Breaking News
Loading...

Bagaimana Syiah Menggunakan Isu Palestina untuk Menyesatkan Umat?

Pendahuluan

Isu Palestina adalah isu umat Islam yang menyentuh hati seluruh dunia. Namun, Syiah—khususnya Iran dan kelompok-kelompok yang berada di bawah pengaruhnya—menggunakan isu ini bukan murni sebagai solidaritas, tetapi sebagai alat propaganda ideologi. Mereka memanfaatkan penderitaan rakyat Palestina untuk:

  • membangun citra palsu bahwa Syiah “pembela Islam”,

  • merebut simpati umat Sunni,

  • menyamarkan penyimpangan akidah mereka,

  • mendapatkan dukungan politik internasional.

Dengan kata lain, isu Palestina dijadikan panggung pencitraan sekaligus jalan pintas untuk menyebarkan syi’ar Rafidhah.


1. Narasi “Syiah Pembela Palestina” yang Penuh Manipulasi

A. Membangun citra palsu bahwa Iran membela umat Islam

Iran memposisikan dirinya sebagai:

  • anti-Israel,

  • anti-Amerika,

  • pembela Palestina.

Narasi ini diputar di media Syiah dan akun-akun yang mereka biayai agar umat Islam merasa bahwa Syiah adalah “sekutu perjuangan”.

Padahal kenyataannya:

  • Iran lebih sibuk memperluas kuasa Wilayah al-Faqih di Suriah, Yaman, Irak, Lebanon.

  • Israel tidak pernah diserang langsung oleh Iran dalam skala perang nyata.

  • Palestina mayoritas Sunni, dan Hamas pun bukan Syiah.

Jadi dukungan Iran kepada Palestina bukan karena akidah, tapi karena kepentingan geopolitik.


2. Syiah Memanfaatkan Palestina untuk Menyusup ke Dunia Sunni

A. Menggunakan simbol perlawanan untuk menyamarkan aqidah sesat

Syiah mencitrakan:

  • bendera Hizbullah,

  • gambar Qassem Soleimani,

  • slogan “anti-zionis”,

sebagai simbol yang harus dipuji oleh umat Islam.

Tujuannya: menyekolahkan umat Sunni agar simpati dulu, sebelum akhirnya menerima doktrin Syiah secara perlahan.

Ini strategi soft indoctrination.


B. Menghubungkan Karbala dengan Gaza

Narasi Syiah di media:

“Karbala hari ini adalah Gaza.”
“Husain adalah inspirasi perlawanan Palestina.”
“Tiap yang menolong Palestina adalah bagian dari pasukan Husain.”

Ini manipulasi emosional yang menggabungkan tragedi Karbala dengan perjuangan Palestina, padahal:

  • Tragedi Karbala tidak ada hubungannya dengan konflik Palestina.

  • Syiah menjadikan Karbala sebagai sentral agama mereka, bukan Al-Qur’an.

Ini trik untuk mendorong orang menerima simbol-simbol Syiah saat melihat Gaza.


C. Membajak tokoh Sunni yang berbicara soal Palestina

Beberapa konten pro-Syiah memotong ceramah ulama Sunni:

  • Syaikh Raid Salah,

  • tokoh Hamas,

  • tokoh Jihad Islami,

lalu menempelkan logo Iran/Hizbullah seolah para tokoh tersebut adalah pendukung Syiah.

Padahal mereka jelas Sunni.


3. Menggunakan Palestina sebagai Tameng Kekejaman Iran di Negara Sunni

Syiah sengaja membuat umat sibuk memuji “keberanian Iran” di Palestina agar menutupi kehancuran yang dilakukan Iran di negara-negara Sunni lain:

A. Suriah

Syiah membantu rezim Bashar Assad yang:

  • membunuh ratusan ribu rakyat Sunni,

  • menghancurkan masjid,

  • menahan ulama Sunni,

  • membantai anak-anak.

Ironisnya, semua dilakukan atas nama “melawan Israel”.
Padahal Israel sama sekali tidak diserang.


B. Yaman

Hutsi (Syiah Zaidiyah yang dipersenjatai Iran) melakukan kudeta dan menindas mayoritas Sunni.
Tapi propaganda mereka di internet:

“Kami hanya sedang melawan Israel.”

Padahal anak-anak Sunni yang meninggal karena perang di Yaman jauh lebih banyak daripada korban yang mereka klaim “perang melawan Israel”.


C. Irak

Milisi Syiah membantai ribuan Sunni antara 2003–2015, namun Iran terus mem-branding diri sebagai pembela Palestina untuk menutupi fakta ini.


D. Lebanon

Hizbullah mengaku melawan Israel, tapi justru:

  • lebih sering menindas warga Sunni Lebanon,

  • berperang untuk Assad di Suriah,

  • memperkuat proyek Iran daripada membela Palestina.


4. Propaganda Digital: Senjata Syiah yang Paling Berbahaya

A. Produksi konten pro-Syiah bertema Palestina

Mereka membuat:

  • video pendek,

  • poster,

  • ceramah motivasi,

  • klip pertempuran,

  • logo “Axis of Resistance”.

Semua dipasarkan ke audiens Sunni di:

  • Indonesia,

  • Malaysia,

  • Pakistan,

  • Turki,

  • Afrika Utara.

Tujuannya: memoles citra Iran dan Syiah agar terlihat heroik.


B. Menyerang ulama Sunni yang tidak sejalan

Syiah mempropagandakan bahwa ulama Sunni:

  • penakut,

  • tidak peduli Palestina,

  • pro-Barat,
    jika mereka mengkritik Iran.

Padahal para ulama Sunni-lah yang paling banyak membela Palestina secara ilmiah dan konsisten sejak dulu.


C. Menggunakan Palestina untuk merekrut simpatisan baru

Setelah simpati terbentuk, barulah doktrin Syiah dimasukkan:

  • imamah,

  • bada’,

  • raj’ah,

  • takfir sahabat,

  • kepercayaan imam maksum,

  • tahrif makna Al-Qur’an.

Jadi Palestina hanyalah pintu masuk menuju indoktrinasi.


5. Apa Kata Al-Qur’an dan Sunnah?

A. Islam melarang memanfaatkan penderitaan umat untuk propaganda

Allah berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ
“Jangan kalian campuradukkan yang benar dengan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 42)

Syiah mencampuradukkan kebenaran (dukungan kepada Palestina) dengan kebatilan (propaganda sesat).


B. Islam memuliakan sahabat yang justru dihina oleh Syiah

Allah memuji sahabat:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
(QS. At-Taubah: 100)

Namun Syiah memanfaatkan isu Palestina untuk mengaburkan ajaran mereka yang menghina sahabat.


Kesimpulan

Syiah menggunakan isu Palestina sebagai alat manipulasi untuk menyebarkan paham sesat mereka. Strategi ini mencakup:

  • pencitraan palsu melalui media dan milisi,

  • penyusupan narasi pro-Karbala ke dalam isu Palestina,

  • penggunaan simbol perlawanan untuk menghipnotis umat Sunni,

  • menutupi kekejaman Iran terhadap Sunni di Suriah, Yaman, Irak, dan Lebanon.,

  • membentuk opini bahwa Syiah adalah satu-satunya “pembela Palestina”.

Padahal dukungan mereka bukan karena aqidah, tetapi karena kepentingan geopolitik dan ideologi Wilayah al-Faqih.



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: