Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Sepuluh kelompok milisi Syiah Iraq yang didukung oleh Iran telah memperingatkan untuk mengusir pasukan asing dengan semua cara dan mengancam untuk bertindak melawan Perdana Menteri (PM) Iraq Haider al-Abadi atas beberapa keputusan terakhirnya.

Pada hari Selasa, 10 kelompok milisi Syiah mengeluarkan pernyataan bersama yang bersumpah untuk memerangi pasukan asing jika mereka tidak meninggalkan Iraq.

“Kami melihat kehadiran tidak sah dari militer asing di Iraq dengan mata marah,” kata pernyataan itu, dikutip laman berita Kurdistan24.

“Kami akan berurusan dengan mereka [pasukan asing di Iraq] sebagai pasukan pendudukan, dan kami akan menggunakan hak kami yang sah dengan menggunakan semua cara yang mungkin untuk memaksa mereka keluar dari negara itu,” ujar salah satu faksi milisi Syiah memperingatkan.

Mengacu pada keputusan terbaru Perdana Menteri Iraq, terutama setelah memecat Falih Fayyad sebagai Ketua Komite Hashd al-Shaabi (Popular Mobilization Forces/PMF), kelompok itu mengatakan akan menanggapi tindakan yang tidak bertanggung jawab seperti pengambilalihan institusi negara.

Kelompok-kelompok milisi meminta Partai Dawa Islam, dimana Abadi sebagai anggota, untuk membatasi perilaku beberapa pemimpinnya yang telah terlibat dalam konspirasi.

Mengenai pembentukan pemerintahan baru Iraq, pernyataan itu mengklaim ada “konspirasi kotor dan berbahaya yang dikuasai Anglo-Amerika untuk memaksakan sebuah koalisi jahat” pada rakyat Iraq dan membentuk pemerintahan lemah yang menerima perintah dari Brett McGurk,  Utusan Khusus  Amerika untuk koalisi global anti-ISIS.

Kelompok-kelompok milisi, yang menyebut diri mereka “kelompok-kelompok perlawanan” mengatakan siap menggagalkan konspirasi baru dengan segala cara untuk mempertahankan kepentingan rakyat dan proses demokrasi di Iraq.

Kelompok milisi Syiah, yang merupakan bagian dari Hashd al-Shaabi yang didukung Iran, terdiri dari Brigade al-Badr, Gerakan Jihad dan Konstruksi, Asaib Ahl al-Haq, Sayyid dari Batalyon Martir, Batalion Tentara Imam , Ansar Allah al-Awfiya, Saraya Ansar al-Aqeeda, Batalion Khurasani, dan Batalyon Imam Ali.

Hari Senin, (3/9/2018),  PM Iraq Haider al-Abadi mengumumkan rencana mengambil kendali langsung atas Hashd al-Shaabi setelah pemecatan komandan milisi itu, Faleh al-Fayyad, baru-baru ini.

Tahun lalu, Hashd al-Shaabi secara resmi dimasukkan ke dalam tentara Iraq meskipun ada tuduhan telah melakukan pelanggaran hak di bagian-bagian mayoritas Sunni negara di bawah kendalinya.

Seperti Nuri al Maliki, Abadi adalah politikus dari Partai Dawa Islam, salah satu blok politik terbesar Syiah saat ini. Basis kekuasaannya berasal dari mayoritas Syiah Iraq.

Ketika Saddam Husein berkuasa, Abadi pernah dipaksa ke pengasingan. Namun dia kembali ke kancah perpolitikan setelah Saddam digulingkan invasi Amerika Serikat pada 2003.

Abadi, yang berasal dari kelompok Syiah yang memimpin Iraq dalam perang tiga tahun melawan ISIS.

Reuters dalam laporannya menyebutkan Abadi mengambil alih kekuasaan Iraq pada 2014 dari pejabat sebelumnya, Nuri al-Maliki, sekutu dekat Iran. Hidayatullah.com

0 komentar: