Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Dhammar – Koalisi militer Arab di Yaman mengatakan pihaknya membom sebuah pos militer pemberontak Syiah Hutsi pada Sabtu malam (31/08/2019) di Dhamar, selatan ibukota Sanaa, Yaman.

Di saat yang sama, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan penargetan “pusat penahanan” di Dhamar, lokasi yang menjadi target serangan koalisi. ICRC mengatakan pihaknya telah mengirim tim medis dan ratusan kantong mayat ke lokasi tersebut.

Koalisi yang dipimpin Arab Suadi itu dalam pernyataan resmi mengklaim bahwa serangan pada Sabtu malam tersebut menghancurkan sebuah situs milik Syiah Hutsi di Dhamar yang berisi gudang untuk menyimpan drone.

Menurut koalisi, lokasi itu juga berisi rudal pertahanan udara yang berbahaya. “Kami telah mengambil semua langkah pencegahan untuk melindungi warga sipil dalam proses penargetan Dhamar,” kata koalisi dalam pernyataannya di media resmi Saudi.

Untuk bagiannya, media TV corong pemberontak Syiah Hutsi “Al-Masirah” mengatakan bahwa koalisi, dengan tujuh serangan udara, menargetkan gedung tempat penahanan tawanan di Dhammar. Gempuran itu, kata Hutsi, menewaskan dan melukai puluhan orang.

Sampai saat ini, belum bisa diverifikasi dari sumber independen tentang jumlah korban tewas dan luka-luka akibat insiden tersebut.

Sebuah potongan video yang diperoleh AFP menunjukkan bangunan yang rusak berat, serta dua mayat di bawah puing-puing.

ICRC dalam sebuah tweet di akun resmi Twitter mengatakan bahwa pihaknya telah mengirim tim membawa persediaan medis yang mendesak, yang dapat merawat hingga 100 orang yang terluka parah dan membawa 200 kantong mayat ke Dhammar. Tim ini berangkat setelah serangan udara yang dikatakan menewaskan puluhan tahanan.

“Kami menanggapi laporan ini dengan sangat serius. Saya sedang dalam perjalanan ke Dhamar untuk melihat situasi,” kata Franz Rauchenstein, kepala delegasi ICRC di Yaman.

“Kami telah mengunjungi tahanan di situs ini sebelumnya, seperti yang kami lakukan di tempat lain sebagai bagian dari pekerjaan kami,” lanjutnya.

Sejak 2014, Yaman menjadi medan tempur antara pemberontak Syiah Hutsi yang didukung Iran dan pemerintah sah Yaman yang didukung koalisi Arab pimpinan Saudi. Sekira 10 ribu orang telah tewas dan lebih 56 ribu orang luka-luka, menurut organisasi kesehatan, sejak konflik meletus. Jumlah sebenarnya mungkin lebih.

Di lain itu, jutaan orang harus mengungsi untuk berlindung. Sampai saat ini, campur tangan negara-negara Arab belum memberi harapan pada Yaman. Kiblat.net

************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

0 komentar: