatur klasik Islam. Dengan memanfaatkan algoritma media sosial dan kemudahan berbagi konten, ajaran Syiah dapat masuk ke ruang pribadi umat Islam tanpa melalui proses verifikasi keilmuan yang memadai. Banyak konten dibuat dalam bentuk artikel populer, kutipan singkat, atau video pendek yang emosional sehingga mudah diterima oleh orang awam.
Strategi ini membuat penyebaran ajaran Syiah jauh lebih efektif dibandingkan metode konvensional, karena pesan dapat disampaikan secara masif, cepat, dan berulang-ulang.
Situs Web dan Portal “Edukasi” sebagai Kedok
Salah satu cara utama Syiah menyebarkan doktrin mereka adalah melalui situs web yang mengklaim sebagai portal edukasi Islam, sejarah Islam, atau kajian Ahlul Bait. Situs-situs ini biasanya menampilkan desain profesional, bahasa yang sopan, dan narasi akademis untuk membangun kesan kredibel. Namun, di balik tampilan tersebut, terdapat distorsi sejarah dan penanaman doktrin yang bertentangan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Konten yang disajikan sering kali memilih dalil secara selektif, mengutip riwayat lemah atau palsu, serta mengabaikan ijma’ ulama Sunni. Pembaca awam yang tidak memiliki dasar ilmu yang kuat sangat mudah terpengaruh oleh metode ini.
Media Sosial dan Manipulasi Emosi
Media sosial seperti Facebook, Instagram, X, dan TikTok menjadi sarana utama penyebaran propaganda Syiah. Konten yang diunggah biasanya bersifat emosional, seperti kisah Karbala, narasi penindasan Ahlul Bait, atau tuduhan kezaliman para sahabat Nabi ﷺ. Emosi kesedihan dan kemarahan sengaja dibangkitkan untuk melemahkan nalar kritis pembaca.
Padahal Allah Ta’ala memperingatkan agar kaum Muslimin tidak mengikuti informasi tanpa ilmu:
﴿ وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ﴾
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini menjadi prinsip penting dalam menyikapi konten keagamaan di internet yang sering kali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Video Dakwah dan Ceramah yang Menyesatkan
Platform video seperti YouTube dan podcast dimanfaatkan untuk menyebarkan ceramah-ceramah Syiah dengan kemasan intelektual. Para dai Syiah sering tampil menggunakan istilah-istilah Sunni, mengaku mencintai seluruh sahabat, dan menolak label ekstremisme. Namun secara perlahan, mereka menyisipkan doktrin seperti imamah, celaan terhadap khalifah, dan penafsiran Al-Qur’an yang menyimpang.
Metode ini sangat berbahaya karena dilakukan secara bertahap, sehingga penonton tidak langsung menyadari perubahan pemahaman yang sedang ditanamkan.
Forum Diskusi dan Ruang Tanya Jawab Online
Syiah juga aktif dalam forum diskusi Islam dan kolom tanya jawab online. Mereka sering memulai dengan pertanyaan provokatif seperti “Benarkah Sunni membenci Ahlul Bait?” atau “Mengapa sejarah Islam disembunyikan?” Pertanyaan-pertanyaan ini bertujuan menggoyahkan keyakinan umat Islam terhadap ulama dan sejarah yang sahih.
Dalam Islam, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahaya orang yang berbicara agama tanpa ilmu:
« مَنْ أَفْتَى بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ إِثْمُهُ عَلَى مَنْ أَفْتَاهُ »
“Barang siapa memberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberi fatwa tersebut.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan betapa berbahayanya diskusi agama yang tidak berlandaskan ilmu yang benar.
Taqiyyah Digital dan Identitas Palsu
Di dunia maya, konsep taqiyyah Syiah diterapkan dengan sangat luas. Banyak akun media sosial yang tidak secara terbuka mengaku Syiah, tetapi aktif menyebarkan narasi yang mendukung ajaran mereka. Identitas palsu digunakan untuk menciptakan kesan bahwa pandangan tersebut berasal dari kalangan Sunni sendiri.
Metode ini membuat umat Islam sulit membedakan antara dakwah yang lurus dan propaganda yang menyimpang, sehingga kewaspadaan menjadi keharusan.
Dampak Penyebaran Syiah melalui Internet bagi Umat Islam
Penyebaran ajaran Syiah melalui internet telah menyebabkan kebingungan akidah, terutama di kalangan generasi muda. Banyak yang mulai meragukan sahabat Nabi ﷺ, mempertanyakan keotentikan hadis, dan terjebak dalam narasi sejarah yang telah dipelintir. Jika tidak diantisipasi, hal ini dapat merusak persatuan umat Islam dan melemahkan pemahaman agama yang benar.
Oleh karena itu, umat Islam harus memperkuat literasi keislaman, merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya, dan tidak mudah menerima konten keagamaan dari sumber yang tidak jelas.
Penutup
Internet adalah alat yang netral, namun di tangan kelompok yang memiliki agenda ideologis, ia dapat menjadi sarana penyebaran kesesatan yang sangat efektif. Syiah telah memanfaatkan dunia digital untuk menyebarkan doktrin mereka secara halus, sistematis, dan masif. Menyadari strategi ini adalah langkah awal untuk melindungi akidah umat Islam. Dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat Nabi ﷺ, umat Islam dapat menjaga diri dari pengaruh ajaran yang menyimpang dan merusak persatuan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: