Breaking News
Loading...

Syiah dalam Pandangan Ulama Salaf


Syiahindonesia.com
– Ajaran Syiah bukan sekadar perbedaan mazhab, melainkan telah menyentuh aspek-aspek akidah, ibadah, dan sikap terhadap para sahabat Nabi yang sangat bertentangan dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena itu, para ulama salaf sejak masa awal Islam hingga kini telah menegaskan sikap tegas dalam menolak Syiah sebagai kelompok yang menyimpang dari jalan Islam yang lurus.

Definisi dan Asal Mula Syiah

Syiah secara bahasa berarti "pengikut" atau "pendukung". Secara istilah, Syiah adalah kelompok yang mengklaim sebagai pengikut setia Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan meyakini bahwa kepemimpinan umat Islam setelah Nabi Muhammad ﷺ adalah hak Ali dan keturunannya. Namun, keyakinan ini tidak hanya berhenti pada loyalitas politik, melainkan telah berkembang menjadi doktrin akidah yang menyimpang.

Syiah ekstrem seperti Rafidhah bahkan menolak keabsahan kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم, serta mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi ﷺ.

Sikap Ulama Salaf terhadap Syiah

1. Imam Malik bin Anas رحمه الله

Beliau berkata:

"Siapa yang mencela sahabat Nabi ﷺ, maka ia tidak memiliki bagian dalam Islam."

Ini menunjukkan bahwa mencaci sahabat—yang merupakan ciri khas Syiah Rafidhah—bukanlah perbedaan fiqh semata, tetapi pelanggaran terhadap fondasi keimanan.

2. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله

Beliau mengatakan:

"Tidak ada tempat bagi Rafidhah (Syiah ekstrem) dalam Islam karena mereka mencela sahabat Nabi dan mengkafirkan mereka."

Sikap ini menunjukkan bahwa ulama salaf tidak melihat Syiah sebagai bagian dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

3. Imam Syafi’i رحمه الله

Pernah berkata:

"Aku tidak pernah melihat ada kelompok yang lebih pembohong daripada Rafidhah."

Ucapan ini mencerminkan pandangan keras terhadap Syiah yang dikenal dengan konsep taqiyyah, yaitu menyembunyikan keyakinan demi keselamatan atau kepentingan strategis.

Al-Qur’an dan Hadits Menyangkal Ajaran Syiah

Allah ﷻ berfirman:

﴿ وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ﴾
"Orang-orang yang terdahulu masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya." (QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa sahabat Nabi adalah golongan yang diridhai oleh Allah. Maka, bagaimana mungkin seorang Muslim mengkafirkan orang-orang yang diridhai Allah?

Rasulullah ﷺ bersabda:

"لا تسبوا أصحابي، فوالذي نفسي بيده لو أنفق أحدكم مثل أُحدٍ ذهبًا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه"
"Jangan kalian mencela para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, jika salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan mampu menyamai satu mud atau setengah mud dari infak para sahabat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini membantah keyakinan Syiah yang meremehkan bahkan mencaci para sahabat.

Penyimpangan Akidah Syiah

Beberapa penyimpangan akidah Syiah yang menjadi sorotan para ulama salaf:

  • Imamah: Mereka meyakini bahwa para Imam dari keturunan Ali ma’shum (terjaga dari dosa), padahal keyakinan ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam bahwa tidak ada manusia yang ma’shum setelah Nabi Muhammad ﷺ.

  • Tahrif Qur'an: Sebagian kitab Syiah menyebut bahwa Al-Qur’an telah diubah oleh sahabat. Ini jelas kufur karena bertentangan dengan firman Allah:

    ﴿ إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴾
    "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya." (QS. Al-Hijr: 9)

  • Nikah Mut’ah: Syiah melegalkan nikah mut’ah, padahal Rasulullah ﷺ telah melarang dan mengharamkannya.

Kesimpulan

Pandangan para ulama salaf terhadap Syiah sangat tegas karena mereka tidak hanya menyelisihi dalam masalah cabang (furu’), tetapi juga dalam pokok-pokok agama (ushul). Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus waspada terhadap penyebaran Syiah yang sering menyusup melalui jalur budaya, sosial, dan bahkan pendidikan.

Menjaga aqidah yang murni dari penyimpangan Syiah adalah bentuk cinta kita terhadap Islam, Rasulullah ﷺ, dan para sahabatnya yang mulia.


(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: