Breaking News
Loading...

Bagaimana Pesantren Syiah Bisa Bertahan Dan Tanpa Konflik? (Terakhir Dari 2 Tulisan)

 =======
Sambungan … dari bag 1


Santri Syiah Bersekolah Di Sekolah Luar Pesantren

Para santri pesantren syiah Darut Taqrib juga menempuh jenjang pendidikan formal di luar pesantren, seperti di SMP N 6 Jepara, SMP Islam Jepara, SMK Islam Jepara, dan SMP Al- Ma’arif Jepara. Identitas mereka sebagai kaum Syi’ah juga sudah dikenal dan diterima secara baik oleh pihak sekolah. Seperti penuturan Ustad Muhammad Ali di bawah ini:

Sebagian santri sudah dikenal identitas ke-Syi’ah-annya oleh guru dan teman mereka. Dan itu tidak ada masalah. Selama ini tidak ada laporan dari santri yang mengalami kekerasan. Tapi gak tau juga. Mungkin sama anakanak santri mereka bersikap biasa saja. Tapi di belakang berbeda. Kan gak tau juga. Di Desa Kauman Bangsri, warga Syiah juga dekat dekat pemukiman warga Muhammadiyah. Aman-aman saja.

Dari pengakuan Mufid, salah satu santri darut Taqrib yang menempuh jenjang pendidikan formal di SMK Islam Jepara, identitas ke-Syi’ah-an tidak dipermasalahkan oleh teman-teman sebayanya. Sebagaimana siswa-siswi yang lain, ia juga diberi kesempatan yang sama untuk bergabung dalam kegiatan-kegiatan intra maupun ekstrakurikuler sekolah.


Bahkan, dalam hal praktik keagamaan, seperti shalat misalnya, ia dan teman-temannya sering bergantian menjadi imam. Artinya, jarang sekali terjadi konflik maupun tindakan intimidasi yang dilakukan oleh kelompok mayoritas (siswa Sunni) terhadap kelompok minoritas Syi’ah di sekolah. Meskipun demikian, masih ada satu atau dua orang yang bersikap kurang empatik.

Taqiyah Kepada Orang Sunni, Apakah Sunni Musuhnya

Mufid menceritakan: Kalau kebanyakan teman di sekolah, rata-rata bersikap baik. Tapi kadang ada juga yang kurang baik. Ngata-ngatain kalo saya Syiah, berarti beda dengan yang lain. Saya sekolah di SMK Islam. Di sana saya ikut organisasi kesiswaan. Jadi banyak kawan. Misalnya, dalam shalat jamaah. Kalau saya jadi makmum orang Sunni, saya ikut saja. Kadang saya juga jadi imam. Kalo makmumnya sudah kenal, saya tidak taqiyyah. Tapi kalau shalat jamaah dengan banyak orang yang belum kenal, saya taqiyyah.


Menumbuhkan Spirit Nasionalisme
Salah satu stigma yang dituduhkan kepada kelompok Syi’ah di Indonesia ialah isu tentang pendirian negara Islam sebagaimana yang pernah terjadi di Iran. ABI sebagai salah satu organisasi resmi Syi’ah di Indonesia menegaskan dalam buku Syiah Menurut Syiah bahwa mereka adalah bagian yang tak bisa dipisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meskipun tidak sedikit orang Syi’ah Indonesia yang belajar di Iran dan sekarang sudah kembali ke tanah air, bukan berarti melunturkan spirit nasionalisme mereka. Tidak tanggung-tanggung, mereka berani menjamin bahwa Syi’ah di Indonesia berbeda dengan Syi’ah Arab, Iran, atau Irak.

Syi’ah Indonesia sudah pasti berkarakter Indonesia dan berbudi pekerti Indonesia. Ketaatan kepada wali faqih yang sekarang dipegang oleh Ali Khamenei merupakan bentuk keterikatan keagamaan, bukan politik. Seperti juga orang Katolik di Indonesia berafiliasi kepada kepemimpinan Paus di Vatikan. Konsep wilayah al-faqih yang bersifat konsultatif. Apakah ini bagian dari taqiyah. Ini menjadi pertanyaan bagi kaum syiah sendiri. Mengingat wilayah faqih bagi orang syiah adalah perwakilan imam Mahdi mereka yang sedang bersembunyi dan belum muncul sampai saat ini. Toh kalau imam Mahdi mereka muncul, mereka pasti akan menjadi pembelanya dan tanpa melihat sekat batas Negara. Ini menjadi misteri ada apa dengan syiah yang masih menunggu imam besar mereka. Jika para tokohnya sudah merumuskan kosep wilayah faqih, apakah para pemeluknya di Indonesia memiliki manhaj sendiri??

KESIMPULAN

Tanda-tanda permusuhan antara Sunni dan Syi’ah seperti tidak terlihat di Jepara. Sebagai salah satu kantong Syi’ah di Indonesia, Jepara berbeda dengan daerah lain yang pernah dilanda konflik seperti Sampang, Bangil, atau Pekalongan. Interaksi sosial antara warga Sunni dan Syi’ah di Jepara berlangsung nyaris tanpa gesekan, bahkan dalam urusan ibadah. Meski terlihat sebetulnya ada dalam kasus santri syiah yang bersekolah umum dan dalam pergaulan dengan siswa sunni mengalami perlakuan berbeda karena ke syiah annya.

Keharmonisan Sunni-Syi’ah di Jepara ini tentu saja tidak lepas dari peran penting dakwah dan pendidikan Islam yang dilakukan oleh Ponpes Darut Taqrib Krapyak Jepara sebagai satu-satunya institusi pesantren Syi’ah dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan multikultural. Di antara terobosan-terobosan inklusif sebagai manifestasi praktik pendidikan multikultural tersebut antara lain berupa forum tabayyun terbuka. Melalui perjumpaan intensif antara kelompok Sunni dengan Syi’ah, sedikit banyak telah menggeser sudut pandang dan mengikis aneka macam praduga negatif.

Dialog konstruktif yang berisi penjelasan langsung dari dan oleh orang Syi’ah kepada orang Sunni semakin membuktikan bahwa kabar yang beredar di masyarakat tentang sesatnya Syi’ah sama sekali tidak benar.

Ternyata, Syi’ah Jepara memiliki pandangan inklusif, toleran, dan punya banyak kesamaan tradisi dengan ormas terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya, tawasul, ziarah kubur, dan pembacaan maulid al-Barzanji.

Selain membuka diri melalui forum tabayyun, Ponpes Darut Taqrib juga berupaya melakukan harmonisasi interaksi sosial yang inklusif. Seluruh jajaran pesantren, mulai dari pengasuh, ustad, dan santri, secara rutin menggelar kegiatan bakti sosial yang melibatkan masyarakat di sekitar pesantren.

Ketika lebaran Idul Fitri, mereka bekerja sama dengan Ketua RW setempat untuk membagikan paket sembako yang berisi beras, minyak goreng, dan gula. Tidak saja kepada masyarakat sekitar pesantren, keserasian hubungan juga dibangun oleh tokoh Syi’ah Jepara terhadap elit-elit agamawan. Salah satunya ialah kedekatan secara personal antara tokoh syiah Ustad Miqdad Turkhan sebagai Rois Syuriyah Ahlul Bait Indonesia (ABI) pusat yang juga pengasuh Ponpes Darut Taqrib dengan KH. Mashudi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jepara. Keduanya sering terlibat dalam forum-forum lintas agama yang bertujuan menumbuhkan iklim toleransi, kerukunan, dan perdamaian antar umat beragama.


Pengurus Ponpes Darut Taqrib tidak pernah berhenti menjalin relasi kepada pihak luar. Dalam konteks ini, bisa dilihat dari keaktifan salah satu pengurus pesantren dalam diskusi rutin “Malem Kemisan” yang diinisiasi oleh Jaringan Gusdurian Jepara, sebuah organisasi Islam moderat yang cukup aktif dalam berperan menyebarkan dan membangun toleransi, moderatisme, dan pluralisme di Jepara.

Muatan pendidikan multikultural selanjutnya yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan spirit nasionalisme pada santri. Bentuknya pun berbagai ragam. Seperti upacara bendera, tirakatan malem 17 Agustus, dan pernyataan sikap tentang penolakan terhadap segala wujud tindakan bernuansa radikal. Secara kelembagaan, Ponpes Darut Taqrib mengutuk keras aksi-aksi kekerasan, tindakan teror, dan segala bentuk laku yang mencerminkan paham radikal yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan mengatasnamakan agama.

Disarikan dari: Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Syi’ah, Ahmad Saefudin & Fathur Rohman dan beberapa makalah lainnya.






************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: